août 28, 2008

Jalan-Jalan Hemat ke Paris, C'est Possible!



Paris, kota tujuan wisata yang paling diimpikan untuk dikunjungi setiap orang dari seluruh dunia. Melihat la Tour Eiffel yang menjulang dengan anggun, atau sungai Seine yang membelah kota dan seolah-olah menjadi denyut jantung kota, ataupun istana Versailles yang membuat setiap orang lupa akan dunia nyata saat berada di dalamnya. Memang Paris juga dikenal sebagai kota yang paling merogoh kocek karena kemewahan dan ambiance glamornya, membuat berbagai fasilitas dan barang yang tersedia di sana terasa mahal. Tetapi hal ini bukan menjadi halangan buat kamu yang ingin pergi ke sana dengan bujet minim. Jalan-jalan ke Paris, pourquoi pas?


Untuk itu, kamu mesti tahu caranya merencanakan dan melakukan perjalanan ke Paris dengan modal sedikit, tapi masih bisa senang-senang dan menikmatinya. Nah, salah seorang kawan saya, Agung Basuki, membuat e-book khusus tentang info komplit jalan-jalan ke Paris. Melalui e-book yang berjudul Travel Hemat Paris dan tebalnya mencapai hampir 100 halaman ini, kamu bisa mendapatkan berbagai informasi dan tips penting untuk membantumu melakukan persiapan pra-keberangkatan, dan memandumu dalam berwisata hemat di sana. Informasi yang dimaksud seperti:
* referensi website yang bisa diandalkan untuk berwisata ke Paris
* saran pemilihan waktu yang sesuai untuk pergi ke Paris
* daftar fasilitas akomodasi dan penginapan bertarif hemat namun letaknya strategis di jantung kota Paris
* 10 tempat-tempat menarik dan unik yang mesti dikunjungi di Paris
* tips bagaimana memilih alat transportasi yang murah-meriah di Paris
* panduan shopping dan sekaligus rekomendasi tempat-tempat shopping terbaik di Paris
* alternatif transportasi menuju kota Paris yang tidak mengeluarkan banyak uang

Dalam e-book Travel Hemat Paris, juga tersedia informasi khusus yang teramat penting buat kamu seperti kriminalitas di Paris dan cara-cara menangkisnya plus sistem tata kota Paris yang berisi 20 distrik. Ada lagi tips-tips lainnya yang juga nggak boleh dilupakan, seperti:
* tips menyiasati keterbatasan berbahasa
* tips menemukan alamat di Paris
* tips menemukan dan memilih akomodasi murah-meriah di Paris

Oya, tidak lupa juga Agung menyertakan rute Travel Hemat Paris untuk durasi 1 hingga 3 hari dilengkapi dengan peta petunjuknya. Asyik banget, kan! Memang Agung ini mantap banget deh, soalnya dia sudah berkali-kali mengunjungi kota Paris dan bahkan pernah menetap di sana. Jadi, pengetahuannya tentang Paris dan bagaimana caranya dia bertahan hidup di sana sudah nggak perlu diragukan lagi.

Nah, berminat membeli? Harganya cuma Rp 100.000,00; dan apalagi, khusus buat kamu pembaca setia Parlez Français ada hadiah e-book Français Facile secara cuma-cuma! Ouais, jadi kamu bisa sekaligus mempersiapkan bahasa Prancis kamu, praktek sedikit-sedikit, biar nanti nggak kagok pas mau kenalan sama orang Prancis saat kamu jalan-jalan di Paris nantinya. Supaya kamu ingat apa isi e-book ini, bisa dibaca dengan mengklik E-book Français Facile.

Jadi, bagaimana cara memesan e-book Travel Hemat Paris-nya Agung, plus mendapatkan hadiah e-book Français Facile? Kamu tinggal mengklik link yang saya berikan ini: Travel Hemat Paris (ingat ya, supaya kamu dapat hadiahnya klik dari link itu agar saya bisa melacaknya), daftar nama kamu di sana, pesan, bayar, lalu e-booknya akan langsung dikirim ke alamat e-mail kamu. C'est facile, non ;). Oyaa... plus tambahan satu hadiah lagi, ada software game belajar angka-angka bahasa Prancis dari 1 sampai 100! Puas deh belajarnya :). Nah, tunggu apa lagi, pesan deh sekarang juga supaya kamu juga bisa langsung belajar dan mengatur siasat jalan-jalan ke Paris dari sekarang. Bon voyage, alors!

