janvier 05, 2010

Tentang Zombi dan Voodoo


Kali ini, topik bahasan Parlez Français! agak syerreemm... . Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memperkenalkan kepada kalian tentang salah satu karya sastra dari ranah Frankofon, tepatnya Haiti. Dari situ kalian nantinya akan mengetahui asal-muasal kata "zombi" dan ilmu hitam voodoo (dalam bahasa Prancis disebut le vaudou). Pengarang yang akan saya perkenalkan adalah René Depestre, yang menulis "Mât de Cocagne", atau dalam bahasa Indonesianya sama dengan "Perlombaan Panjat Pinang". Loh, kok?


Perlombaan Panjat Pinang
Hehehe... ternyata perlombaan panjat pinang sudah lumayan mendunia, loh. Buktinya, permainan yang merakyat ini, tidak hanya terdapat di Indonesia saja, tetapi ada pula di Haiti, di beberapa negara kepulauan tropis lainnya seperti Polinesia, Amerika Latin, bahkan merambah hingga ke Eropa, termasuk Prancis. Dan dengar-dengar, asal-muasal permainan panjat pinang itu ya dari Indonesia! Jadi, kita patut bangga toh ;).



Di dalam novelnya René Depestre, dikisahkan seorang mantan senator bernama Henri Postel yang berpartisipasi dalam perlombaan panjat pinang demi melawan kepemimpinan rezim yang tengah berkuasa di Haiti, yang dikomandoi oleh sang diktator Zoochrate Zacharie. Latar periode waktu yang dikisahkan dalam kisah ini adalah tahun 1950-an, yang merupakan gambaran yang sama persis dengan keadaan yang sebenarnya terjadi di Haiti pada tahun-tahun tersebut. Rakyat Haiti hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan, dan salah satu hiburan mereka untuk "melupakan" keadaan tersebut adalah perlombaan tahunan panjat pinang, yang sebenarnya merupakan siasat sang diktator untuk semakin menancapkan kukunya sebagai satu-satunya pemegang tampuk kekuasaan negeri. Perlombaan panjat pinang merupakan sebuah metafora--kiasan--untuk mewakili sebuah kekuasaan yang sulit untuk digulingkan, melalui batang pohon palem (atau pinang) yang dilumuri minyak sehingga membuat para peserta kesulitan untuk mencapai puncak dan berisiko jatuh atau terluka bahkan mungkin mati.

Zombi dan Voodoo


Haiti pada kurun waktu yang sama dipimpin oleh seorang diktator bernama François Duvalier yang memberlakukan proyek "zombifikasi" atau zombification. Artinya, orang-orang yang berusaha melawan rezim yang berkuasa akan ditangkap oleh milisi (tentara) rezim, dan lalu "dicekoki" ramuan yang akan mematikan metabolisme kerja tubuh, sementara raganya tetap hidup. Jadi, mereka menjadi manusia-manusia "robot" yang akan gampang dikontrol semaunya, karena pikiran mereka kosong. Jadi, zombi di sini bukan mayat yang bangkit dari kubur seperti videoklip "Thriller" Michael Jackson ya ;). Ngomong-ngomong tentang ramuan, hal ini berkaitan dengan praktik ilmu voodoo yang sudah menjadi bagian dari tradisi negeri itu. Ilmu voodoo awalnya ditujukan untuk pembersihan jiwa, yang berasal dari praktik ritual rakyat Afrika bercampur dengan ajaran agama Katolik. Para budak belian yang dikirim ke "benua baru" Amerika, banyak yang dibuang ke Kepulauan Domingue--yang kini menjadi Haiti--dan di sanalah mereka mulai menyebarkan ilmu voodoo tersebut. Dalam pelaksanaan ritualnya, ilmu voodoo dipimpin oleh seorang dukun--bisa pria maupun wanita--yang melantunkan sebuah do'a pendek, mirip pantun, dan pada saat yang bersamaan ia membawa berbagai macam pernik seperti ayam jago, daun-daunan, telor, ramuan, yang akan di-"semburkan" ke pasiennya. Sang dukun berfungsi sebagai perantara yang menghubungkan si pasien dengan arwah leluhur.

Tentang Rezim Duvalier dan René Depestre

Duvalier yang di dalam novel diwakili oleh Zoochrate Zacharie, sebelum memegang tampuk kekuasaan merupakan sahabat karib René Depestre dan seorang dokter yang disegani. Namun, karena perbedaan warna kulit: Duvalier berkulit hitam murni, sementara René berdarah campuran (disebut mulâtre), mereka pun menjadi dua kubu yang saling berseteru. Ouais, ternyata tidak hanya di Afrika saja politik rasisme pernah eksis. Tapi bedanya, di Haiti justru orang-orang yang berusaha "dibasmi" adalah yang berdarah campuran seperti René. Saya pikir apa ini merupakan sebuah "upaya balas dendam" terhadap penindasan yang dilakukan orang-orang berkulit putih di seberang benua, ya... . Seperti halnya René, tokoh Postel yang pernah menjadi saingan Zacharie dalam percaturan politik juga berdarah campuran dan keluarga serta para pendukungnya diserang habis-habisan oleh tentara milisi. Lalu, Postel pun "dibuang" ke sebuah kawasan terpencil di kota Port-au-Prince, ibukota Haiti, menjadi penjaga toko kelontong, dan diawasi selama bertahun-tahun.

Novel-novel René Depestre selalu bercerita tentang zombifikasi, penindasan orang-orang berdarah campuran, dan kekalutan politik yang melanda negerinya. Ia pun sempat melarikan diri ke berbagai negara, termasuk Kuba di bawah pemerintahan Fidel Castro. Akhirnya, René mendapat suaka di Prancis sejak tahun 1978 hingga kini bersama keluarganya, dan bekerja untuk UNESCO.

Saya pernah bertanya pada profesor saya, apakah praktik zombifikasi masih terus diterapkan di Haiti? Profesor pun balik bertanya, "ça dépend, tu y crois ou pas?" (tergantung, kamu percaya nggak sama adanya zombifikasi?).