
Paris, kota tujuan wisata yang paling diimpikan untuk dikunjungi setiap orang dari seluruh dunia. Melihat la Tour Eiffel yang menjulang dengan anggun, atau sungai Seine yang membelah kota dan seolah-olah menjadi denyut jantung kota, ataupun istana Versailles yang membuat setiap orang lupa akan dunia nyata saat berada di dalamnya. Memang Paris juga dikenal sebagai kota yang paling merogoh kocek karena kemewahan dan ambiance glamornya, membuat berbagai fasilitas dan barang yang tersedia di sana terasa mahal. Tetapi hal ini bukan menjadi halangan buat kamu yang ingin pergi ke sana dengan bujet minim. Jalan-jalan ke Paris, pourquoi pas?
Untuk itu, kamu mesti tahu caranya merencanakan dan melakukan perjalanan ke Paris dengan modal sedikit, tapi masih bisa senang-senang dan menikmatinya. Nah, salah seorang kawan saya, Agung Basuki, membuat e-book khusus tentang info komplit jalan-jalan ke Paris. Melalui e-book yang berjudul Travel Hemat Paris dan tebalnya mencapai hampir 100 halaman ini, kamu bisa mendapatkan berbagai informasi dan tips penting untuk membantumu melakukan persiapan pra-keberangkatan, dan memandumu dalam berwisata hemat di sana. Informasi yang dimaksud seperti:
* referensi website yang bisa diandalkan untuk berwisata ke Paris
* saran pemilihan waktu yang sesuai untuk pergi ke Paris
* daftar fasilitas akomodasi dan penginapan bertarif hemat namun letaknya strategis di jantung kota Paris
* 10 tempat-tempat menarik dan unik yang mesti dikunjungi di Paris
* tips bagaimana memilih alat transportasi yang murah-meriah di Paris
* panduan shopping dan sekaligus rekomendasi tempat-tempat shopping terbaik di Paris
* alternatif transportasi menuju kota Paris yang tidak mengeluarkan banyak uang
Dalam e-book Travel Hemat Paris, juga tersedia informasi khusus yang teramat penting buat kamu seperti kriminalitas di Paris dan cara-cara menangkisnya plus sistem tata kota Paris yang berisi 20 distrik. Ada lagi tips-tips lainnya yang juga nggak boleh dilupakan, seperti:
* tips menyiasati keterbatasan berbahasa
* tips menemukan alamat di Paris
* tips menemukan dan memilih akomodasi murah-meriah di Paris
Oya, tidak lupa juga Agung menyertakan rute Travel Hemat Paris untuk durasi 1 hingga 3 hari dilengkapi dengan peta petunjuknya. Asyik banget, kan! Memang Agung ini mantap banget deh, soalnya dia sudah berkali-kali mengunjungi kota Paris dan bahkan pernah menetap di sana. Jadi, pengetahuannya tentang Paris dan bagaimana caranya dia bertahan hidup di sana sudah nggak perlu diragukan lagi.
Nah, berminat membeli? Harganya cuma Rp 100.000,00; dan apalagi, khusus buat kamu pembaca setia Parlez Français ada hadiah e-book Français Facile secara cuma-cuma! Ouais, jadi kamu bisa sekaligus mempersiapkan bahasa Prancis kamu, praktek sedikit-sedikit, biar nanti nggak kagok pas mau kenalan sama orang Prancis saat kamu jalan-jalan di Paris nantinya. Supaya kamu ingat apa isi e-book ini, bisa dibaca dengan mengklik E-book Français Facile.
Jadi, bagaimana cara memesan e-book Travel Hemat Paris-nya Agung, plus mendapatkan hadiah e-book Français Facile? Kamu tinggal mengklik link yang saya berikan ini: Travel Hemat Paris (ingat ya, supaya kamu dapat hadiahnya klik dari link itu agar saya bisa melacaknya), daftar nama kamu di sana, pesan, bayar, lalu e-booknya akan langsung dikirim ke alamat e-mail kamu. C'est facile, non ;). Oyaa... plus tambahan satu hadiah lagi, ada software game belajar angka-angka bahasa Prancis dari 1 sampai 100! Puas deh belajarnya :). Nah, tunggu apa lagi, pesan deh sekarang juga supaya kamu juga bisa langsung belajar dan mengatur siasat jalan-jalan ke Paris dari sekarang. Bon voyage, alors!