* Penawaran ini berlaku untuk selamanya, alias setiap kali kamu atau teman kamu membelinya dari link saya, maka kamu atau teman kamu itu berhak mendapatkan hadiah-hadiah tersebut di atas untuk seterusnya. Chouette!

Lire la suite!

août 25, 2008

Ratatouille, Makanan Prancis Yang Beralih ke Film

Ratatouille... ratatouille... nama unik yang bikin penasaran ini selalu bergaung di telinga saya. Apakah ada hubungannya dengan tikus ("rat" dalam bahasa Prancis bisa juga diartikan tikus), atau apa itu sejenis verba bahasa gaul atau istilah verlan (tapi dibolak-balik juga enggak nemu artinya), atau apa itu sejenis kata benda yang menggelikan (karena ada embel-embel "touille"-nya). Eh bien, dari hasil pencarian awal di internet melalui kamus online bahasa Prancis, saya menemukan bahwa ratatouille itu adalah nama sejenis makanan tradisional Prancis yang berasal dari Nice. Lengkapnya disebut ratatouille niçoise. Tetapi, ternyata saya juga menemukan bahwa Ratatouille adalah sebuah judul film animasi garapan studio Walt Disney yang mengambil tokoh-tokoh dan setting Prancis, serta masih ada pula hubungannya dengan makanan Prancis... dan tikus!


Ratatouille, "Side Dish"-nya Prancis

Kata ratatouille berasal dari daerah Occitan "ratatolha". Daerah Occitan yang dimaksud adalah kawasan Provence dan sekitarnya, terutama Nice. Ratatouille juga berasal dari kata dasar "touiller", yang artinya mengaduk makanan. Biasanya makanan ini dihidangkan pada musim panas dengan memanfaatkan sayur-sayuran segar seperti tomat, paprika merah dan hijau, bawang bombay, bawang putih, dan courgette (sejenis timun). Bisa juga ditambah aubergine atau terong.

Ratatouille biasanya disantap sebagai hidangan sampingan atau makanan tambahan menu utama, tapi enggak dilarang juga disajikan sebagai menu sendiri yang ditemani roti atau nasi. Ada pula yang menjadikannya sebagai isi kandungan crêpe atau telur dadar alias omelette, namun bahan-bahannya dipotong kecil-kecil. Ada berbagai pendapat soal mengolah menu ratatouille ini. Sebagian mengatakan terong dan timun ditumis secara terpisah, sementara bumbu rempahnya seperti tomat, bawang bombay, bawang putih, paprika, dan rempah-rempah khas Provence dijadikan olahan saus. Tapi ada juga yang bilang semua bahan-bahan itu dicampur jadi satu dan ditumis bareng-bareng. Bon... bagaimana pun cara membuatnya, membayangkannya saja sudah bikin saya ngiler, hehehe!


Ternyata, di berbagai daerah di belahan dunia lainnya juga terdapat hidangan yang serupa dengan ratatouille ini. Misalnya di Filipina dikenal dengan nama pinakbet atau dinengdeng. Lalu, di Italia terkenal dengan nama caponata, dan di Turki disebut türlü. Namun di Venezia, ada ikan sarden atau anchovy sebagai campuran tambahannya. Beragamnya sebutan dan campuran bahan untuk ratatouille ini menginspirasikan seorang koki asal Amerika, Thomas Keller, membuat variasi kontemporer hidangan ini untuk film animasi Ratatouille yang diluncurkan pada tahun 2007 lalu.

