janvier 27, 2008

Kuliah di Prancis: Informasi Penting dan Program Beasiswa

Di antara teman-teman mungkin ada yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke Prancis, entah itu untuk program S1, S2, atau untuk kursus singkat di bidang bahasa, mode, atau pun untuk melakukan riset di bidang-bidang tertentu. Parlez Français! kali ini mengangkat topik tentang belajar di Prancis, khususnya untuk jenjang pendidikan tinggi. Apalagi, mulai bulan Januari ini, pemerintah Prancis telah membuka lagi program beasiswa bagi kalian yang hendak melanjutkan sekolah ke jenjang S2 dan S3! Namun alangkah baiknya kalian mengetahui terlebih dahulu tentang sistem pendidikan tinggi di Prancis, dan apa saja yang harus dipersiapkan untuk kuliah di sana.


Perlu Bisa Bahasa Prancis!

Meskipun semakin banyak perguruan tinggi di Prancis yang menawarkan pendidikan dalam bahasa Inggris, khususnya di bidang bisnis dan manajemen internasional, bahasa Prancis tetap merupakan bahasa pengantar di banyak universitas dan sekolah tinggi. Walau bagaimana pun, karena kalian berkuliah di Prancis, otomatis kalian juga akan tinggal di sana dan hidup bersama dengan masyarakatnya yang nota-bene menggunakan bahasa Prancis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mau tidak mau kalian harus bisa menggunakan bahasa Prancis, setidaknya untuk percakapan dalam situasi atau konteks sehari-hari.

Sistem European Credit Transfer System atau ECTS

Sistem pendidikan tinggi Prancis sekarang ini disebut sistem LMD—Licence, Master, Doctoral—yang telah diterapkan sejak tahun 1998. Sistem ini dibuat berdasarkan Deklarasi Sorbonne tanggal 25 Mei 1998 yang berisi tentang perubahan sistem pendidikan tinggi di empat negara pertama anggota Uni Eropa—Prancis, Jerman, Italia, Inggris—dan disusul dengan Deklarasi Bologna yang ditandatangani oleh 22 negara anggota Uni Eropa lainnya.


Hal ini berarti, sistem pendidikan tinggi di semua negara anggota Uni Eropa akan menggunakan Sistem Kredit Eropa, atau dikenal dengan sebutan ECTS (European Credit Transfer System). Maksudnya, kalau dulu sistem pendidikan tinggi Prancis terbagi ke dalam siklus (DEUG, Licence, Maîtrise, DEA atau DESS, dan Doktoral), sejak adanya ECTS tersebut kini menggunakan sistem Licence, Master, dan Doctoral saja. Sistem kredit Eropa ini akan memudahkan para mahasiswa yang belajar di salah satu negara anggota Uni Eropa, termasuk Prancis, untuk mendapatkan pekerjaan di negara-negara anggota Uni Eropa lainnya setelah lulus. Sistem ini juga memudahkan para mahasiswa untuk mengganti jurusan kuliah atau pindah ke universitas lain tanpa kehilangan kredit yang telah diambil di universitas atau jurusan sebelumnya.

Namun, sistem LMD ini tidak berlaku untuk pendidikan tinggi di Grandes Écoles yang masih menggunakan sistem siklus. Grandes Écoles merupakan jenis sekolah tinggi spesialisasi untuk jalur atau bidang spesifik seperti teknik, industri, bisnis dan manajemen. Pendaftaran masuk jalur spesifik ini sangat selektif dan ketat. Nantinya, para lulusan sekolah spesialisas ini akan menjadi para profesional dalam bidang yang digelutinya, antara lain seni, arsitektur, dan administrasi.

Biaya Kuliah dan Program Beasiswa

Biaya sekolah di Prancis tergolong tidak mahal karena sebagian besar pendidikan di Prancis dikelola oleh institusi-institusi pemerintah yang dibiayai dan dikontrol oleh negara, yaitu berkisar antara 180 hingga 890 Euro pertahun. Kalian yang berminat untuk mendaftarkan diri secara langsung dan online! ke universitas-universitas di Prancis, bisa mengunjungi website CampusFrance di link ini.

