Mau tahu seperti apa rasanya kuliah S2 di Prancis tapi sama sekali belum bisa bahasa Prancis? Berikut salah seorang pembaca dan pengunjung setia Parlez Français!, Zulazmi, menuturkannya untuk kamu semua. Bonne lecture!
Saya ingin berbagi pengalaman waktu sekolah di Clermont Ferrand tahun 2003-2004 yang lalu. Saya dapat beasiswa untuk S2 dari JJWB Tahun 2003 untuk bidang Gestion de la Politique Economique (GPE) di Centre d’Etudes et de Recherches sur le Développement International (CERDI - CNRS), Université D’Auvergne. Semula saya ingin menolak tawaran ini dengan alasan saya sudah S2 dan bahasanya yang sangat susah (kuliah dalam bahasa Prancis). Namun beberapa teman bahkan univeristas penyelenggara meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa. Saya juga berkonsultasi sama beberapa dosen dari UGM dan mereka menyarankan saya untuk membawa buku-buku ekonomi politik dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Sebelum berangkat saya ikut kursus intensif di CCF Salemba kurang lebih satu bulan. Akhirnya dengan bismillah, saya berangkat dengan perasaan yang tak pasti.
Pertengahan September 2003
Saya mampir ke kota Vichy dulu untuk belajar bahasa. Sampai di bandara Charles de Gaulle, masih Subuh, mana dingin lagi, perasaan semakin resah setelah semua penunjuk arah dalam bahasa Prancis. Begitu juga ketika bertanya (coba praktek bahasa Prancis campur Inggris) petugasnya agak-gimana gitu, mungkin karena mendengar bahasa Prancis saya yang kacau. Akhirnya saya sampai juga di stasiun Gare du Nord. Dapat kenalan beberapa siswa dari Jepang untuk kekota sama yg ternyata senasib sama saya (bahasa Prancisnya engak ‘gablek’, begitu juga bahasa Inggris mereka). Barulah saya merasa bahwa ternyata saya tidak sendiri, rasa PD mulai pun timbul,hehe.
Sesampainya saya di kota Vichy, saya dijemput bapak kos, namanya Gérard yang walaupun usianya sudah setengah abad tapi masih kuat. Kebingungan mulai terjadi karena kosakata saya sangat terbatas. Namun dalam hati tertanam, “Saya harus bisa.” Malam pertama di Vichy terlampaui dengan baik, bapak dan ibu kost sangat baik sekali, makan malam sangat nikmat rasanya. Paginya setelah sarapan saya diantar Gérard ke sekolah bahasa. Tes penempatan, dapat di level 3, mulailah petualangan di mulai. Dengan umur yang sudah tidak muda lagi, saya berusaha keras untuk belajar bahasa. Kalau ada PR, bapak dan ibu kost selalu membantu (meskipun hasilnya tidak selalu benar). Saya kira tadinya ini hanya service awal dari mereka, ternyata selama 2 bulan saya tinggal dengan mereka saya merasa diperlakukan seperti anak mereka. Saya bebas untuk makan pagi dan malam sepuasnya, dan mereka membolehkan saya untuk mengambil makanan, bahkan es krim, sesuka saya. Yang lebih menyenangkan lagi, pakaian saya setiap seminggu sekali dicuci dan disetrika. Selang dua minggu di Vichy, bulan Ramadhan tiba. Françoise, ibu kos saya, selalu membuatkan penganan berbuka untuk saya .Begitu juga dengan sahur, saya tinggal memanaskan makanan yg ada di frigo.
Cara lain mempercepat pemahaman bahasa, hampir tiap malam di kampus ada "boîte de nuit", semacam pesta gitu deh. Di situ kita punya kesempatan berinteraksi dan sekaligus mempraktikkan bahasa Prancis kita. Biasanya saya mendatangi acara tersebut setelah mengerjakan pe-er, sekitar jam 10-an Tidak ada rasa takut jalan sendiri malam-malam di negeri orang kecuali takut keinjak kotoran anjing yg bertebaran dimana-mana. Masa dua bulan terlampaui, saya transfer ke Clermont, juga diantar Gérard dan Françoise. Tidak lupa mereka membawakan saya bekal untuk makan malam hari pertama.