Tikus Rémy dalam film Ratatouille

Ouais, Ratatouille juga merupakan judul film animasi yang diproduksi Pixar Animation Studio, "anak perusahaan"-nya Walt Disney. Tokoh utamanya adalah seekor tikus bernama Rémy yang sangat menggemari masakan Prancis. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya di loteng rumah seorang wanita pensiunan, Mabel, yang sudah berusia lanjut. Rémy adalah penggemar berat masakan Prancis, dan tidak seperti anggota keluarganya yang lain, dia bisa mencampur berbagai bahan makanan menjadi suatu hidangan yang lezat dan nikmat. Oleh karena itu, pada suatu hari, Rémy memberanikan diri untuk menyusup masuk ke dalam dapur restoran bintang lima di Paris, untuk "menilik" resep rahasia olahan sang koki ternama, Auguste Gusteau. Gusteau baru saja meninggal gara-gara dikritik oleh "lawan"-nya yang berpendapat bahwa semua orang bisa memasak.



Sayangnya, Rémy terpisah dari keluarganya ketika mereka berusah melarikan diri dari rumah Mabel, dan ia terperangkap di dalam gorong-gorong selokan. Setelah berhasil masuk ke dalam dapur, Rémy ternyata bertemu Linguini, seorang koki yang masih muda dan tidak berbakat memasak, yang ditugaskan membuat sup. Ia dipekerjakan di restoran itu karena ibunya dulu adalah mantan kekasih Gusteau. Tapi tiba-tiba, karena kelalaiannya, dengan sembarangan ia memasukkan segala jenis bahan ke dalam sup itu. Rémy yang melihat perbuatannya tergerak ingin membantunya, tetapi ternyata tidak semudah itu, karena ia harus berhadapan dengan Skinner, pimpinan koki yang baru yang sejak dulu tidak menyukai Gusteau. Skinner dari dulu berusaha mengenyahkan Linguini dengan segala macam upaya. Kira-kira, Rémy berhasil nggak ya menolong Linguini untuk tetap bekerja di restoran Gusteau, yang ternyata adalah ayah kandungnya.



Film yang disutradarai oleh Brad Bird ini mendapat tiga kali nominasi dalam Piala Oscar 2008, yaitu film animasi terbaik, musik dan lagu terbaik, serta skenario terbaik. Sementara itu, di ajang penyerahan piala Golden Globe 2008, Ratatouille mendapat penghargaan sebagai film animasi terbaik. Dalam film ini pula, Rémy menciptakan suatu hidangan ratatouille yang disebut "le Confit Byaldi" untuk dinilai para kritikus masakan. Le Confit Byaldi inilah yang sebenarnya merupakan variasi hidangan ratatouille kontemporer hasil "utak-atik" Thomas Keller, si koki Amerika di dunia nyata. Simak deh kerepotan para kru film dalam pembuatan film ini di video di atas.


Mau tahu resep-resep ratatouille lainnya? Coba deh Ratatouille au Micro-Ondes yang satu ini:

Persiapan : 15 menit
Tumis : 30 menit (dalam 3 kali)

Bahan-bahan :
- 3 timun
- 2 terong ukuran sedang
- 5 tomat
- 1 paprika
- 1 bawang bombay yang besar atau 2 butir bawang bombay ukuran sedang
- bawang putih
- daun parsley
- garam dan merica
- minyak zaitun
- cuka


Cara Membuat:

1). Kupas semua bahan sayuran, potong-potong terong dan ketimun menjadi kotak-kotak, dan paprika menjadi bentuk persegi.

2). Potong-potong tomat, dan iris kasar bawang bombay menjadi bentuk bundar. Kupas siung bawang putih.

3). Masukkan semua sayuran ke dalam microwave bersama-sama dengan bawang putih yang sudah dikupas, garam, dan merica.

4). Masak selama 10 menit dengan daya kekuatan maksimal. Aduk. 10 menit kemudian, aduk kembali, dan begitu seterusnya. Setelah itu tutup sampai airnya meresap.

5). Tambahkan tiga sendok makan minyak zaitun dan satu sendok teh cuka. Taburkan daun parsley yang sudah dirajang kasar.


Bisa disajikan hangat atau dingin.

(sumber: Recettes Incontournables)

* ratatouille dibaca ratatui

Lire la suite!

Mengenal Sosok Christian Clavier

Aktor gaek satu ini sudah tidak asing lagi namanya di dunia perfilman Prancis. Dia juga bisa disejajarkan dengan Gérard Depardieu dalam kancah karir dan kepiawaian beraktingnya. Di Indonesia, mungkin kita lebih mengenalnya sebagai sosok pendekar bertubuh mungil dari desa Galia. Siapa lagi kalau bukan Astérix. Tapi, Christian Clavier bisa berperan sebagai apa saja, loh. Bahkan, karakter tokoh transeksual pun pernah dimainkannya.