Akan tetapi, biaya hidup di Prancis memang relatif tinggi. Seorang mahasiswa harus mempunyai uang saku antara 500 hingga 800 Euro perbulan untuk makan, membayar biaya sewa tempat tinggal, dan transportasi sehari-hari. Belum untuk biaya buku dan asuransi kesehatan, dan biaya hiburan (bagi kalian yang senang hang out ke bioskop, café, restoran, teater, dan tempat-tempat hiburan lainnya). Oleh karena itu, bagi kalian yang merasa tidak mampu kuliah ke Prancis dengan biaya sendiri, kalian bisa coba-coba ikutan program beasiswa pemerintah Prancis loh! Beasiswa yang diberikan ini mencakup tiket pesawat p.p., biaya kuliah dan biaya hidup, asuransi, serta gratis kursus persiapan bahasa Prancis di CCF (Pusat Kebudayaan Prancis). Lumayan, ‘kan! Beasiswa ini diberikan bagi para calon mahasiswa yang hendak melanjutkan program kuliah ke jenjang Master dan Doktoral, di bidang administrasi kemasyarakatan, ilmu politik dan hukum, teknik, ilmu sains. Informasi lebih jelasnya bisa kalian download dengan mengunjungi link ini.

Bagi kalian yang tidak menggeluti bidang-bidang tersebut, kalian masih tetap bisa kuliah ke Prancis melalui program beasiswa Erasmus Mundus. Beasiswa yang satu ini bukan diselenggarakan oleh pemerintah Prancis, melainkan oleh universitas-universitas di negara-negara Uni Eropa yang tergabung ke dalam konsorsium untuk bidang-bidang studi tertentu. Kalian bisa mendapatkan informasi lebih lengkap ke website Erasmus Mundus di sini.

Nah, bagaimana? Sudah mulai mempersiapkan diri untuk kuliah ke Prancis? * * *

Lire la suite!

Crêpe de Banane (Crêpe Isi Pisang)

Membahas tentang kue crêpe, asal muasal dan sejarahnya, sekarang mengapa tidak kita coba membuat kue panekuk asli Prancis yang satu ini? Bahan-bahannya mudah didapat, dan cara membuatnya juga gampang. Ikuti saja petunjuknya, dan kamu bisa berkreasi dengan topping crêpe sesukamu. Kalau contoh yang saya berikan ini jenis crêpe sucrée yang cocok untuk hidangan pencuci mulut. Alors, vous êtes prêts?



Bahan dasar kulit Crêpe:
* 100 gram tepung terigu
* 1 sdm gula pasir
* 1 butir telur, kocok sampai rata dengan garpu
* 250 ml susu cair
* 2 sdm mentega, dicairkan

video
Cara membuat:
1. Terigu diayak, lalu campur dengan gula dan aduk dengan garpu.
2. Tambahkan susu dan telur, aduk dengan kocokan kue dengan gerakan searah hingga adonan tercampur rata.
3. Masukkan mentega cair dan aduk hingga benar-benar rata.
4. Panaskan wajan bertangkai anti lengket (sejenis Teflon) yang sudah diolesi merata dengan margarine.
5. Tuangkan 5 sendok makan adonan. Ratakan tipis di atas wajan sambil diputar. Masak hingga 2 menit lalu dibalik. (hati-hati supaya crêpe tidak sobek).
6. Lakukan hal yang sama sampai adonan habis.

Bahan topping/isi:
* 5 buah pisang ambon matang (iris setebal 2 cm, panaskan di atas wajan dengan margarine hingga kecoklatan).
* 50 gram selai coklat
* 100 gram keju parut
* 50 gram coklat meisjes
* 1 sekop es krim rasa apa saja sesuai selera

Cara membuat topping:
1. Olesi tiap helai kulit crêpe yang sudah jadi dengan selai coklat, lalu susun 3 buah irisan pisang di atasnya.
2. Taburi keju parut di atas pisang, lalu lipat kulit crêpe.
3. Letakkan crêpe yang sudah diberi topping di atas wadah kecil.
4. Tambahkan satu sekop es krim dan taburi coklat meisjes di atasnya.

