Fenomena multikulturalisme tidak hanya beken di Indonesia, tetapi juga di Prancis. Semenjak kedatangan para imigran Arab ke negerinya Napoléon Bonaparte pada akhir abad ke-19, Prancis tidak lagi dihuni oleh bangsa kulit putih saja.
Kalangan imigran yang sebagian besar berasal dari Aljazair dan Maroko mendiami negeri itu untuk bekerja, dan akhirnya memiliki keturunan di sana, sehingga turut memperkaya keberagaman etnis penduduknya selain etnis lokal seperti Korsika, Normandia, dan Bretonne. Namun, sebagaimana halnya dengan etnis Tionghoa yang pernah mengalami konflik dengan pribumi di Indonesia, kehadiran para imigran asing ini menimublkan masalah: diskriminasi sosial dan politik.
Sejarah Multikulturalisme di Prancis
Apa sebenarnya multikulturalisme yang dimaksud dalam pandangan Prancis? Menurut definisi yang diberikan oleh situs pemerintah Prancis, multikulturalisme adalah salah satu cara yang mungkin untuk menyatukan penduduk imigran ke dalam masyrakat dalam kehidupan politik maupun hidup berkebangsaan.
Magali Morel, peneliti di bidang sejarah Prancis dan etnologi yang dulu pernah menjadi pengajar di UI, mengatakan bahwa jika kita runut dari sejarahnya hingga awal abad ke-20, status negara-negara di sbagian besar wilayah Afrika Barat dan Utara, termasuk Aljazair dan Maroko, masih dalam kekuasaan atau koloni Prancis. Seiring terjadinya Perang Dunia I dan II, banyak tentara dibutuhkan untuk membantu Prancis melawan kependudukan Jerman, termasuk para tentara dari negara-negara koloninya tersebut.
Pasca perang, Prancis banyak membutuhkan tenaga kerja kasar untuk membangun kembali negerinya yang porak poranda, sehingga semakin banyak imigran yang datang ke negeri itu untuk bekerja, kemudian menetap di sana. Kakek moyangnya Magali juga termasuk salah seorang imigran yang dimaksud. Kemudian, sejak dikeluarkannya UU tentang penggabungan keluarga (Regroupement Familial), para imigran ini memboyong istri mereka dan sekaligus melahirkan anak di sana, sehingga komposisi penduduk Prancis tidak hanya warga Prancis asli maupun para imigran, melainkan juga warga Prancis keturunan yang dijuluki oleh orang Prancis sebagai ‘les beurs’. Di samping itu, ada pula para imigran yang masuk ke Prancis melalui jalur ilegal dan tidak memiliki kewarganegaraan yang sah.
Konflik Sosial Karena Perbedaan Etnis
Tidak seperti kebanyakan warga Prancis keturunan yang bekerja di kategori sosioprofesional seperti dokter, wartawan, dosen, atau kelas menengah seperti pedagang, buruh, dan pegawai negeri; para imigran gelap ini bekerja di sektor kegiatan yang ilegal pula, karean tidak adanya kepemilikan surat izin tinggal. Mereka ini rata-rata tinggal di daerah kumuh pinggiran kota (disebut banlieue), seperti di kawasan Île de la Cité di Paris, yang memiliki banyak kasus kriminalitas dan angka pengangguran yang tinggi.
Para imigran yang masih menggunakan nama asli mereka (terutama Arab), seperti Abdel Aziz El-Malik atau Farida Hachim, misalnya, dipersulit untuk mendapatkan pekerjaan ataupun mencari hunian tempat tinggal. Bahkan mereka juga tidak dapat memasuki kelab-kelab malam dengan mudah, tidak seperti teman-temannya yang bernama asl Prancis seperti Frédéric Durand atau Émilie Dupont. Kesulitan ini kemudian diperparah dengan kebijakan kuota yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Prancis pada saat itu (sekarang menjabat sebagai Presiden), Nicolas Sarkozy, yang meniru model kebijakan politik kuota Amerika, the zero tolerance. Kasus lainnya yang cukup mengkhawatirkan adalah kenakalan remaja di kalangan anak-anak para imigran itu (disebut les délinquances), karena kesulitan mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara dengan penduduk asli Prancis.