* Penawaran ini berlaku untuk selamanya, alias setiap kali kamu atau teman kamu membelinya dari link saya, maka kamu atau teman kamu itu berhak mendapatkan hadiah-hadiah tersebut di atas untuk seterusnya. Chouette!
août 28, 2008
Jalan-Jalan Hemat ke Paris, C'est Possible!
at
00:43
5
comments
Labels: voyage
août 25, 2008
Ratatouille, Makanan Prancis Yang Beralih ke Film
Ratatouille... ratatouille... nama unik yang bikin penasaran ini selalu bergaung di telinga saya. Apakah ada hubungannya dengan tikus ("rat" dalam bahasa Prancis bisa juga diartikan tikus), atau apa itu sejenis verba bahasa gaul atau istilah verlan (tapi dibolak-balik juga enggak nemu artinya), ata
u apa itu sejenis kata benda yang menggelikan (karena ada embel-embel "touille"-nya). Eh bien, dari hasil pencarian awal di internet melalui kamus online bahasa Prancis, saya menemukan bahwa ratatouille itu adalah nama sejenis makanan tradisional Prancis yang berasal dari Nice. Lengkapnya disebut ratatouille niçoise. Tetapi, ternyata saya juga menemukan bahwa Ratatouille adalah sebuah judul film animasi garapan studio Walt Disney yang mengambil tokoh-tokoh dan setting Prancis, serta masih ada pula hubungannya dengan makanan Prancis... dan tikus!
Ratatouille, "Side Dish"-nya Prancis
Kata ratatouille berasal dari daerah Occitan "ratatolha". Daerah Occitan yang dimaksud adalah kawasan Provence dan sekitarnya, terutama Nice. Ratatouille juga berasal dari kata dasar "touiller", yang artinya mengaduk makanan. Biasanya makanan ini dihidangkan pada musim panas dengan
memanfaatkan sayur-sayuran segar seperti tomat, paprika merah dan hijau, bawang bombay, bawang putih, dan courgette (sejenis timun). Bisa juga ditambah aubergine atau terong.
Ratatouille biasanya disantap sebagai hidangan sampingan atau makanan tambahan menu utama, tapi enggak dilarang juga disajikan sebagai menu sendiri yang ditemani roti atau nasi. Ada pula yang menjadikannya sebagai isi kandungan crêpe atau telur dadar alias omelette, namun bahan-bahannya dipotong kecil-kecil. Ada berbagai pendapat soal mengolah menu ratatouille ini. Sebagian mengatakan terong dan timun ditumis secara terpisah, sementara bumbu rempahnya seperti tomat, bawang bombay, bawang putih, paprika, dan rempah-rempah khas Provence dijadikan olahan saus. Tapi ada juga yang bilang semua bahan-bahan itu dicampur jadi satu dan ditumis bareng-bareng. Bon... bagaimana pun cara membuatnya, membayangkannya saja sudah bikin saya ngiler, hehehe!
Ternyata, di berbagai daerah di belahan dunia lainnya juga terdapat hidangan yang serupa dengan ratatouille ini. Misalnya di Filipina dikenal dengan nama pinakbet atau dinengdeng. Lalu, di Italia terkenal dengan nama caponata, dan di Turki disebut türlü. Namun di Venezia, ada ikan sarden atau anchovy sebagai campuran tambahannya. Beragamnya sebutan dan campuran bahan untuk ratatouille ini menginspirasikan seorang koki asal Amerika, Thomas Keller, membuat variasi kontemporer hidangan ini untuk film animasi Ratatouille yang diluncurkan pada tahun 2007 lalu.
Tikus Rémy dalam film Ratatouille
Ouais, Ratatouille juga merupakan judul film animasi yang diproduksi Pixar Animation Studio, "anak perusahaan"-nya Walt Disney. Tokoh utamanya adalah seekor tikus bernama Rémy yang sangat menggemari masakan Prancis. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya di loteng rumah seorang wanita pensiunan, Mabel, yang sudah berusia lanjut. Rémy adalah penggemar berat masakan Prancis, dan tidak seperti anggota keluarganya yang lain, dia bisa mencampur berbagai bahan makanan menjadi suatu hidangan yang lezat dan nikmat. Oleh karena itu, pada suatu hari, Rémy memberanikan diri untuk menyusup masuk ke dalam dapur restoran bintang lima di Paris, untuk "menilik" resep rahasia olahan sang koki ternama, Auguste Gusteau. Gusteau baru saja meninggal gara-gara dikritik oleh "lawan"-nya yang berpendapat bahwa semua orang bisa memasak.
