janvier 05, 2010

Lagu Cinta Remaja asal Kanada: Comme des Enfants


Lagu lainnya yang, pada awalnya nggak terlalu membuat saya tertarik, tapi karena keseringan diputar, lama-lama menyita perhatian saya juga. Apalagi, lagu yang satu ini dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru asal Kanada yang masih muda banget. Namanya Béatrice Martin, dan usianya "baru" 19 tahun! Jadi, sekalian memperkenalkan pada pengunjung Parlez Français! dunia berbahasa Prancis dari salah satu kawasan frankofon lainnya, tepatnya dari Québec.

Kalau kalian simak dengan baik, logat bahasa Prancis yang diucapkan terdengar agak janggal dibandingkan bahasa Prancis yang biasa kalian dengar, mungkin di CCF atau di Prancis sendiri. Tapi, hal itu jadi keunikan lagu yang sangat meremaja ini, plus lirik lagu yang gampang dipahami. Lagu cinta, gitu...

Lagu berjudul "Comme des enfants" ini merupakan hits dari album perdana Béatrice Martin yang diberi titel Coeur de Pirate. Untuk mengetahui jauh lebih banyak tentang gadis yang sudah belajar piano sejak usia 3 tahun ini, dapat diklik di sini: Coeur de Pirate.

Di bawah ini saya tampilkan lagunya sekaligus lirik, kalau-kalau kalian agak kesulitan menangkap kata-katanya.





Alors tu vois, comme tout se mêle
Et du coeur à tes lèvres, je deviens un casse-tête
Ton rire me crie, de te lâcher
Avant de perdre prise, et d’abandonner
Car je ne t’en demanderai jamais autant
Déjà que tu me traites, comme un grand enfant
Nous n’avons plus rien à risquer
A part nos vies qu’on laisse de coté
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort

C’en est assez de ces dédoublements
C’est plus dure à faire, qu’autrement
Car sans rire c’est plus facile de rêver
A ce qu’on ne pourra, jamais plus toucher
On se prend la main, comme des enfants
Le bonheur aux lèvres, un peu naïvement
Et on marche ensemble, d’un pas décidé
Alors que nos têtes nous crient de tout arrêter

Il m’aime encore, et toi tu t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort

Encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime pas plus fort

Malgré ça il m’aime encore, et moi je t’aime un plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort

Lire la suite!

Manhattan-Kabul: Lagu Prancis tentang Konflik Rasisme dan Politik


Akhir-akhir ini ada beberapa lagu menarik yang sering diputar di radio lokal Prancis. Salah satunya yang langsung menyita perhatian saya adalah lagu terbaru Axelle Red, penyanyi bersuara unik, berjudul "Manhattan Kaboul". Memang sih tidak menyinggung-nyinggung tentang Prancis sama sekali, tetapi karena lagu ini dalam bahasa Prancis dan dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi top Prancis (selain Axelle ada Renaud), donc nggak ada salahnya 'kan lagunya saya tampilkan di sini ;).

Selain itu, lirik lagu ini sangat mudah ditangkap, dan ada beberapa kosakata pendek tapi "mengena" yang dapat kalian pelajari untuk menambah perbendaharaan kata. Simak saja deh videoklipnya yang sudah dibubuhi sous-titré alias syair di dalamnya.




Lagu ini sengaja dibuat untuk memperingati tragedi pemboman menara WTC di New York pada bulan September 2001. Ia mengisahkan tentang dua orang muda-mudi, satunya cowok asal Puerto Rico, tinggal di Manhattan, sebuah distrik super padat di New York yang memang dipenuhi para imigran--atau lebih tepatnya "pelarian", dari konflik-konflik yang melanda tanah air mereka. Satunya lagi cewek Afghanistan yang tinggal di Kabul.

Kedua muda-mudi ini berkeluh-kesah tentang peperangan yang tidak pernah berakhir, terutama perang fisik seperti yang terjadi di Afghanistan, bahkan "perang mendadak" yang menimpa New York, negeri yang dianggap tempat merealisasikan impian dan harapan perdamaian. Perang yang mengatasnamakan agama, negara, bangsa. Menurut saya pribadi, lagu ini juga mengandung banyak unsur sindiran terhadap Amerika Serikat ;).

