avril 08, 2008

Le Scaphandre et Le Papillon

Kamu mungkin belum pernah mendengar Le Scaphandre et Le Papillon (dalam bahasa Inggris: The Diving Bell and The Butterfly) sering disebut-sebut dalam industri perfilman komersil seperti Hollywood. Tetapi kamu perlu tahu, bahwa film yang diangkat dari kisah nyata seorang penderita stroke ini menyabet penghargaan sutradara terbaik dalam Festival Film Cannes tahun 2007 yang lalu. Inilah salah satu film yang akan diputar pada pekan Festival Sinema Prancis 2008 di Indonesia.

Peran untuk tokoh utama film ini, Jean-Dominique Bauby, yang didiagnosa menderita sindroma ‘locked-in’ karena penyakit stroke, awalnya disodorkan kepada Johnny Depp. Namun karena pada waktu itu ia masih sibuk dengan syuting sekuel ketiga film Pirates of The Carribean, maka aktor Prancis Mathieu Amalric-lah yang menjadi penggantinya. Film berdurasi 114 menit ini disutradarai oleh Julian Schnabel, yang juga pernah membesut film-film bertema serupa—tokoh yang cacat dan menderita tekanan batin karena tidak dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya—seperti Basquiat (1997) dan Before Night Falls (2000).

Inti cerita film ini adalah perjuangan seorang mantan editor majalah Elle bernama Bauby dalam melawan penyakit stroke setelah otaknya mengalami pendarahan hebat dan terserang koma selama berbulan-bulan. Bauby hanya bisa bereaksi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya dengan mengedipkan kelopak mata kirinya. Walaupun nyaris tidak ada satu pun organ motoriknya yang berfungsi, Bauby tetap dapat mendengar, menangkap ucapan orang-orang, dan mengingat, karena otaknya sendiri masih bisa berfungsi dengan normal. Selain itu, Bauby memiliki dua hal berharga lainnya yang membuatnya tetap bersemangat untuk hidup: daya imajinasi dan daya ingatnya yang kuat.



Mengapa film ini dinamakan Le Scaphandre et Le Papillon (pakaian selam dan kupu-kupu)? Katanya sih Le Scaphandre atau the Diving Bell menggambarkan keadaan Bauby yang ‘hanya bisa’ terpekur di atas tempat tidurnya dengan bantuan alat pernapasan seperti orang sedang menyelam, dan Le Papillon atau the Butterfly mewakili jiwa, imajinasi dan angan-angannya yang terbang bebas dan lincah bak seekor kupu-kupu walaupun tubuhnya terpasung di dalam kamar rumah sakit angkatan laut di Prancis utara. Selain penokohan yang dipusatkan pada sang tokoh utama sendiri yaitu Bauby yang terbaring kaku di ranjang rumah sakit, Janusz Kaminski, sang sinematografer film ini—sebelumya bekerjasama dengan Steven Spielberg untuk pengambilan gambar film Schindler’s List dan Munich—dengan apiknya menggambarkan gerak-gerik Bauby melalui gerakan kelopak matanya dalam melihat ‘dunia luar’ yaitu sang dokter, keluarga dan teman-teman yang menjenguknya, sehingga seolah-olah kita yang sedang menonton adalah Bauby sendiri. Maka pantaslah film yang diproduksi oleh perusahaan film terkenal asal Prancis, Pathé, ini menyabet penghargaan paling bergengsi dari Festival Film Cannes: Palme d’Or atau Palem Emas, untuk kategori film-film dunia yang diperlombakan.



Selain Cannes, film Le Scaphandre dan Le Papillon yang diangkat dari buku catatan harian berjudul sama ini juga banyak mendapat penghargaan dan nominasi di festival film internasional lainnya, mulai dari Golden Globe untuk kategori film berbahasa asing terbaik; Academy Awards atau piala Oscar untuk nominasi sutradara, sinematografi, dan naskah adaptasi terbaik; Los Angeles Film Critics Association, Boston Society of Film Critics, dan banyak lagi. Padahal, awalnya film ini hendak dibuat dalam bahasa Inggris, namun karena film yang diangkat dari buku karangan Bauby sendiri ditulis dalam bahasa Prancis dengan kosakata yang kaya, maka Schnabel merasa film ini juga harus ditulis dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Prancis.

Jean-Dominique Bauby dirawat selama 14 bulan di rumah sakit Berck Maritime hingga ia mampu menulis dan berbicara kembali, dan menerbitkan catatan hariannya itu pada tahun 1997. Tidak lama setelah tulisannya diluncurkan ke pasaran, Bauby meninggal dunia pada usia 45 tahun.

2 comments:

Anonyme a dit…

mba dina,
film Scaphandre et Le Papillon kok ga ada di festival sinema prancis 2008 yg berlangsung april ini ya?
(http://www.sinemaperancis.com/sinema2008/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=2&Itemid=3&lang=en).
cheers,
iis

Dina Mardiana a dit…

ada, tapi untuk penutupan dan hanya untuk tamu undangan saja. sayang ya...