Lain halnya dengan penduduk imigran dari Asia. Magali yang pernah lama tinggal di Indonesia sebagai pengajar UNS dan UNJ ini mengatakan bahwa para imigran dari Asia, terutama Cina, memegang peranan cukup penting dalam sektor perdagangan di kawasan administratif ketigabelas XIIIe arrondissement) terkenal dengan toko-toko yang menjual berbagai produk khas Asia, seperti les frères Tang. Selain itu, di sana juga banyak terdapat restoran Cina.
Solusi: Konsep Republiken
Lantas, usaha apa yang sedang dilakukan pemerintah Prancis untuk menyatukan para imigran itu dengan penduduk asli Prancis? Masih menurut situs internet yang sama, Prancis menyadari bahwa persatuan dan kesatuan nasional seharusnya menghormati perbdaan kebudayaan yang dibawa dari luar, yang justru dapat memperkaya kebudayaan Prancis itu sendiri. Oleh karena itu, usaha penyatuan tidak dilakukan secara paksa dengan menghilangkan ciri khas kebudayaan yang asli, melainkan melalui pembauran secara bertahap yang saling memberi dan menerima dalam suatu wadah masyarakat yang menganut konsep républicain: liberté, égalité, fraternité. *** (buletin Bonjour IKABIS edisi Januari 2005)
mars 20, 2008
Multikulturalisme a la Prancis: Menghormati Perbedaan Kultur Sesuai Konsep Republiken
at
16:24
3
comments
Mengenal Abdou Diouf
Sekjen OIF (Organisation Internationale de la Francophonie) saat ini adalah Abdou Diouf, mantan presiden Republik Senegal pada dasawarsa 80-an, yang dipilih melalui Konferensi Puncak Negara-Negara Frankofon IX di Beirut pada tanggal 20 Oktober 2002, menggantikan Boutros-Boutros Ghali.
Ia mendapatkan pendidikan dasar di Saint Louis, kemudian melanjutkan ke bidang hukum di Universitas Dakar. Diouf memperoleh ijazah sarjananya dari École Nationale de la France d’Outre Mer pada tahun 1960.
Karirnya dimulai pada usia 25 tahun sebagai pejabat tinggi, kemudian menjadi Direktur Kerjasama Teknis Internasional, Sekjen Kementerian Pertahanan, dan Gubernur daerah Sine-Saloum. Pada tahun 1963, Abdou Diouf menjabat sebagai pemimpin kabinet Presiden Léopold Senghor, kemudian menjadi Sekretaris Kepresidenan pada tahun 1964. Selanjutnya, posisi Menteri Perencanaan dan Perindustrian pun dipegangnya sejak 1968 hingga 1970.
Sebelum diangkat menjadi Presiden Republik Senegal menggantikan Senghor pada Januari 1981, Diouf menjabat sebagai Perdana Menteri sejak tahun 1970. Selama masa pemerintahannya, ia menjalankan program politik terbuka multipartai, liberalisasi progresif ekonomi dan politik desentralisasi.
at
16:08
0
comments
Labels: histoire
Hari Internasional Frankofon
Perayaan Hari Internasional Masyarakat Penutur Bahasa Prancis (La Journée Internationale de la Francophonie), atau disebut juga Hari Internasional Frankofon, dilaksanakan setiap tanggal 20 Maret oleh negara-negara penutur bahasa Prancis di seluruh dunia.