Crêpe de Banane (Crêpe isi Pisang) siap dihidangkan! Bon appétit!
(sumber dan foto: majalah Gadis)

Lire la suite!

Kue Crêpe, Kue Asli Prancis

Merayakan Hari Valentine dengan coklat sudah terlalu biasa. Mengapa tidak sekali-kali mencoba resep yang lain, seperti membuat crêpe? Apalagi, dalam kultur Prancis, ada hari khusus Le Jour des Crêpes, atau disebut juga dengan istilah La Chandeleur, yang dirayakan pula pada bulan Februari. Memangnya, seberapa istimewanya kue crêpe ini bagi masyarakat Prancis? Dan ngomong-ngomong, membuat crêpe itu gampang atau tidak ya? Allons-y, kita simak tulisan berikutnya. Sst... ada resepnya juga loh!

Crêpe(dibaca: krep), adalah sejenis kue pancake berbentuk bundar tipis yang dibuat dari bahan dasar tepung terigu atau gandum, telur, susu, mentega, dan garam, serta dimakan dengan campuran isi dari bahan yang manis ataupun asin. Kata crêpe berasal dari bahasa Latin ‘crispa’, yang berarti ‘lingkaran yang digulung’. Kue crêpe sangat terkenal di seluruh Prancis, dan konon asalnya dari daerah Bretagne di barat laut Prancis. Di Bretagne sendiri, crêpe biasanya dihidangkan dengan sirup cidre—sejenis sari buah apel. Ketenaran crêpe menyebar hingga ke Jerman dengan nama Pfannkuchen, Italia dengan istilah crespella, dan Belanda dengan sebutan pannenkoeken (tahu kue panekuk, ‘kan?). Selain itu crêpe juga dikenal luas di Spanyol dengan nama filloas, di Polandia, bahkan Makedonia.

Ada dua jenis crêpe, seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Pertama, crêpe manis—disebut crêpe sucrée—dibuat dari tepung terigu dan dibubuhkan bahan-bahan yang manis sebagai topping atau isinya, seperti gula, selai kacang atau coklat, es krim, sirup mapel, taburan potongan buah (pisang, ceri, blueberry, strawberi), dan campuran bahan-bahan manis lainnya. Kedua, crêpe asin—disebut crêpe salée—dibuat dari tepung soda dan dicampur dengan keju, ham, bayam, telur, jamur ku
ping, atau potongan daging lainnya. Crêpe manis biasanya disajikan sebagai makanan pencuci mulut, sedangkan crêpe asin bisa untuk hidangan utama.

Crêpe Simbol Kemakmuran?

Lalu, apa hubungannya crêpe dengan perayaan hari La Chandeleur? Konon, katanya Paus Gélase I yang hidup pada abad kelima Masehi membagi-bagikan kue crêpe ini bagi para peziarah yang tiba di Roma untuk memperingati hari diberkahinya perawan Maria dalam agama Kristen Katholik. La Chandeleur berasal dari kata la fête des chandelles, dan dirayakan setiap bulan Februari pada tanggal yang berbeda-beda sesuai dengan suku yang merayakannya. Misalnya orang-orang Romawi merayakannya pada tanggal 15, sedangkan orang-orang Galia Keltik pada tanggal 1. Tetapi di Prancis, la Chandeleur dirayakan setiap tanggal 2 Februari.

Mengapa disebut la fête des chandelles? Katanya sih, pada tanggal tersebut, seorang ibu harus mempersembahkan anak laki-lakinya yang baru berumur 40 hari di hadapan Tuhannya di dalam gereja, lalu lilin-lilin dinyalakan untuk menjauhkan mereka dari malapetaka seraya mengingat Yesus sebagai penerang dunia. Setelah upacara itu, lilin-lilin tersebut dibawa pulang ke rumah untuk melindungi dan menjaga rumah mereka dari marabahaya. Dan pada tanggal itulah musim dingin berakhir, berganti dengan musim semi di mana orang-orang mulai bercocok tanam kembali, sehingga dibuatlah crêpe dari tepung gandum sebagai lambang kemakmuran untuk musim-musim berikutnya. Konon, apabila seseorang dapat menangkap crêpe yang baru dimasak lalu dilemparkan dari wajan penggorengan ke udara dengan tangan kirinya, sambil memegang sekeping emas di tangan kanannya, dipercaya ia akan menjadi kaya-raya sepanjang tahun. Ah bon... c’est intéressant, non!