November 2003 - November 2004
Saya mulai ikut kuliah regular. Dua minggu pertama rasanya mau nangis di kelas karna gak bisa menangkap dengan baik penjelasan sang profesor (sangat berbeda dengan kelas bahasa). Hampir semua teman sekelas berasal dari negara-negara Francophone dan mereka berlatar belakang ekonomi. Ada juga teman dari negara pecahan Rusia, Vietnam, Palestina dan Laos dan bahasa Prancis mereka juga lebih baik dari saya. Tapi semangat 45 masih menyala + teringat saran dari dosen UGM dan keluarga yg tinggal di Jakarta, saya mencoba memahami materi tersebut dengan buku teks perbandingan dlm bahasa Indonesia.
Mulanya saya gak gitu yakin, tapi setiap berdiskusi sama teman saya coba menjelaskan maksud bab tersebut, dan mereka bilang benar, maka proses selanjutnya saya selalu belajar dengan dua bahasa Prancis-Indonesia bahkan terkadang pake bahasa Inggris. Karena hanya saya sendiri yang bukan dari negara yg berbahasa Prancis, pihak kampus membolehkan saya membuat tugas-tugas maupun ujian dalam bahasa Inggris. Tapi, saya tetap mencoba menulis dalam bahasa Prancis (meskipun grammaire-nya saya yakin kacau), dan juga bahasa Inggris (ini kalau vocabnya sudah mentok). Cara lain yang saya lakukan dalam ujian adalah saya selalu menjawab ujian dengan menggunakan contoh kasus. Alhamdulillah, ternyata kalau kita mau mencoba dan bertanya, tidak ada hal yang begitu susah, dan saya dapat menyelesaikan pendidikan itu sesuai jadwalnya awal Desember 2004. Selama di Clermont, ibu kos saya setiap tiga minggu sekali datang menjenguk dengan membawakan makanan kesukaan saya, duhhhhh Allah nikmat-Mu tiada terkira.
Pengalaman unik lainnya yg saya dapat adalah waktu mengurus
CAF, seperti KTP gitulah. Karena s
aya hanya punya satu nama (nom-prénom gak jelas) maka kartu CAF saya tertulis Mr. Zulazmi X. Dan pengurus bâtiment apartemen selalu memanggil saya dengan sebutan Mr. X.
Jadi, menurut saya, sekolah di Prancis, sangat menyenangkan, namun semuanya tergantung persiapan kita secra fisik dan mental dan doa yang tidak pernah henti.
Sekarang saya kerja di ujung barat Indonesia, kalau rasa kangen dengan bahasa perancis datang, maka salah satu cara menlepas kangen itu saya mengakses website parlezfrancais ini.
Zulazmi (alamat e-mail ada pada redaksi Parlez Français!)
* frigo: kulkas, lemari es
* CAF: Carte d'allocations familiales
* bâtiment: gedung
* nom-prénom: nama belakang-nama depan
août 23, 2008
Pengalaman Kuliah di Prancis: Dipanggil Mr.X
at
11:34
Labels: étudier en France
Inscription à :
Publier les commentaires (Atom)




8 comments:
tulisan yg sangat unik dan menarik..
saya hanya ingin meralat bahwa kartu CAF tidak identik dengan KTP di Indonesia.
yang identik dgn KTP adalah carte de séjour atau kartu ijin tinggal.
Menarik banget ya ceritanya, lucu pula ^^ Seneng banget bacanya ^^
Salam kenal, semuanya :)
waaaaaaahhh..... jadi mau cepet2 kesana juga... seru banget kayaknya...
Merci beacoup Mons. X untuk sharingmu yang mnenarik. Boleh minta emailmu coz saya juga sedang berupaya studi di Perancis. Saya yakin masukan lebih banyak dari Anda akan menjadi bekal berharga buat persiapanku.
san (yosephsan@yahoo.co.id)
Ceritanya menarik sekali. Meski saya belajar bahasa Perancis, saya jarang banget menggunakannya terutama dengan orang perancis. Baru2 ini kalang kabut belajar lagi karena ada kemungkinan dikirim ke Bougogne tahun ini (Amin 100x)
Deg2an bayangin kalau di sana gimana ya dengan kemampuan mon francais debutant.
Aduhhh ... jade pengen banget kesana .... kpn ya??? amin
Jadee pengen kesana ... kpn ya??? amin
cerita yang bagus...
oh ya saya mau tanya, di sana tinggal ngekos? gimana cara nyarinya? kita bayar?
Enregistrer un commentaire