Simak deh terjemahan bebas yang saya buat dari lagu tersebut:

Aku cowok bertubuh kecil dari Puerto-Rico
Sudah menyatu dengan kultur orang New York
Aku tinggal di gedung dari beton dan baja
Aku bekerja, sambil minum coke, atau nongkrong di kafe

Aku si gadis kecil Afghanistan
Di tanah seberang lautan
Aku nggak pernah dengar tentang Manhattan
Keseharianku ya perang dan penderitaan

Dua orang asing di kedua belahan dunia yang berbeda
Orang biasa, bukan orang penting, namun sayang
Terhempas dalam debu di bawah altar pemujaan
Gara-gara konflik yang tak pernah usai

Pesawat 747
Meledak di jendela kerjaku
Langitku yang biru jernih jadi berkabut
Gara-gara bom menghancurkan kotaku

So long! Selamat tinggal mimpiku tentang Amerika
Aku tak lagi menjadi "budak" para jahannam
Yang memaksakan pemerintahan tirani Islam
Apa mereka ini nggak pernah baca Al-Qur'an?

Aku kembali jadi debu tak berarti
Aku takkan menjadi orang penting di sini
Apakah negeri yang sangat kucinta ini,
Akan menjadi ajang bertarung dan pamer besi?

Atas nama Tuhan, atas nama agama
Perang-perang peradaban
Senapan, bendera, tanah air, bangsa
Memanfaatkan kita bak daging dan meriam semata



Lire la suite!

Tentang Zombi dan Voodoo


Kali ini, topik bahasan Parlez Français! agak syerreemm... . Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memperkenalkan kepada kalian tentang salah satu karya sastra dari ranah Frankofon, tepatnya Haiti. Dari situ kalian nantinya akan mengetahui asal-muasal kata "zombi" dan ilmu hitam voodoo (dalam bahasa Prancis disebut le vaudou). Pengarang yang akan saya perkenalkan adalah René Depestre, yang menulis "Mât de Cocagne", atau dalam bahasa Indonesianya sama dengan "Perlombaan Panjat Pinang". Loh, kok?


Perlombaan Panjat Pinang
Hehehe... ternyata perlombaan panjat pinang sudah lumayan mendunia, loh. Buktinya, permainan yang merakyat ini, tidak hanya terdapat di Indonesia saja, tetapi ada pula di Haiti, di beberapa negara kepulauan tropis lainnya seperti Polinesia, Amerika Latin, bahkan merambah hingga ke Eropa, termasuk Prancis. Dan dengar-dengar, asal-muasal permainan panjat pinang itu ya dari Indonesia! Jadi, kita patut bangga toh ;).



Di dalam novelnya René Depestre, dikisahkan seorang mantan senator bernama Henri Postel yang berpartisipasi dalam perlombaan panjat pinang demi melawan kepemimpinan rezim yang tengah berkuasa di Haiti, yang dikomandoi oleh sang diktator Zoochrate Zacharie. Latar periode waktu yang dikisahkan dalam kisah ini adalah tahun 1950-an, yang merupakan gambaran yang sama persis dengan keadaan yang sebenarnya terjadi di Haiti pada tahun-tahun tersebut. Rakyat Haiti hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan, dan salah satu hiburan mereka untuk "melupakan" keadaan tersebut adalah perlombaan tahunan panjat pinang, yang sebenarnya merupakan siasat sang diktator untuk semakin menancapkan kukunya sebagai satu-satunya pemegang tampuk kekuasaan negeri. Perlombaan panjat pinang merupakan sebuah metafora--kiasan--untuk mewakili sebuah kekuasaan yang sulit untuk digulingkan, melalui batang pohon palem (atau pinang) yang dilumuri minyak sehingga membuat para peserta kesulitan untuk mencapai puncak dan berisiko jatuh atau terluka bahkan mungkin mati.