Mereka tergabung dalam suatu institusi yang menamakan dirinya sebagai organisasi internasional masyarakat penutur bahasa Prancis, atau OIF (Organisation Internationale de la Francophonie), yang didirikan berdasarkan kesamaan bahasa dan nilai-nilai yang dianut. Organisasi ini beranggotakan 51 negara dan lima negara pengamat yang bermarkas di Paris dan diketuai oleh Abdou Diouf sebagai Sekretaris Jenderal.
Negara-negara anggota OIF tersebar di lima benua, dengan total penduduk mencapai 500 juta jiwa. Jumlah ini mewakili seperempat jumlah anggota negara yang tergabung dalam PBB. Kegiatan OIF bergerak di bidang pencegahan konflik dan penataan pasca-konflik, HAM, demokrasi, pendidikan, kebudayaan dan pembangunan. Untuk itu, OIF bertumpu pada Agence Intergouvernementale de la Francophonie sebagai operator utama pelaksana kegiatannya.
Selain itu, kegiatan OIF juga didukung oleh Agence Universitaire de la Francophonie (AUF), Université Senghor d’Alexandrie, Association Internationale des maires francophones (AIMF), dan TV5 sebagai operator langsung yang menyediakan wadah serta informasi untuk studi dan penelitian bagi negara-negara anggotanya. Informasi yang dimaksud terkait dengan kebudayaan, olahraga, film yang berhubungan dengan Prancis, dan negara-negara yang menggunakan bahasa Prancis.
Tanggal 20 Maret dicanangkan sebagai Hari Frankofon untuk memperingati penandatanganan kesepakatan pendirian Agence de Coopération Culturelle et Technique (ACCT) pada tanggal yang sama di tahun 1970, yang kini bernama Agence Intergouvernementale de la Francophonie sebagai operator utama kegiatan OIF.
Di Jakarta, 16 negara anggota dan negara pengamat OIF diwakili oleh Kedutaan Besar Belgia, Bulgaria, Kamboja, Kanada, Mesir, Prancis, Laos, Libanon, Maroko, Polandia, Ceko, Rumania, Slovakia, Swis, Tunisia, Vietnam. Setiap tahunnya, kedutaan-kedutaan tersebut berkumpul untuk merayakan Hari Internasional Frankofon.
at
15:51
0
comments
mars 03, 2008
Marion Cotillard: Bukan Anak Kemarin Sore

Kalau selebritis yang satu ini, pastinya membuat bangga masyarakat Prancis. Walaupun saya tidak tahu juga sih bagaimana komentar teman-teman Prancis saya: apakah tetap adem-ayem seperti saat menghadapi pemberitaan media tentang Sarkozy-Bruni, atau justru bersemangat seperti pada waktu Prancis memenangkan Piala Dunia. Yang jelas, Marion Cotillard telah mencetak prestasi luar biasa di kancah perfilman internasional dengan menorehkan namanya di ajang penghargaan Academy Awards pada akhir Februari 2008 ini.
Dibanding rekan-rekan muda senegaranya yang juga go international seperti Audrey Tautou dan Gaspard Ulliel, Cotillard sudah jauh lebih lama dikenal oleh publik Prancis dengan sederet film-film sukses yang dibintanginya, antara lain Les Jolies Choses, Taxi 3, Big Fish, Un long dimanche de fiançailles, dan lain-lain. Namun, pertama kali saya melihat Cotillard dan langsung ‘tersedot’ oleh kepiawaiannya berakting adalah dalam film Jeux d’Enfants dan Toi et Moi.