Berikut ini adalah beberapa peribahasa dalam bahasa Prancis yang berhubungan dengan crêpe dan perayaan La Chandeleur:
À la Chandeleur, le jour croît de deux heures.
À la Chandeleur, grande neige et froideur.
À la Chandeleur, le froid fait douleur.
À la Chandeleur, au grand jour, les grandes douleurs.
À la Chandeleur, Quéré fait des crêpes jusqu'à pas d'heure.
Si la louve se met au soleil, le 2 février : six semaines d'hiver derrière.
Rosée à la Chandeleur, l'hiver a sa dernière heure.

(foto-foto: wikipedia.org)

Lire la suite!

‘La Jolie Bilingue’ Eva Green

Kalau sudah pernah menonton The Golden Compassatau Casino Royale, pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan paras cantik Eva Green yang mempunyai sorot mata tajam bak mata elang dan, kata majalah Vogue, “seksi!”. Green memang sudah menarik perhatian saya sejak ia bermain di film Kingdom of Heaven dan berperan sebagai putri Sybilla dari Yerusalem yang misterius. Namun, saya tidak menyangka sebelumnya kalau cewek berusia 28 tahun ini adalah aktris asli Prancis!


Pemeran Vesper Lynd—gadis Bond—ini adalah putri aktris kawakan asal Prancis juga, Marlène Jobert, dan dilahirkan di Prancis pada tanggal 5 Juli 1980, tepatnya di kota Paris. Ayahya adalah seorang dokter gigi asal Swedia bernama Walter Green, yang masih bersaudara kandung dengan aktris Marika Green yang juga asli Swedia. Apalagi, kalau mendengar aksen Inggrisnya yang kental bak orang British maka orang mungkin mengira dia berasal dari Inggris. Kalau Gérard Depardieu dan Juliette Binoche, kita tahu bahwa mereka orang Prancis namun mampu berbahasa Inggris dengan baik dan sudah banyak membintangi film-film berbahasa Inggris. Ada lagi Audrey Tautou dan Gaspard Ulliel yang juga mulai merambah pasar perfilman berbahasa Inggris dan berakting dalam bahasa Inggris pula. Tapi, Eva Gaëlle Green—nama lengkap cewek ini—memang pernah menghabiskan masa kecilnya di London dan Irlandia, dan mengenyam pendidikan di sekolah berbahasa Inggris. Maka memang tidak heran kalau ia mampu berbicara d
ua bahasa (disebut kemampuan bilingual) dengan fasih. Bahkan, menurut berbagai sumber yang beredar ia kini tengah belajar bahasa Jepang! Sst... tahu nggak, Green ini mempunyai seorang saudara kembar perempuan bernama Joy, dan sebenarnya ia memiliki rambut asli berwarna pirang!

Perjalanan Karier Eva Green di Industri Hiburan

Karir filmnya dimulai pada tahun 2002 ketika ia ‘ditemukan’ oleh sutradara Italia kenamaan, Bernardo Bertolucci, dan diajak untuk bermain di film arahannya berjudul The Dreamers (2003). Sebelumnya Green sudah tertarik pada dunia teater dan menekuni pendidikan khusus di St.Paul Drama School di Paris selama tiga tahun, lalu berlanjut ke Webber Douglas Academy of Dramatic Art di London, dan di Tisch School of the Arts di New York. Ia juga sempat manggung di beberapa panggung pertunjukan di Paris, dan pernah mendapat nominasi Molière Award untuk penampilannya di Jalousie en Trois Fax. Green pun pernah bermain untuk film Prancis berjudul Arsène Lupin (2004) bersama Romain Duris (ingat The Spanish Apartment atau Auberge Espagnol?) untuk peran Clarisse de Dreux-Soubise, kekasih Lupin. Terakhir, ia bermain sebagai penyihir cantik berhati baik Serafina Pekkala di film fantasi The Golden Compass. Selain bermain film, Green juga menjadi model iklan untuk berbagai produk kosmetik, parfum, baju, bahkan bir, mulai dari Emporio Armani, Lancôme, Heineken, dan Christian Dior untuk parfum Midnight Poison.

