janvier 04, 2010

Coco Chanel: Disainer Wanita Pertama di Dunia

Pertama kali saya mendengar nama Coco Chanel adalah sewaktu saya masih kursus bahasa Prancis di CCF Jakarta zaman akhir tahun 90-an. Dari artikel tentangnya yang saya baca, saya jadi ngeh ternyata Coco, panggilan akrab si Chanel, inilah yang pertama kali di dunia menciptakan pakaian two-pieces (atasan blus atau kemeja, dan bawahan celana panjang atau rok) untuk wanita, serta "membebaskan" wanita dari paksaan untuk memakai korset!!


Coco Yang Pantang Menyerah

Coco Chanel bernama asli Gabrielle Bonheur Chanel, dilahirkan di Saumur, Prancis, pada tahun 1883, dari seorang ayah pedagang merangkap tukang jahit serta seorang ibu yang meninggal dalam usia muda. Gabrielle dan adik-adiknya ditelantarkan oleh ayahnya pada usia 15 tahun di sebuah panti asuhan, karena sang ayah ingin mencari peruntungan di "benua baru" Amerika. Tapi Gabrielle tidak terus-terusan bersedih hati, justru sebaliknya ia belajar bahwa ia harus dapat bertahan hidup secara mandiri tanpa ketergantungan pada orang lain; sehingga ketika ia dipekerjakan oleh seorang ibu-ibu penjahit di Moulins, ia pun belajar mengembangkan keahliannya itu dengan sungguh-sungguh.

Selain bekerja sebagai karyawan penjahit di butik, ia juga sesekali menyanyi di sebuah kafe di Vichy yang memperkenalkannya pada dunia pertunjukan, dan seorang pria pengusaha bernama Etienne Balsan. Gabrielle pun diberi julukan "Coco" gara-gara sering menyanyikan lagu karya Baumaine dan Blondelet berjudul Qui a vu Coco dans le Trocadéro?. Sempat tinggal selama setahun di kastil pemuda pemilik peternakan kuda tersebut, ia belajar hidup dan bergaul di kalangan haute-société, namun Coco nyaris putus asa tidak bisa meneruskan hobi menjahit dan meraih cita-citanya karena Etienne tidak pernah terlalu menggubris keinginannya itu. Untungnya, seorang pemuda homme d'affaire alias businessman kaya raya dari Inggris bernama Arthur Capel, yang juga teman Etienne, "melihat" bakat dan impian terpendam Coco, dan lalu memberinya modal untuk membuka sebuah butik di Boulevard Malesherbes, sebuah kawasan elit di Paris. Karya pertamanya, topi-topi bundar berpita segera mencuri perhatian banyak wanita kelas atas, suatu hal yang tidak pernah disangka-sangka Etienne. Sayang banget, memang, karena Coco sudah terlanjur jatuh cinta pada si pemuda Inggris yang lebih sering dipanggil "Boy", Etienne yang sejak awal sudah menaruh hati pada Coco akhirnya harus bertepuk sebelah tangan. Makanya, cowok-cowok, jangan pernah meremehkan harapan dan impian seorang cewek ya untuk membuat dia tertarik pada kalian, hehe...


Butik dan Parfum "Chanel No 5"


Karir Coco pun melaju pesat. Butik demi butik terus dibuka dan Boy selalu mendukung dan memberinya kucuran dana untuk mengembangkan bisnis jahit-menjahitnya itu. Sejak tahun 1915, Coco sudah menciptakan berbagai model pakaian, di antaranya pakaian bergaya sport yang praktis,jersey lorek-lorek biru putih a la pelaut, veste atau rompi berbahan tweed, pakaian santai untuk ke pantai yang longgar dan ringan a la pyjama, gaun cocktail selutut untuk pesta, kemeja beraksen kantong-kantong kecil di kedua sisi (tailleur orné des poches), bahkan gaun malam berwarna hitam tanpa kerah berlengan 3/4. Parfumnya yang paling dikenal publik di seluruh dunia hingga kini, Chanel No.5, tercipta atas inspirasi dari hubungan cintanya dengan seorang bangsawan Rusia, dalam kemasan yang mirip botol vodka. Coco memang banyak menjalin hubungan asmara yang singkat sejak ditinggal mati kekasih sejatinya, Boy, dalam suatu kecelakaan mobil. Selain gandrung pada model-model baju praktis a la Coco, banyak wanita yang juga ingin menjadi kurus seperti dirinya, sampai-sampai muncul istilah "maigres comme Coco" yang artinya kerempeng seperti Coco. Yang jelas Coco bukan korban bulimia-anorexia loh :).

Film-Film Tentang Chanel
Pada dua tahun terakhir ini saya amati sudah ada tiga film yang dibuat mengenai kisah hidupnya. Dua film untuk konsumsi layar lebar yang mengisahkan perjalanan hidup Coco pada masa muda (Coco Avant Chanel, dibintangi Audrey Tautou), dan kisah cintanya dengan seorang pianis Rusia, Igor Stravinsky, tidak lama setelah ditinggal mati Boy (Coco et Igor); satu miniseri untuk konsumsi pemirsa televisi, berjudul Coco Chanel, yang dibuat serta dibintangi oleh sineas dan aktris-aktor Italia! Dari ketiga film itu dapat ditangkap kesan sosok seorang Chanel yang kuat, yang saya rasa dari situlah muncul istilah femme indépendante, alias wanita pede yang mandiri dan tegar yang selalu optimis menghadapi masa depan.



Hingga akhir hidupnya, Coco yang tetap melajang (orang-orang memanggilnya "Mademoiselle Chanel") sudah menghasilkan ratusan jenis dan model pakaian untuk berbagai butiknya yang tersebar di Paris. Ia sempat agak kecewa dengan trend hippie yang melanda dunia pada akhir tahun 1960-an karena menurutnya membuat dunia mode kehilangan prestise dan keanggunannya. Ia meninggal dunia pada usia 87 tahun, dan dikuburkan di Lausanne, Swis.

* foto tailleur en tweed: elle.fr