Sophie dan Lena, Dua Karakter Yang Berbeda
Berperan sebagai gadis periang dan lincah bernama Sophie Kowalski, Cotillard berpasangan dengan Guillaume Canet (masih ingat pemeran pacar Françoise di film The Beach yang kemudian menjadi rival Leonardo diCaprio?) dalam sebuah komedi romantis berjudul Jeux d’Enfants yang dirilis pada tahun 2003. Di film ini, Cotillard atau Sophie bersahabat sejak kecil dengan Julien, dan lalu persahabatan ini tumbuh menjadi rasa cinta yang terjalin antara keduanya. Namun, ayah Julien tidak menyetujui hubungan mereka karena menganggap Sophie telah merusak perilaku anaknya menjadi berandalan. Walaupun begitu, Sophie tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan cintanya, bahkan sampai-sampai ia menggagalkan pernikahan Julien dengan tunangannya, di hadapan ayah Julien sendiri di dalam gereja! Yang unik, di film ini Sophie dan Julien selalu bertaruh apakah salah satu dari mereka berani menjawab tantangan yang diberikan oleh sahabatnya sendiri, dengan melontarkan kata-kata yang khas, “Cap ou pas cap?” (maksudnya, capable ou pas capable, yang artinya kira-kira, ‘lo berani nggak jawab tantangan gue?’). Misalnya sewaktu Sophie menghadapi ujian SMA, Julien menantangnya untuk mengenakan pakaian dalam di hadapan guru-gurunya, dan hasilnya biar nggak dibilang kalah,... Sophie datang ke sekolah mengenakan pakaian dalam di luar t-shirt dan celana panjangnya, yang tentu saja, menjadi bahan tontonan semua orang! Kebiasaan tantang-menantang ini terus berlanjut bahkan hingga Julien terpaksa memboyong Sophie ke tengah rel kereta api, karena ia merasa marah harus menghadapi tantangan sahabatnya itu pada upacara pernikahannya sendiri. Namun, Julien memang tidak bisa menolak kenyataan bahwa ia pun masih menyayangi Sophie.
Sebaliknya, dalam Toi et Moi, Cotillard berperan menjadi seorang gadis pemain cello yang berbakat namun sangat pemalu. Walaupun sudah punya kekasih yang tinggal serumah dengannya, Lena, begitu nama peran yang dibawakan Cotillard ini, naksir dengan seorang violis solo dalam kelompok orkestranya. Untungnya, si pemuda violis ini juga sama-sama naksir, dan mengajak Lena untuk menjalin hubungan lebih intim secara diam-diam, walaupun akhirnya diketahui juga oleh kakak Lena, Ariane. Di film ini, kakak Lena diperankan oleh Julie Depardieu yang mendapat porsi lebih menonjol sebagai seorang penulis serial bergambar di majalah wanita.
Karir Film dan Kehidupan Cinta
Ternyata, sebelum memenangkan Oscar tahun ini untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik sebagai Édith Piaf dalam La Vie en Rose, Cotillard telah meraih banyak sekali penghargaan untuk karirnya di dunia film. Penghargaan-penghargaan tersebut antara lain adalah ‘Best Actress’ dalam Newport Beach Film Festival tahun 2004 untuk perannya dalam film Jeux d’Enfants, ‘Meilleure Actrice dans un Second Rôle’ dalam prix du César tahun 2005 untuk peran Tina Lombardi dalam film ‘Un long dimanche de fiançailles’, dan Trophée Chopard dalam Festival Film Cannes tahun 2004. Selain bermain dalam film-film Prancis, Cotillard juga pernah main bareng Russel Crowe untuk film berbahasa Inggris A Good Year tahun 2006 garapan sutradara Ridley Scott.
Untuk urusan cinta, kabar yang tersebar belakangan ini di Prancis adalah bahwa cewek kelahiran 30 September 1975 ini tengah berpacaran dengan lawan mainnya sendiri dalam Jeux d’Enfants. Siapa lagi kalau bukan Guillaume Canet ;). Bahkan, gosip ini katanya sama hangatnya dengan gosip Brad Pitt-Angelina Jolie di Hollywood! Tetapi, selama ini sih Cotillard selalu terlihat jalan sendiri, termasuk pada saat acara penyerahan Piala Oscar kemarin.