video

Kini Green tinggal di London, tepatnya di kawasan Primrose Hill, bersama anjing terrier-nya yang bernama Griffin. Ia memilih tempat tinggal yang jauh dari keramaian dan bernuansa alam pedesaan karena suasananya yang tenang dan cocok dengan karakter Green yang pendiam. C’est bien pour elle alors... . Bon, kita tunggu saja film-film Green berikutnya!

Filmografi:
Film Tahun Peran
The Dreamers 2003 Isabelle
Arsène Lupin 2004 Clarisse de Dreux-Soubise
Kingdom of Heaven 2005 Sibylla
Casino Royale 2006 Vesper Lynd
The Golden Compass 2007 Serafina Pekkala
(foto-foto: wikipedia.org)

Lire la suite!

Arsène Lupin: Sang ‘Robin Hood’ dari Prancis

Selain Inggris dengan Robin Hood-nya, kita juga perlu tahu bahwa Prancis memiliki tokoh pahlawan kebanggaannya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Arsène Lupin, yang dikenal sebagai seorang pencuri ulung namun berjiwa lembut layaknya seorang gentleman—makanya dijuluki le Gentleman-Cambrioleur—yang diciptakan oleh penulis novel-novel detektif Maurice Leblanc (1864-1941). Pengarang yang satu ini hidup sezaman dengan pencipta tokoh Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle—dan karya-karyanya sangat terkenal di negara-negara berbahasa Prancis, seperti halnya Sherlock Holmes di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris.



Tokoh yang dikisakan hidup pada awal abad ke-20 ini bernama lengkap Arsène Raoul Lupin dan dilahirkan pada tahun 1874 di Blois, sebuah kota kecil di Prancis. Dianggap sebagai Robin Hood moderen, tokoh yang satu ini hidup dalam dua dunia yang berbeda, yaitu di kalangan kaum aristokrat dengan nama Raoul d’Andrésy yang elegan, menguasai bahasa Latin dan Yunani serta dikagumi oleh banyak gadis bangsawan; dan kalangan masyarakat bawah dengan nama Arsène Lupin yang misterius dan suka mencuri terutama perhiasan untuk memikat hati wanita-wanita cantik pujaannya. Seperti kata Jacques Dutronc, penyanyi terkenal Prancis era 1960-an yang menyumbangkan suaranya untuk serial televisi klasik dari kisah-kisah tokoh ini, “C’est le plus grand des voleurs, mais c’est un gentleman.”

Arsène Lupin juga digambarkan sebagai tokoh yang patriotik, terutama dalam kisah-kisahnya yang berlatar Perang Dunia I dan mewakili Prancis dalam menyusun langkah-langkah diplomatik negaranya. Ia juga bergabung dengan pasukan Prancis dalam perang kemerdekaan di Afrika Utara, seperti dalam novelnya yang berjudul Les dents du tigre.

Arsène Lupin dalam Novel, Komik, dan Film


Kisah-kisah Arsène Lupin yang dikarang Leblanc berjumlah dua puluh seri, dan pertama kali diperkenalkan dalam bentuk serial cerita pendek yang diterbitkan dalam majalah Je Sais Tout pada tanggal 15 Juli 1905. Selain itu ada juga lima sekuel cerita yang digarap oleh kolaborasi dua penulis cerita misteri terkenal, Boileau-Narcejac. Konon, tokoh Arsène Lupin ini digagas berdasarkan inspirasi Leblanc terhadap seorang anarkis Prancis, Marius Jacob, yang sidang pengadilannya sempat menghebohkan koran-koran di Prancis dan menjadi berita utama pada bulan Maret 1905. Tetapi beberapa pakar dan penggemar cerita Arsène Lupin (atau disebut lupinophiles) merasa yakin bahwa sang gentleman-cambrioleur ini memang pernah ada alias bukan tokoh fiktif. Hm... mungkin seperti Robin Hood yang juga dianggap masyarakat Inggris pernah ada dan hidup membela kalangan masyarakat bawah dengan mencuri harta orang-orang kaya. Qui sait?