Sayangnya, Rémy terpisah dari keluarganya ketika mereka berusah melarikan diri dari rumah Mabel, dan ia terperangkap di dalam gorong-gorong selokan. Setelah berhasil masuk ke dalam dapur, Rémy ternyata bertemu Linguini, seorang koki yang masih muda dan tidak berbakat memasak, yang ditugaskan membuat sup. Ia dipekerjakan di restoran itu karena ibunya dulu adalah mantan kekasih Gusteau. Tapi tiba-tiba, karena kelalaiannya, dengan sembarangan ia memasukkan segala jenis bahan ke dalam sup itu. Rémy yang melihat perbuatannya tergerak ingin membantunya, tetapi ternyata tidak semudah itu, karena ia harus berhadapan dengan Skinner, pimpinan koki yang baru yang sejak dulu tidak menyukai Gusteau. Skinner dari dulu berusaha mengenyahkan Linguini dengan segala macam upaya. Kira-kira, Rémy berhasil nggak ya menolong Linguini untuk tetap bekerja di restoran Gusteau, yang ternyata adalah ayah kandungnya.
Film yang disutradarai oleh Brad Bird ini mendapat tiga kali nominasi dalam Piala Oscar 2008, yaitu film animasi terbaik, musik dan lagu terbaik, serta skenario terbaik. Sementara itu, di ajang penyerahan piala Golden Globe 2008, Ratatouille mendapat penghargaan sebagai film animasi terbaik. Dalam film ini pula, Rémy menciptakan suatu hidangan ratatouille yang disebut "le Confit Byaldi" untuk dinilai para kritikus masakan. Le Confit Byaldi inilah yang sebenarnya merupakan variasi hidangan ratatouille kontemporer hasil "utak-atik" Thomas Keller, si koki Amerika di dunia nyata. Simak deh kerepotan para kru film dalam pembuatan film ini di video di atas.
Mau tahu resep-resep ratatouille lainnya? Coba deh Ratatouille au Micro-Ondes yang satu ini:
Persiapan : 15 menit
Tumis : 30 menit (dalam 3 kali)
Bahan-bahan :
- 3 timun
- 2 terong ukuran sedang
- 5 tomat
- 1 paprika
- 1 bawang bombay yang besar atau 2 butir bawang bombay ukuran sedang
- bawang putih
- daun parsley
- garam dan merica
- minyak zaitun
- cuka
Cara Membuat:
1). Kupas semua bahan sayuran, potong-potong terong dan ketimun menjadi kotak-kotak, dan paprika menjadi bentuk persegi.
2). Potong-potong tomat, dan iris kasar bawang bombay menjadi bentuk bundar. Kupas siung bawang putih.
3). Masukkan semua sayuran ke dalam microwave bersama-sama dengan bawang putih yang sudah dikupas, garam, dan merica.
4). Masak selama 10 menit dengan daya kekuatan maksimal. Aduk. 10 menit kemudian, aduk kembali, dan begitu seterusnya. Setelah itu tutup sampai airnya meresap.
5). Tambahkan tiga sendok makan minyak zaitun dan satu sendok teh cuka. Taburkan daun parsley yang sudah dirajang kasar.
Bisa disajikan hangat atau dingin.
(sumber: Recettes Incontournables)
* ratatouille dibaca ratatui
at
11:33
2
comments
Mengenal Sosok Christian Clavier
Aktor gaek satu ini sudah tidak asing lagi namanya di dunia perfilman Prancis. Dia juga bisa disejajarkan dengan Gérard Depardieu dalam kancah karir dan kepiawaian beraktingnya. Di Indonesia, mungkin kita lebih mengenalnya sebagai sosok pendekar bertubuh mungil dari desa Galia. Siapa lagi kalau bukan Astérix. Tapi, Christian Clavier bisa berperan sebagai apa saja, loh. Bahkan, karakter tokoh transeksual pun pernah dimainkannya.
Dilahirkan di Paris tanggal 6 Mei 1952, Christian Clavier sempat mengenyam pendidikan selama dua tahun di Institut d'études politiques de Paris, namun tidak diselesaikannya. Ia lebih tertarik mengasah kemampuan aktingnya dengan bergabung dalam kelompok teater Splendide, di mana ia pernah kebagian peran sebagai Katia, seorang waria yang sangat feminin. Lalu, sepanjang tahun 1975 hingga 1978, ia bermain dalam berbagai film.