Bon, yang penting, kita tunggu saja kabar-kabar terbaru dari Cotillard, terutama film-film terbarunya. Konon ia sudah kebanjiran banyak tawaran main di Hollywood. Bonne chance, Marion!
at
09:58
1 comments
Labels: film
Sarkozy – Bruni : Selebritis di Panggung Politik Prancis
Bagi kamu yang tinggal di Prancis atau daratan Eropa sana tentunya tahu gosip santer mengenai hubungan Nicolas Sarkozy, presiden Prancis, dengan penyanyi berdarah Italia Carla Bruni. Presiden nyentrik ini baru saja melangsungkan pernikahannya yang ketiga dengan mantan model tersebut pada tanggal 2 Februari 2008 yang lalu. Pernikahan itu berlangsung tanpa siaran besar-besaran, alias sebuah upacara tertutup untuk kawan-kawan dekat dan keluarga saja, di istana kepresidenan Champs-Élysées, Paris, dan disahkan oleh walikota Paris, François Lebel.
Carla Bruni, Model Beralih ke Penyanyi
Wanita cantik yang dikenal suka berganti-ganti pasangan ini, adalah cucu tiri sekaligus pewaris perusahaan terkenal asal Italia (kini bernaung di bawah nama dagang Pirelli), Virginio Bruni Tedeschi. Dilahirkan di Torino pada tanggal 23 Desember 1967 dari rahim seorang pianis bernama Marysa Borini, Bruni diboyong ke Prancis bersama keluarganya demi menghindari ancaman penculikan kelompok Brigade Merah yang beraliran Marxis-Leninis, dan dibesarkan di sana. Sempat mengenyam pendidikan di sebuah sekolah berasrama di Swis, ia kembali ke Paris untuk mempelajari arsitektur dan seni walaupun akhirnya ditinggalkan karena memutuskan untuk menjadi model.
Pada usia 19 tahun, Carla Bruni memulai karirnya di bawah agen City Models, dan kemudian menarik perhatian Paul Marciano, presdir Guess?Incorporated, untuk menjadi ikon produk Guess? jins. Tidak lama setelah itu ia pun dikontrak untuk rumah-rumah mode internasional seperti Christian Dior, Paco Rabanne, Christian Lacroix, Yves Saint-Laurent, Coco Chanel, dan banyak lagi. Selama periode tahun 1990-an, Carla Bruni merupakan salah satu di antara deretan supermodel dunia termahal dengan pendapatan mencapai 7,5 juta dolar setahunnya. Selama menjalani karir sebagai model itulah ia mengencani banyak selebritis tenar seperti Mick Jagger, Eric Clapton, bahkan pengusaha Donald Trump, hingga mantan perdana menteri Prancis Laurent Fabius.
Walaupun modeling telah membesarkan namanya, Bruni memutuskan untuk pindah jalur ke dunia musik pada tahun 1997. Albumnya laris-manis di pasaran Eropa, seperti Quelqu’un m’a dit sebagai album debut pada tahun 2002 atas campur tangan Julien Clerc dan Louis Bertignac (salah satu mantannya juga), lalu Those Little Things untuk terjemahan lagu karya Serge Gainsbourg “Ces Petits Riens”, dan album kedua pada Januari 2007 bertitel No Promises. Album ketiga direncanakan akan dirilis pada musim gugur tahun 2008.
Memulai Hidup Baru dengan Sarkozy
Bruni yang telah memiliki seorang anak laki-laki bernama Aurélien, dari hasil hubungannya dengan Raphaël Enthoven, seorang profesor dan dosen filsafat, ‘tertangkap basah’ oleh para fotografer ketika sedang berduaan dengan presiden baru Prancis pada akhir tahun 2007 di Disneyland Resort Paris. Selain itu mereka juga menjadi sasaran empuk para paparazzi selama menjalani liburan bersama di Mesir dan Yordania pada liburan Natal. Pada waktu itu, Sarkozy baru bercerai dari istri keduanya, Cecilia, yang telah dinikahinya selama 11 tahun.