Selain novel dan roman, kisah Arsène Lupin juga hadir dalam bentuk komik manga dengan nama Kazuhiro Katô atau Lupin III, cicitnya Arsène Lupin, dalam serial berjumlah 129 bab dari tahun 1967 hingga 1972. Lalu ia juga pernah dilakonkan dalam operet pada tahun 1930, dan ditampilkan ulang pada tahun 2007 di Teater Athénée-Louis-Jouvet. Selain itu, berkali-kali kisahnya diangkat ke layar televisi dan layar lebar sejak tahun 1910 oleh sineas-sineas dari berbagai bangsa selain Prancis, yaitu Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Spanyol, bahkan hingga Jepang. Terakhir kali, Arsène Lupin dilakonkan oleh Romain Duris dalam film berjudul sama—Arsène Lupin—yang dirilis pada tahun 2004 dan disutradarai oleh Jean-Paul Salomé. Eva Green, Kristin Scott Thomas dan Pascal Greggory juga turut bermain dalam film ini.

Kalau kamu penasaran seperti apa filmnya, saya tampilkan trailer-nya di bawah ini.

video

Sutradara: Jean-Paul Salomé
Produser: Stéphane Marsil
Skenario: Jean-Paul Salomé, Laurent Vachaud
Pemain: Romain Duris, Kristin Scott Thomas, Pascal Greggory, Eva Green
Tanggal rilis: 13 October 2004
Durasi: 131 menit
Bahasa: Prancis

Lire la suite!

La Vie en Rose: Kehidupan Édith Piaf Yang Tak Seindah Bunga Mawar

Ses yeux qui font baisser les miens
Un rire qui se fait sur sa bouche
Voilà le portrait sans retouche
De l’homme auquel j’appartiens


Quand il me prend dans ses bras
Il me parle tout bas
Je vois la vie en rose
Il me dit des mots d’amour
Les mots de tous les jours
Et ça me fait quelque chose
Il est entré dans mon cœur
Une part de bonheur
Dont je connais la cause

Et lui pour moi, moi pour lui, dans la vie
Il me l’a dit, l’a juré pour la vie
Et dès que je l’aperçois

Alors je sens en moi
Mon cœur qui bat

video

Penggalan lirik di atas merupakan lagu yang sangat populer, dan bahkan bis
a dikatakan melegenda di seluruh dunia, garapan mendiang Édith Piaf, penyanyi senior kenamaan dari Prancis. La Vie en Rose, atau Kehidupan Bak Sekuntum Bunga Mawar yang indah yang melanda orang-orang yang sedang dimabuk asmara. Lagu ini memang sesuai bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, pasangan yang akan atau baru menikah, apalagi pasangan yang merayakan momen-momen khusus seperti di Hari Valentine. Tetapi, siapa yang menyangka kalau sang penciptanya—Édith Giovanna Gassion—atau lebih dikenal dengan nama Édith Piaf, mengalami berbagai cobaan dalam hidup hingga akhir hayatnya?

Édith Piaf lahir di Paris pada tanggal 19 Desember 1915, dari pasangan seorang pemain sirkus Alphonse Gassion dan penyanyi jalanan Annetta Maillard. Kemiskinan yang melanda pasangan ini membuat Édith Piaf kecil diserahkan kepada nenek dari pihak ibunya yang berasal dari Aljazair. Namun Édith Piaf yang malang malah ditelantarkan dan dibiarkan hidup dalam kekumuhan, bahkan konon minumnya pun bukan susu selayaknya anak yang membutuhkan asupan makanan yang cukup, melainkan anggur! Lalu, 18 bulan kemudian, Édith diserahkan ke nenek dari pihak ayahnya, pemilik sebuah rumah prostitusi di Normandia. Di sana, Édith menjadi kesayangan para wanita penghuni rumah prostitusi tersebut, dan bahkan diberi baju-baju yang bagus serta menikmati susu produk asli Normandia.

