janvier 27, 2008

La Vie en Rose: Kehidupan Édith Piaf Yang Tak Seindah Bunga Mawar

Ses yeux qui font baisser les miens
Un rire qui se fait sur sa bouche
Voilà le portrait sans retouche
De l’homme auquel j’appartiens


Quand il me prend dans ses bras
Il me parle tout bas
Je vois la vie en rose
Il me dit des mots d’amour
Les mots de tous les jours
Et ça me fait quelque chose
Il est entré dans mon cœur
Une part de bonheur
Dont je connais la cause

Et lui pour moi, moi pour lui, dans la vie
Il me l’a dit, l’a juré pour la vie
Et dès que je l’aperçois

Alors je sens en moi
Mon cœur qui bat

video

Penggalan lirik di atas merupakan lagu yang sangat populer, dan bahkan bis
a dikatakan melegenda di seluruh dunia, garapan mendiang Édith Piaf, penyanyi senior kenamaan dari Prancis. La Vie en Rose, atau Kehidupan Bak Sekuntum Bunga Mawar yang indah yang melanda orang-orang yang sedang dimabuk asmara. Lagu ini memang sesuai bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, pasangan yang akan atau baru menikah, apalagi pasangan yang merayakan momen-momen khusus seperti di Hari Valentine. Tetapi, siapa yang menyangka kalau sang penciptanya—Édith Giovanna Gassion—atau lebih dikenal dengan nama Édith Piaf, mengalami berbagai cobaan dalam hidup hingga akhir hayatnya?

Édith Piaf lahir di Paris pada tanggal 19 Desember 1915, dari pasangan seorang pemain sirkus Alphonse Gassion dan penyanyi jalanan Annetta Maillard. Kemiskinan yang melanda pasangan ini membuat Édith Piaf kecil diserahkan kepada nenek dari pihak ibunya yang berasal dari Aljazair. Namun Édith Piaf yang malang malah ditelantarkan dan dibiarkan hidup dalam kekumuhan, bahkan konon minumnya pun bukan susu selayaknya anak yang membutuhkan asupan makanan yang cukup, melainkan anggur! Lalu, 18 bulan kemudian, Édith diserahkan ke nenek dari pihak ayahnya, pemilik sebuah rumah prostitusi di Normandia. Di sana, Édith menjadi kesayangan para wanita penghuni rumah prostitusi tersebut, dan bahkan diberi baju-baju yang bagus serta menikmati susu produk asli Normandia.

Pada akhir Perang Dunia I, ayahnya membawa serta Édith dalam sirkus keliling, dan sering kali Édith kebagian peran untuk menyanyikan lagu-lagu rakyat. Dari situlah bakat dan suara Édith yang merdu mulai terlihat. Édith sempat punya anak pada umur 17 tahun, dari hasil hubungannya dengan kekasih Louis Dupont, namun meninggal karena penyakit meningitis. Sampai pada tahun 1935, seorang pengelola grup kabaret Le Gerny di Champs-Élysées, Louis Leplée, tidak sengaja menemukan Édith yang sedang bernyanyi di jalanan, dan lalu mengajaknya bergabung dalam kelompok tersebut. Leplée member
inya julukan ‘la Môme’ Piaf karena suaranya yang indah seperti burung moineau (sangat banyak terdapat di Prancis), dan dalam waktu singkat ia meraih kesuksesan. Pada tahun 1936 ia menghasilkan piringan hitam album pertamanya berjudul Les Mômes de la Cloche dan laku keras. Namun, tidak lama setelah itu Leplée ditemukan mati terbunuh di kediamannya di Paris, dan ia diduga termasuk anggota kelompok bandit Pigalle, yang serta-merta membuat nama Édith ikut tercemar. Édith pun kembali jadi penyanyi jalanan.

Kemudian, Édith menghubungi kembali Raymond Asso yang pernah berjasatelah menciptakan lagu-lagu untuknya, dan Raymond pun melatihnya untuk menjadi penyanyi profesional di panggung opera. Pada tahun 1937 nama Édith mulai bersinar, lagu-lagunya sering diperdengarkan di radio dan ia menjadi idola baru masyarakat Prancis. Pada musim semi tahun 1944, ketika Édith menjadi penyanyi opera di panggung Moulin Rouge, ia bertemu dengan Yves Montand, yang juga penyanyi panggung terkenal saat itu, dan nantinya menjadi kekasihnya. Bersama-sama mereka berdua meraih berbagai kesuksesan sebagai penyanyi dan pernah bermain bersama dalam film layar lebar. Pada masa-masa kesuksesan dari itulah Édith juga menghasilkan lagu hasil gubahannya sendiri, La Vie en Rose, tahun 1945.




Setelah berpisah dengan Yves Montand, Édith sempat berpacaran dengan seorang petinju Prancis asal Maroko, Marcel Cerdan, yang tewas dalam kecelakaan pesawat dalam perjalanannya menyusul Édith ke New York. Sejak saat itulah Édith menjadi pecandu berat morfin, walaupun ia sempat menghasilkan lagu yang amat terkenal (aransemen ulang dinyanyikan oleh Josh Groban dalam album Closer) berjudul Hymne à l’amour.

Perjalanan karirnya di panggung opera internasional di Amerika Serikat semakin membuatnya terjerat dalam mengkonsumsi morfin, dan berkali-kali ia keluar masuk panti rehabilitasi untuk menyembuhkan kecanduannya itu. Setahun menjelang wafatnya, Édith sempat menikahi seorang penyanyi muda berusia 26 tahun, Théo Sarapo, dan mereka berdua menyanyikan lagu—yang menurut saya menggambarkan perasaan dan kehidupan percintaan Édith yang banyak ‘duri’—berjudul À quoi ça sert l’amour?.

Édith meninggal pada tanggal 10 Oktober 1963 dalam usia yang masih relatif muda, yaitu 47 tahun, akibat konsumsi morfin yang berlebihan. Ia dimakamkan di pekuburan Père-Lachaise di Paris dalam suatu upacara penghormatan. Suaminya yang terakhir, Théo Sarapo, meninggal tujuh tahun kemudian dalam sebuah kecelakaan mobil, dan dikuburkan di sampingnya. * * *