Bruni pernah mengaku dalam sebuah wawancara untuk majalah Madame Figaro, bahwa ia tidak menyukai kehidupan monogami, dan merasa cepat bosan dalam menjalin hubungan cinta. “Je m’ennuie follement dans la monogamie,” begitu tandasnya. Mungkin karena itulah hubungannya dengan pria-pria sebelum Sarkozy tidak pernah bertahan lama. Bahkan, ketika ia tengah menjalani hidup bersama dengan Jean-Paul Enthoven, ia malah menyeleweng dengan putranya sendiri yang beristrikan seorang penulis novel Justine Lévy, dan membuahkan seorang anak yang sudah disebutkan di atas, yaitu Aurélien. Namun, apakah ia akan bisa bertahan dengan Sarkozy dalam suatu ikatan pernikahan? On verra…
Komentar Teman-Teman Prancis tentang Sarkozy-Bruni
Yang menarik, ketika saya menanyakan pendapat teman-teman Prancis saya mengenai hubungan Sarkozy-Bruni yang digencarkan oleh berbagai media massa, justru mereka bersikap adem-ayem alias biasa-biasa saja. “Lantas kenapa?” begitu tanya mereka. “Itu urusan mereka sendiri, saya tidak peduli. (Je m’en fous!). Yang penting negara kami tetap aman dan kami masih bisa beraktifitas dengan tenang.” Hhm… kalau di Amerika Serikat, hubungan yang pernah terjadi antara Clinton dan Lewinsky saja bisa menggemparkan dunia, tetapi kisah cinta yang terjalin antara Presiden Prancis dengan seorang artis beken tidak ditanggapi dengan heboh oleh sebagian masyarakatnya sendiri. Apakah karena status mereka yang sama-sama ‘sendiri’ sehingga tidak bisa dikatakan skandal, atau karena cara berpikir dan pola hidup yang dianut masyarakatnya sangat jauh berbeda? Yang pasti, ini menjadi suatu pelajaran baru buat saya. Bagaimana dengan kamu? * * *
at
09:38
0
comments
Labels: culture
Quelqu'un m'a dit - Carla Bruni
On me dit que nos vies ne valent pas grand chose
Elles passent en un instant comme fanent les roses.
On me dit que le temps qui glisse est un salaud
Que de nos chagrins il s'en fait des manteaux
Pourtant quelqu'un m'a dit...
{Refrain:}
Que tu m'aimais encore
C'est quelqu'un qui m'a dit que tu m'aimais encore.
Serait-ce possible alors ?
On me dit que l'destin se moque bien de nous
Qu'il ne nous donne rien et qu'il nous promet tout
Paraît que le bonheur est à portée de main
Alors on tend la main et on se retrouve fou
Pourtant quelqu'un m'a dit...
{au refrain}
Mais qui est-ce qui m'a dit que toujours tu m'aimais ?
Je ne me souviens plus c'était tard dans la nuit
J'entends encore la voix, mais je n'vois plus les traits
"Il vous aime, c'est secret, lui dites pas que j'vous l'ai dit"
Tu vois quelqu'un m'a dit...
Que tu m'aimais encore - me l'a-t-on vraiment dit ?
Que tu m'aimais encore, serait-ce possible alors ?
On me dit que nos vies ne valent pas grand chose
Elles passent en un instant comme fanent les roses
On me dit que le temps qui glisse est un salaud
Que de nos tristesses il s'en fait des manteaux
Pourtant quelqu'un m'a dit que...