Pada akhir Perang Dunia I, ayahnya membawa serta Édith dalam sirkus keliling, dan sering kali Édith kebagian peran untuk menyanyikan lagu-lagu rakyat. Dari situlah bakat dan suara Édith yang merdu mulai terlihat. Édith sempat punya anak pada umur 17 tahun, dari hasil hubungannya dengan kekasih Louis Dupont, namun meninggal karena penyakit meningitis. Sampai pada tahun 1935, seorang pengelola grup kabaret Le Gerny di Champs-Élysées, Louis Leplée, tidak sengaja menemukan Édith yang sedang bernyanyi di jalanan, dan lalu mengajaknya bergabung dalam kelompok tersebut. Leplée member
inya julukan ‘la Môme’ Piaf karena suaranya yang indah seperti burung moineau (sangat banyak terdapat di Prancis), dan dalam waktu singkat ia meraih kesuksesan. Pada tahun 1936 ia menghasilkan piringan hitam album pertamanya berjudul Les Mômes de la Cloche dan laku keras. Namun, tidak lama setelah itu Leplée ditemukan mati terbunuh di kediamannya di Paris, dan ia diduga termasuk anggota kelompok bandit Pigalle, yang serta-merta membuat nama Édith ikut tercemar. Édith pun kembali jadi penyanyi jalanan.

Kemudian, Édith menghubungi kembali Raymond Asso yang pernah berjasatelah menciptakan lagu-lagu untuknya, dan Raymond pun melatihnya untuk menjadi penyanyi profesional di panggung opera. Pada tahun 1937 nama Édith mulai bersinar, lagu-lagunya sering diperdengarkan di radio dan ia menjadi idola baru masyarakat Prancis. Pada musim semi tahun 1944, ketika Édith menjadi penyanyi opera di panggung Moulin Rouge, ia bertemu dengan Yves Montand, yang juga penyanyi panggung terkenal saat itu, dan nantinya menjadi kekasihnya. Bersama-sama mereka berdua meraih berbagai kesuksesan sebagai penyanyi dan pernah bermain bersama dalam film layar lebar. Pada masa-masa kesuksesan dari itulah Édith juga menghasilkan lagu hasil gubahannya sendiri, La Vie en Rose, tahun 1945.




Setelah berpisah dengan Yves Montand, Édith sempat berpacaran dengan seorang petinju Prancis asal Maroko, Marcel Cerdan, yang tewas dalam kecelakaan pesawat dalam perjalanannya menyusul Édith ke New York. Sejak saat itulah Édith menjadi pecandu berat morfin, walaupun ia sempat menghasilkan lagu yang amat terkenal (aransemen ulang dinyanyikan oleh Josh Groban dalam album Closer) berjudul Hymne à l’amour.

Perjalanan karirnya di panggung opera internasional di Amerika Serikat semakin membuatnya terjerat dalam mengkonsumsi morfin, dan berkali-kali ia keluar masuk panti rehabilitasi untuk menyembuhkan kecanduannya itu. Setahun menjelang wafatnya, Édith sempat menikahi seorang penyanyi muda berusia 26 tahun, Théo Sarapo, dan mereka berdua menyanyikan lagu—yang menurut saya menggambarkan perasaan dan kehidupan percintaan Édith yang banyak ‘duri’—berjudul À quoi ça sert l’amour?.

Édith meninggal pada tanggal 10 Oktober 1963 dalam usia yang masih relatif muda, yaitu 47 tahun, akibat konsumsi morfin yang berlebihan. Ia dimakamkan di pekuburan Père-Lachaise di Paris dalam suatu upacara penghormatan. Suaminya yang terakhir, Théo Sarapo, meninggal tujuh tahun kemudian dalam sebuah kecelakaan mobil, dan dikuburkan di sampingnya. * * *

Lire la suite!