Namun, namanya baru dikenal dalam film Les Visiteurs yang dirilis pada tahun 1993. Setelah itu, film-film yang dibintanginya selalu sukses, dan ia selalu dipasangkan dengan aktor-aktor hebat juga, seperti Jean Reno dalam L'Opération Corned-Beef, trilogi Les Visiteurs dan Gérard Depardieu dalam trilogi Astérix et Obélix.
Selain dalam film layar lebar, Christian Clavier juga sempat bermain untuk film miniseri televisi empat episode berjudul Napoléon bersama Isabella Rossellini dan John Malkovich, yang membuatnya dianugerahi gelar Chevalier de la Légion d'honneur pada tahun 2008. Penghargaan bergengsi ini diberikan sejak zaman Napoléon sendiri bagi warga Prancis yang membaktikan dirinya untuk militer dan negara Prancis. Selain penghargaan itu, Clavier juga disebut-sebut sebagai aktor ketiga termahal di Prancis dengan kekayaan sebesar 1,87 juta versi surat kabar Le Figaro tahun 2006. Tetapi, kekayaan dan prestasinya itu tidak disia-disiakannya dengan menjadi produser film melalui rumah produksi Ouille Productions.
Christian Clavier sempat menikahi Marie-Anne Chazel, yang juga seorang aktris, namun kini sudah bercerai dan memiliki satu anak perempuan.
Filmografi:
2009 La Sainte-Victoire de François Favrat
2008 L'Auberge rouge de Gérard Krawczyk
2007 L' Entente cordiale de Vincent de Brus
2006 Les Bronzés amis pour la vie de Patrice Leconte
2005 Antidote de Vincent De Brus
2004 L'Enquête corse de Alain Berberian
2004 Albert est méchant de Herve Palud
2003 Lovely Rita de Stéphane Clavier
2002 Asterix et obelix,mission Cleopatre d'Alain Chabat
2001 Les Visiteurs en Amérique de Jean-Marie Poiré
2002 Napoleon de Yves Simoneau
1988 Les visiteurs Les Couloirs du temps de Jean-Marie Poiré
1998 Asterix et Obelix contre César de Claude Zidi
at
10:54
0
comments
Labels: film
août 23, 2008
Astérix aux Jeux Olympiques: Penuh Aktor dan Tokoh Beken
Masih dalam kemeriahan suasana Olimpiade, Prancis ikut meramaikannya dengan meluncurkan film Asterix versi manusia (alias non-kartun) yang bertajuk Astérix aux Jeux Olympiques. Tapi, sayangnya pemutaran film Asterix yang terbaru di Indonesia sudah disulihsuarakan ke dalam bahasa Inggris, jadi agak-agak kurang greget kocaknya. Padahal, film Asterix kali ini dibanjiri bintang-bintang dan tokoh-tokoh beken di Prancis, loh! Selain aktor super kawakan Gérard Depardieu yang rutin memainkan peran Obélix, ada wajah-wajah "baru" (maksudnya yang belum pernah tampil di film-film Asterix sebelumnya), seperti Alain Delon yang berperan sebagai Julius Caesar, Clovis Cornillac, Jean-Pierre Cassel. Ada pula tokoh-tokoh terkenal Prancis yang sering seliweran di media massa Prancis dalam bidang keahlian mereka masing-masing, seperti petenis Amélie Mauresmo, pemain sepak bola Zinedine Zidane, bahkan pembalap "impor" Michael Schumacher!
Untuk membuktikan seberapa kocaknya film Asterix yang terbaru ini, simak saja teaser-nya pada video berikut:
Astérix aux Jeux Olympiques, atau dalam bahasa Indonesia disebut Asterix di Olimpiade, merupakan karya ketiga adaptasi naskah komik Asterix ke dalam film berjudul sama. Tapi, kali ini pemeran tokoh Asterix bukan lagi Christian Clavier, melainkan Clovis Cornillac. Alasannya sih karena Clavier mau peran-peran yang lebih serius (seperti baru-baru ini dia menjadi tokoh Napoléon dalam film serial berjudul sama). Walaupun sudah bertabur bintang, tapi disebut-sebut film Asterix yang satu ini kurang sarat humor dan miskin skenario. Di Prancis sendiri, dari jumlah penonton yang diharapkan sebanyak minimal 10 juta orang, ternyata dalam kurun waktu lima minggu 'hanya' bisa menarik kurang dari 7 juta orang penonton.