Dilahirkan di Paris tanggal 6 Mei 1952, Christian Clavier sempat mengenyam pendidikan selama dua tahun di Institut d'études politiques de Paris, namun tidak diselesaikannya. Ia lebih tertarik mengasah kemampuan aktingnya dengan bergabung dalam kelompok teater Splendide, di mana ia pernah kebagian peran sebagai Katia, seorang waria yang sangat feminin. Lalu, sepanjang tahun 1975 hingga 1978, ia bermain dalam berbagai film.

Namun, namanya baru dikenal dalam film Les Visiteurs yang dirilis pada tahun 1993. Setelah itu, film-film yang dibintanginya selalu sukses, dan ia selalu dipasangkan dengan aktor-aktor hebat juga, seperti Jean Reno dalam L'Opération Corned-Beef, trilogi Les Visiteurs dan Gérard Depardieu dalam trilogi Astérix et Obélix.

Selain dalam film layar lebar, Christian Clavier juga sempat bermain untuk film miniseri televisi empat episode berjudul Napoléon bersama Isabella Rossellini dan John Malkovich, yang membuatnya dianugerahi gelar Chevalier de la Légion d'honneur pada tahun 2008. Penghargaan bergengsi ini diberikan sejak zaman Napoléon sendiri bagi warga Prancis yang membaktikan dirinya untuk militer dan negara Prancis. Selain penghargaan itu, Clavier juga disebut-sebut sebagai aktor ketiga termahal di Prancis dengan kekayaan sebesar 1,87 juta versi surat kabar Le Figaro tahun 2006. Tetapi, kekayaan dan prestasinya itu tidak disia-disiakannya dengan menjadi produser film melalui rumah produksi Ouille Productions.

Christian Clavier sempat menikahi Marie-Anne Chazel, yang juga seorang aktris, namun kini sudah bercerai dan memiliki satu anak perempuan.

Filmografi:
2009 La Sainte-Victoire de François Favrat
2008 L'Auberge rouge de Gérard Krawczyk
2007 L' Entente cordiale de Vincent de Brus
2006 Les Bronzés amis pour la vie de Patrice Leconte
2005 Antidote de Vincent De Brus
2004 L'Enquête corse de Alain Berberian
2004 Albert est méchant de Herve Palud
2003 Lovely Rita de Stéphane Clavier
2002 Asterix et obelix,mission Cleopatre d'Alain Chabat
2001 Les Visiteurs en Amérique de Jean-Marie Poiré
2002 Napoleon de Yves Simoneau
1988 Les visiteurs Les Couloirs du temps de Jean-Marie Poiré
1998 Asterix et Obelix contre César de Claude Zidi

Lire la suite!

août 23, 2008

Astérix aux Jeux Olympiques: Penuh Aktor dan Tokoh Beken

Masih dalam kemeriahan suasana Olimpiade, Prancis ikut meramaikannya dengan meluncurkan film Asterix versi manusia (alias non-kartun) yang bertajuk Astérix aux Jeux Olympiques. Tapi, sayangnya pemutaran film Asterix yang terbaru di Indonesia sudah disulihsuarakan ke dalam bahasa Inggris, jadi agak-agak kurang greget kocaknya. Padahal, film Asterix kali ini dibanjiri bintang-bintang dan tokoh-tokoh beken di Prancis, loh! Selain aktor super kawakan Gérard Depardieu yang rutin memainkan peran Obélix, ada wajah-wajah "baru" (maksudnya yang belum pernah tampil di film-film Asterix sebelumnya), seperti Alain Delon yang berperan sebagai Julius Caesar, Clovis Cornillac, Jean-Pierre Cassel. Ada pula tokoh-tokoh terkenal Prancis yang sering seliweran di media massa Prancis dalam bidang keahlian mereka masing-masing, seperti petenis Amélie Mauresmo, pemain sepak bola Zinedine Zidane, bahkan pembalap "impor" Michael Schumacher!