Konjugasi Verba ‘Être’ dan ‘Aller’ Kala Kini

Untuk pelajaran tata bahasanya, saya tampilkan konjugasi kala kini (Présent) untuk kata kerja atau verba être dan aller. Dalam bahasa Prancis dikenal adanya konjugasi (atau dalam bahasa Prancis disebut conjugaison) untuk semua verba. Artinya, jika kita hendak membuat sebuah kalimat yang minimal terdiri dari subjek dan atau predikat (S + (P)), maka verba ini berubah mengikuti subjek yang mendahuluinya.


Mengapa ada perubahan begini ya, bikin ribet aja, hehe. Sampai sekarang sih saya belum tahu sebab-musabab dan asal-muasalnya konjugasi—ada yang bisa membantu saya?—tetapi mungkin karena bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa tertua yang berasal dari bahasa Latin, di mana bahasa Latin dan turunannya (Italia, Spanyol) juga memiliki konjugasi verba. Selain itu, ya
mungkin sesuai dengan jiwa bangsa Prancis itu sendiri yang... menyukai hal-hal berbau artistik, sampai-sampai membuat kalimat pun ada seninya? Je n’en sais pas exactement.

Kembali ke être dan aller, kedua verba ini merupakan jenis verba irreguler, yang berarti bentuk perubahan atau konjugasinya tidak mengikuti pola konjugasi verba secara umum. Jadi, misalnya pada subjek “Je” dan “Vous”, verba être dan aller yang mengikutinya menjadi sama sekali berbeda antara verba pada subjek yang satu dengan verba untuk subjek yang lain, menjadi seperti ini:

video

Je + être = Je suis
Vous + être = Vous êtes

Kamu lihat ‘kan, verba être untuk subjek Je menjadi suis (Je suis), sedangkan verba être untuk subjek Vous menjadi êtes (Vous êtes).

Begitu pula untuk verba aller, menjadi seperti ini:


video

Je + aller = Je vais
Vous + aller = Vous allez


Perubahan ini juga berlaku untuk subjek lainnya (Tu, Il/Elle, Nous, On, Ils/Elles). Untuk lebih jelasnya, simak saja video masing-masing di atas, d’accord?

Lire la suite!

Kosakata Makanan dan Minuman

Berhubung Parlez Français ! kali ini membahas tentang Crêpe, maka pelajaran kosakata untuk bulan ini adalah tentang makanan dan minuman. Simak dan dengarkan videonya baik-baik, lalu tambahkan kata-kata apa saja yang belum saya masukkan di daftar di bawah. D’accord, mes amis?


Les boissons

video

Une boisson au citron = minuman jeruk lemon
Une boisson au fruit = minuman buah
Une boisson aux oranges = minuman jeruk
Une boisson gazeuse aux extraits végétaux
Une boisson gazeuse à l’orange sans sucre
Une boisson gazeuse à l’orange
Une boisson à l’eau minérale aux extraits d’orange
Du citron concentré = konsentrat sari jeruk lemon
Un cocktail de fruit
Une eau minérale naturelle gazeuse
Un jus d’ananas
Un jus de pamplemousses
Une limonade artisanale
Un sirop de grenadine
Un sirop de menthe verte = sirup daun mint hijau
Un sirop de pêche = sirup buah pir
Un soda aux extraits de citron
Un thé glacé peu sucré = teh dingin dengan sedikit gula


Les nourritures

video

Un assortiment de biscuits
Une bar chocolatée
Un biscuit au chocolat
Un bonbon
Un caramel
Un chausson
Du chocolat au lait
Du chocolat noir
Une cigarette russe
Un cône
Un croissant
Un gâteau apéritif
Un gâteau aux myrtilles
Un muffin
Des nachos
Un pain au chocolat
Un plateau de chocolat
Un sac de bonbon
Une tablette de chocolat
Une tartelette aux fraises

Lire la suite!