Film yang disutradarai Frédéric Forestier ini mengisahkan keinginan seorang pemuda asal desa Galia, Alafolix, agar dapat menikahi Puteri Irina yang juga ditaksir oleh Brutus, putera Julius Caesar yang licik. Untuk itu, Alafolix meminta bantuan Asterix dan Obelix untuk bisa memenangkan kejuaraan Olimpiade supaya Puteri Irina kepincut dan mau menikah dengannya. Yang menjadi masalah adalah, ternyata dalam mengikuti berbagai pertandingan yang digelar selama Olimpiade tersebut, para atlet dilarang berat untuk menggunakan doping alias obat penambah stamina. Ramuan ajaib Panoramix pun dianggap sebagai salah satu obat stimulan. Mau nggak mau, Asterix terpaksa terjun dalam kejuaraan tanpa menenggak jamunya sama sekali.
Film Asterix di Olimpiade diluncurkan di Prancis pada tanggal 30 Januari 2008, dan menghabiskan bujet sebesar 78 juta Euro! Konon, film ini disebut-sebut sebagai film termahal dalam sejarah perfilman Prancis. Sementara itu, untuk pengambilan setting desa Galia dilakukan di dalam hutan Fontainebleau. Untuk peluncuran versi DVD-nya diperkirakan tanggal 22 Agustus 2008, donc... moga-moga saja kita yang di Indonesia juga akan segera dapat menikmati versi bahasa Prancis-nya ya! Di sini saya berikan khusus untuk kamu trailer filmnya dalam bahasa Prancis. Selamat menonton!
* ramuan ajaib: potion magique
at
12:45
0
comments
Labels: film
Pengalaman Kuliah di Prancis: Dipanggil Mr.X
Mau tahu seperti apa rasanya kuliah S2 di Prancis tapi sama sekali belum bisa bahasa Prancis? Berikut salah seorang pembaca dan pengunjung setia Parlez Français!, Zulazmi, menuturkannya untuk kamu semua. Bonne lecture!
Saya ingin berbagi pengalaman waktu sekolah di Clermont Ferrand tahun 2003-2004 yang lalu. Saya dapat beasiswa untuk S2 dari JJWB Tahun 2003 untuk bidang Gestion de la Politique Economique (GPE) di Centre d’Etudes et de Recherches sur le Développement International (CERDI - CNRS), Université D’Auvergne. Semula saya ingin menolak tawaran ini dengan alasan saya sudah S2 dan bahasanya yang sangat susah (kuliah dalam bahasa Prancis). Namun beberapa teman bahkan univeristas penyelenggara meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa. Saya juga berkonsultasi sama beberapa dosen dari UGM dan mereka menyarankan saya untuk membawa buku-buku ekonomi politik dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Sebelum berangkat saya ikut kursus intensif di CCF Salemba kurang lebih satu bulan. Akhirnya dengan bismillah, saya berangkat dengan perasaan yang tak pasti.
Pertengahan September 2003
Saya mampir ke kota Vichy dulu untuk belajar bahasa. Sampai di bandara Charles de Gaulle, masih Subuh, mana dingin lagi, perasaan semakin resah setelah semua penunjuk arah dalam bahasa Prancis. Begitu juga ketika bertanya (coba praktek bahasa Prancis campur Inggris) petugasnya agak-gimana gitu, mungkin karena mendengar bahasa Prancis saya yang kacau. Akhirnya saya sampai juga di stasiun Gare du Nord. Dapat kenalan beberapa siswa dari Jepang untuk kekota sama yg ternyata senasib sama saya (bahasa Prancisnya engak ‘gablek’, begitu juga bahasa Inggris mereka). Barulah saya merasa bahwa ternyata saya tidak sendiri, rasa PD mulai pun timbul,hehe.