{au refrain}
at
09:17
0
comments
Labels: chanson
Mengenal Grande École

Selain universitas, pendidikan tinggi di Prancis ada juga yang disebut Grande École, yang sangat berciri khas Prancis. Pelajarannya tidak hanya bersifat teori, melainkan juga ada pelatihan atau praktek di perusahaan-perusahaan. Terdapat sekitar 250 Grande École di seluruh Prancis yang memiliki klasifikasi ranking nasional.Tujuan dari adanya pendidikan di Grande École adalah untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang canggih dan berprestasi yang ingin terjun langsung ke dunia industri, baik itu dalam bidang teknik, ekonomi, sastra, administrasi negara atau politik. Para lulusan Grande École sangat dihargai oleh perusahaan-perusahaan negeri maupun swasta, dan biasanya langsung dapat menempati jabatan tinggi dalam usia muda. C’est chouette, non!
Apa Syarat Masuk Grande École?
Seorang lulusan SMU yang ingin masuk ke Grande École harus mengambil kelas persiapan selama dua tahun yang disebut classes préparatoires. Setelah itu, mereka harus mengikuti ujian seleksi nasional. Dari hasil nilai ujian seleksi itulah calon siswa dapat menentukan Grande École tujuan.
Jenis-jenis kelas persiapan sebelum masuk ke Grande École:
• Kelas Persiapan IPA, dibagi menjadi beberapa jurusan:
- Matematika dan Fisika
- Fisika dan Kimia
- Fisika dan Teknik
- Fisika dan Ilmu Keinsinyuran (Engineering)
- Biologi, Kimia, Fisika, Ilmu Sains
• Kelas Persiapan Ekonomi dan Sosial, juga dibagi menjadi beberapa jurusan:
- Sains (terutama matematika)
- Ekonomi
- Teknologi
• Kelas Persiapan Sastra, dibagi menjadi jurusan:
- Sastra
- Sastra dan Ilm Sosial
Jenis-Jenis Grande École
• École d’Ingénieurs atau Sekolah Tinggi Teknologi
Beberapa Grande École jenis ini yang terkenal antara lain adalah Grande École Polytechnique (atau Sekolah Tinggi Politeknik) dan École Centrale. Masa belajar adalah tiga tahun, dan ijazah yang dikeluarkan setara dengan Master Degree di Amerika Serikat.
• École de Commerce atau Sekolah Tinggi Perniagaan
Bayak sekali Grande École di bidang ini yang memiliki reputasi bagus seperti CERAM Nice, École Management Lyon, ESSEC, HEC, ESCP yang tergabung ke dalam kelompok studi manajemen atau CIAM (Centre International aux Études de Management). Pengajaran diberikan dalam bahasa Prancis, atau Inggris dan Prancis. Calon mahasiswa yang ingin mendaftar ke universitas-universitas di atas juga harus mempunyai nilai GMAT (Graduate Management Admission Test) yang bagus.
• École Normale Supérieure (ENS)
Grande École yang satu ini terbuka untuk lulusan-lulusan berbagai jurusan,
terutama sastra, matematika, teknik. Sekolah Tinggi yang satu ini khususnya
ditujukan pada para calon mahasiswa yang ingin menjadi peneliti atau dosen.
Masa belajar 4 tahun, dan setelah itu mahasiswa diwajibkan mengikuti ujian
seleksi yang disebut aggrégation. (Baca lebih lanjut di sini: École Normale
Supérieure)
Biaya Kuliah di Grande École
Melihat kualitas Grande École ini, proses seleksi yang ketat dan jaminan mendapatkan pekerjaan setelah lulus, pastinya terbayang di benak kamu akan biaya kuliahnya yang tinggi. Dari informasi yang saya dapat, biaya kuliah di Grande École beragam, dan bisanya memang lebih mahal dari universitas atau perguruan tinggi negeri. Namun, tentunya Grande École juga menyelenggarakan program beasiswa. Jadi, jangan khawatir, kamu yang bermimpi ingin sekolah di Grande École-nya Prancis tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun, kamu bisa mengikuti program beasiswa mereka.
Baca juga: Beasiswa École Normale Supérieure (ENS) International.
at
09:02
1 comments
Labels: étudier en France