Zombi dan Voodoo


Haiti pada kurun waktu yang sama dipimpin oleh seorang diktator bernama François Duvalier yang memberlakukan proyek "zombifikasi" atau zombification. Artinya, orang-orang yang berusaha melawan rezim yang berkuasa akan ditangkap oleh milisi (tentara) rezim, dan lalu "dicekoki" ramuan yang akan mematikan metabolisme kerja tubuh, sementara raganya tetap hidup. Jadi, mereka menjadi manusia-manusia "robot" yang akan gampang dikontrol semaunya, karena pikiran mereka kosong. Jadi, zombi di sini bukan mayat yang bangkit dari kubur seperti videoklip "Thriller" Michael Jackson ya ;). Ngomong-ngomong tentang ramuan, hal ini berkaitan dengan praktik ilmu voodoo yang sudah menjadi bagian dari tradisi negeri itu. Ilmu voodoo awalnya ditujukan untuk pembersihan jiwa, yang berasal dari praktik ritual rakyat Afrika bercampur dengan ajaran agama Katolik. Para budak belian yang dikirim ke "benua baru" Amerika, banyak yang dibuang ke Kepulauan Domingue--yang kini menjadi Haiti--dan di sanalah mereka mulai menyebarkan ilmu voodoo tersebut. Dalam pelaksanaan ritualnya, ilmu voodoo dipimpin oleh seorang dukun--bisa pria maupun wanita--yang melantunkan sebuah do'a pendek, mirip pantun, dan pada saat yang bersamaan ia membawa berbagai macam pernik seperti ayam jago, daun-daunan, telor, ramuan, yang akan di-"semburkan" ke pasiennya. Sang dukun berfungsi sebagai perantara yang menghubungkan si pasien dengan arwah leluhur.

Tentang Rezim Duvalier dan René Depestre

Duvalier yang di dalam novel diwakili oleh Zoochrate Zacharie, sebelum memegang tampuk kekuasaan merupakan sahabat karib René Depestre dan seorang dokter yang disegani. Namun, karena perbedaan warna kulit: Duvalier berkulit hitam murni, sementara René berdarah campuran (disebut mulâtre), mereka pun menjadi dua kubu yang saling berseteru. Ouais, ternyata tidak hanya di Afrika saja politik rasisme pernah eksis. Tapi bedanya, di Haiti justru orang-orang yang berusaha "dibasmi" adalah yang berdarah campuran seperti René. Saya pikir apa ini merupakan sebuah "upaya balas dendam" terhadap penindasan yang dilakukan orang-orang berkulit putih di seberang benua, ya... . Seperti halnya René, tokoh Postel yang pernah menjadi saingan Zacharie dalam percaturan politik juga berdarah campuran dan keluarga serta para pendukungnya diserang habis-habisan oleh tentara milisi. Lalu, Postel pun "dibuang" ke sebuah kawasan terpencil di kota Port-au-Prince, ibukota Haiti, menjadi penjaga toko kelontong, dan diawasi selama bertahun-tahun.

Novel-novel René Depestre selalu bercerita tentang zombifikasi, penindasan orang-orang berdarah campuran, dan kekalutan politik yang melanda negerinya. Ia pun sempat melarikan diri ke berbagai negara, termasuk Kuba di bawah pemerintahan Fidel Castro. Akhirnya, René mendapat suaka di Prancis sejak tahun 1978 hingga kini bersama keluarganya, dan bekerja untuk UNESCO.

Saya pernah bertanya pada profesor saya, apakah praktik zombifikasi masih terus diterapkan di Haiti? Profesor pun balik bertanya, "ça dépend, tu y crois ou pas?" (tergantung, kamu percaya nggak sama adanya zombifikasi?).

Lire la suite!

janvier 04, 2010

Coco Chanel: Disainer Wanita Pertama di Dunia

Pertama kali saya mendengar nama Coco Chanel adalah sewaktu saya masih kursus bahasa Prancis di CCF Jakarta zaman akhir tahun 90-an. Dari artikel tentangnya yang saya baca, saya jadi ngeh ternyata Coco, panggilan akrab si Chanel, inilah yang pertama kali di dunia menciptakan pakaian two-pieces (atasan blus atau kemeja, dan bawahan celana panjang atau rok) untuk wanita, serta "membebaskan" wanita dari paksaan untuk memakai korset!!


Coco Yang Pantang Menyerah

Coco Chanel bernama asli Gabrielle Bonheur Chanel, dilahirkan di Saumur, Prancis, pada tahun 1883, dari seorang ayah pedagang merangkap tukang jahit serta seorang ibu yang meninggal dalam usia muda. Gabrielle dan adik-adiknya ditelantarkan oleh ayahnya pada usia 15 tahun di sebuah panti asuhan, karena sang ayah ingin mencari peruntungan di "benua baru" Amerika. Tapi Gabrielle tidak terus-terusan bersedih hati, justru sebaliknya ia belajar bahwa ia harus dapat bertahan hidup secara mandiri tanpa ketergantungan pada orang lain; sehingga ketika ia dipekerjakan oleh seorang ibu-ibu penjahit di Moulins, ia pun belajar mengembangkan keahliannya itu dengan sungguh-sungguh.