Sesampainya saya di kota Vichy, saya dijemput bapak kos, namanya Gérard yang walaupun usianya sudah setengah abad tapi masih kuat. Kebingungan mulai terjadi karena kosakata saya sangat terbatas. Namun dalam hati tertanam, “Saya harus bisa.” Malam pertama di Vichy terlampaui dengan baik, bapak dan ibu kost sangat baik sekali, makan malam sangat nikmat rasanya. Paginya setelah sarapan saya diantar Gérard ke sekolah bahasa. Tes penempatan, dapat di level 3, mulailah petualangan di mulai. Dengan umur yang sudah tidak muda lagi, saya berusaha keras untuk belajar bahasa. Kalau ada PR, bapak dan ibu kost selalu membantu (meskipun hasilnya tidak selalu benar). Saya kira tadinya ini hanya service awal dari mereka, ternyata selama 2 bulan saya tinggal dengan mereka saya merasa diperlakukan seperti anak mereka. Saya bebas untuk makan pagi dan malam sepuasnya, dan mereka membolehkan saya untuk mengambil makanan, bahkan es krim, sesuka saya. Yang lebih menyenangkan lagi, pakaian saya setiap seminggu sekali dicuci dan disetrika. Selang dua minggu di Vichy, bulan Ramadhan tiba. Françoise, ibu kos saya, selalu membuatkan penganan berbuka untuk saya .Begitu juga dengan sahur, saya tinggal memanaskan makanan yg ada di frigo.
Cara lain mempercepat pemahaman bahasa, hampir tiap malam di kampus ada "boîte de nuit", semacam pesta gitu deh. Di situ kita punya kesempatan berinteraksi dan sekaligus mempraktikkan bahasa Prancis kita. Biasanya saya mendatangi acara tersebut setelah mengerjakan pe-er, sekitar jam 10-an Tidak ada rasa takut jalan sendiri malam-malam di negeri orang kecuali takut keinjak kotoran anjing yg bertebaran dimana-mana. Masa dua bulan terlampaui, saya transfer ke Clermont, juga diantar Gérard dan Françoise. Tidak lupa mereka membawakan saya bekal untuk makan malam hari pertama.
November 2003 - November 2004
Saya mulai ikut kuliah regular. Dua minggu pertama rasanya mau nangis di kelas karna gak bisa menangkap dengan baik penjelasan sang profesor (sangat berbeda dengan kelas bahasa). Hampir semua teman sekelas berasal dari negara-negara Francophone dan mereka berlatar belakang ekonomi. Ada juga teman dari negara pecahan Rusia, Vietnam, Palestina dan Laos dan bahasa Prancis mereka juga lebih baik dari saya. Tapi semangat 45 masih menyala + teringat saran dari dosen UGM dan keluarga yg tinggal di Jakarta, saya mencoba memahami materi tersebut dengan buku teks perbandingan dlm bahasa Indonesia.
Mulanya saya gak gitu yakin, tapi setiap berdiskusi sama teman saya coba menjelaskan maksud bab tersebut, dan mereka bilang benar, maka proses selanjutnya saya selalu belajar dengan dua bahasa Prancis-Indonesia bahkan terkadang pake bahasa Inggris. Karena hanya saya sendiri yang bukan dari negara yg berbahasa Prancis, pihak kampus membolehkan saya membuat tugas-tugas maupun ujian dalam bahasa Inggris. Tapi, saya tetap mencoba menulis dalam bahasa Prancis (meskipun grammaire-nya saya yakin kacau), dan juga bahasa Inggris (ini kalau vocabnya sudah mentok). Cara lain yang saya lakukan dalam ujian adalah saya selalu menjawab ujian dengan menggunakan contoh kasus. Alhamdulillah, ternyata kalau kita mau mencoba dan bertanya, tidak ada hal yang begitu susah, dan saya dapat menyelesaikan pendidikan itu sesuai jadwalnya awal Desember 2004. Selama di Clermont, ibu kos saya setiap tiga minggu sekali datang menjenguk dengan membawakan makanan kesukaan saya, duhhhhh Allah nikmat-Mu tiada terkira.
Pengalaman unik lainnya yg saya dapat adalah waktu mengurus
CAF, seperti KTP gitulah. Karena s
aya hanya punya satu nama (nom-prénom gak jelas) maka kartu CAF saya tertulis Mr. Zulazmi X. Dan pengurus bâtiment apartemen selalu memanggil saya dengan sebutan Mr. X.
Jadi, menurut saya, sekolah di Prancis, sangat menyenangkan, namun semuanya tergantung persiapan kita secra fisik dan mental dan doa yang tidak pernah henti.
Sekarang saya kerja di ujung barat Indonesia, kalau rasa kangen dengan bahasa perancis datang, maka salah satu cara menlepas kangen itu saya mengakses website parlezfrancais ini.
Zulazmi (alamat e-mail ada pada redaksi Parlez Français!)
* frigo: kulkas, lemari es
* CAF: Carte d'allocations familiales
* bâtiment: gedung
* nom-prénom: nama belakang-nama depan
at
11:34
8
comments
Labels: étudier en France