Selain bekerja sebagai karyawan penjahit di butik, ia juga sesekali menyanyi di sebuah kafe di Vichy yang memperkenalkannya pada dunia pertunjukan, dan seorang pria pengusaha bernama Etienne Balsan. Gabrielle pun diberi julukan "Coco" gara-gara sering menyanyikan lagu karya Baumaine dan Blondelet berjudul Qui a vu Coco dans le Trocadéro?. Sempat tinggal selama setahun di kastil pemuda pemilik peternakan kuda tersebut, ia belajar hidup dan bergaul di kalangan haute-société, namun Coco nyaris putus asa tidak bisa meneruskan hobi menjahit dan meraih cita-citanya karena Etienne tidak pernah terlalu menggubris keinginannya itu. Untungnya, seorang pemuda homme d'affaire alias businessman kaya raya dari Inggris bernama Arthur Capel, yang juga teman Etienne, "melihat" bakat dan impian terpendam Coco, dan lalu memberinya modal untuk membuka sebuah butik di Boulevard Malesherbes, sebuah kawasan elit di Paris. Karya pertamanya, topi-topi bundar berpita segera mencuri perhatian banyak wanita kelas atas, suatu hal yang tidak pernah disangka-sangka Etienne. Sayang banget, memang, karena Coco sudah terlanjur jatuh cinta pada si pemuda Inggris yang lebih sering dipanggil "Boy", Etienne yang sejak awal sudah menaruh hati pada Coco akhirnya harus bertepuk sebelah tangan. Makanya, cowok-cowok, jangan pernah meremehkan harapan dan impian seorang cewek ya untuk membuat dia tertarik pada kalian, hehe...


Butik dan Parfum "Chanel No 5"


Karir Coco pun melaju pesat. Butik demi butik terus dibuka dan Boy selalu mendukung dan memberinya kucuran dana untuk mengembangkan bisnis jahit-menjahitnya itu. Sejak tahun 1915, Coco sudah menciptakan berbagai model pakaian, di antaranya pakaian bergaya sport yang praktis,jersey lorek-lorek biru putih a la pelaut, veste atau rompi berbahan tweed, pakaian santai untuk ke pantai yang longgar dan ringan a la pyjama, gaun cocktail selutut untuk pesta, kemeja beraksen kantong-kantong kecil di kedua sisi (tailleur orné des poches), bahkan gaun malam berwarna hitam tanpa kerah berlengan 3/4. Parfumnya yang paling dikenal publik di seluruh dunia hingga kini, Chanel No.5, tercipta atas inspirasi dari hubungan cintanya dengan seorang bangsawan Rusia, dalam kemasan yang mirip botol vodka. Coco memang banyak menjalin hubungan asmara yang singkat sejak ditinggal mati kekasih sejatinya, Boy, dalam suatu kecelakaan mobil. Selain gandrung pada model-model baju praktis a la Coco, banyak wanita yang juga ingin menjadi kurus seperti dirinya, sampai-sampai muncul istilah "maigres comme Coco" yang artinya kerempeng seperti Coco. Yang jelas Coco bukan korban bulimia-anorexia loh :).

Film-Film Tentang Chanel
Pada dua tahun terakhir ini saya amati sudah ada tiga film yang dibuat mengenai kisah hidupnya. Dua film untuk konsumsi layar lebar yang mengisahkan perjalanan hidup Coco pada masa muda (Coco Avant Chanel, dibintangi Audrey Tautou), dan kisah cintanya dengan seorang pianis Rusia, Igor Stravinsky, tidak lama setelah ditinggal mati Boy (Coco et Igor); satu miniseri untuk konsumsi pemirsa televisi, berjudul Coco Chanel, yang dibuat serta dibintangi oleh sineas dan aktris-aktor Italia! Dari ketiga film itu dapat ditangkap kesan sosok seorang Chanel yang kuat, yang saya rasa dari situlah muncul istilah femme indépendante, alias wanita pede yang mandiri dan tegar yang selalu optimis menghadapi masa depan.



Hingga akhir hidupnya, Coco yang tetap melajang (orang-orang memanggilnya "Mademoiselle Chanel") sudah menghasilkan ratusan jenis dan model pakaian untuk berbagai butiknya yang tersebar di Paris. Ia sempat agak kecewa dengan trend hippie yang melanda dunia pada akhir tahun 1960-an karena menurutnya membuat dunia mode kehilangan prestise dan keanggunannya. Ia meninggal dunia pada usia 87 tahun, dan dikuburkan di Lausanne, Swis.

* foto tailleur en tweed: elle.fr

Lire la suite!