Untuk membuktikan seberapa kocaknya film Asterix yang terbaru ini, simak saja teaser-nya pada video berikut:


Astérix aux Jeux Olympiques, atau dalam bahasa Indonesia disebut Asterix di Olimpiade, merupakan karya ketiga adaptasi naskah komik Asterix ke dalam film berjudul sama. Tapi, kali ini pemeran tokoh Asterix bukan lagi Christian Clavier, melainkan Clovis Cornillac. Alasannya sih karena Clavier mau peran-peran yang lebih serius (seperti baru-baru ini dia menjadi tokoh Napoléon dalam film serial berjudul sama). Walaupun sudah bertabur bintang, tapi disebut-sebut film Asterix yang satu ini kurang sarat humor dan miskin skenario. Di Prancis sendiri, dari jumlah penonton yang diharapkan sebanyak minimal 10 juta orang, ternyata dalam kurun waktu lima minggu 'hanya' bisa menarik kurang dari 7 juta orang penonton.

Film yang disutradarai Frédéric Forestier ini mengisahkan keinginan seorang pemuda asal desa Galia, Alafolix, agar dapat menikahi Puteri Irina yang juga ditaksir oleh Brutus, putera Julius Caesar yang licik. Untuk itu, Alafolix meminta bantuan Asterix dan Obelix untuk bisa memenangkan kejuaraan Olimpiade supaya Puteri Irina kepincut dan mau menikah dengannya. Yang menjadi masalah adalah, ternyata dalam mengikuti berbagai pertandingan yang digelar selama Olimpiade tersebut, para atlet dilarang berat untuk menggunakan doping alias obat penambah stamina. Ramuan ajaib Panoramix pun dianggap sebagai salah satu obat stimulan. Mau nggak mau, Asterix terpaksa terjun dalam kejuaraan tanpa menenggak jamunya sama sekali.

Film Asterix di Olimpiade diluncurkan di Prancis pada tanggal 30 Januari 2008, dan menghabiskan bujet sebesar 78 juta Euro! Konon, film ini disebut-sebut sebagai film termahal dalam sejarah perfilman Prancis. Sementara itu, untuk pengambilan setting desa Galia dilakukan di dalam hutan Fontainebleau. Untuk peluncuran versi DVD-nya diperkirakan tanggal 22 Agustus 2008, donc... moga-moga saja kita yang di Indonesia juga akan segera dapat menikmati versi bahasa Prancis-nya ya! Di sini saya berikan khusus untuk kamu trailer filmnya dalam bahasa Prancis. Selamat menonton!



* ramuan ajaib: potion magique

Lire la suite!

Pengalaman Kuliah di Prancis: Dipanggil Mr.X

Mau tahu seperti apa rasanya kuliah S2 di Prancis tapi sama sekali belum bisa bahasa Prancis? Berikut salah seorang pembaca dan pengunjung setia Parlez Français!, Zulazmi, menuturkannya untuk kamu semua. Bonne lecture!

Saya ingin berbagi pengalaman waktu sekolah di Clermont Ferrand tahun 2003-2004 yang lalu. Saya dapat beasiswa untuk S2 dari JJWB Tahun 2003 untuk bidang Gestion de la Politique Economique (GPE) di Centre d’Etudes et de Recherches sur le Développement International (CERDI - CNRS), Université D’Auvergne. Semula saya ingin menolak tawaran ini dengan alasan saya sudah S2 dan bahasanya yang sangat susah (kuliah dalam bahasa Prancis). Namun beberapa teman bahkan univeristas penyelenggara meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa. Saya juga berkonsultasi sama beberapa dosen dari UGM dan mereka menyarankan saya untuk membawa buku-buku ekonomi politik dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Sebelum berangkat saya ikut kursus intensif di CCF Salemba kurang lebih satu bulan. Akhirnya dengan bismillah, saya berangkat dengan perasaan yang tak pasti.



Pertengahan September 2003
Saya mampir ke kota Vichy dulu untuk belajar bahasa. Sampai di bandara Charles de Gaulle, masih Subuh, mana dingin lagi, perasaan semakin resah setelah semua penunjuk arah dalam bahasa Prancis. Begitu juga ketika bertanya (coba praktek bahasa Prancis campur Inggris) petugasnya agak-gimana gitu, mungkin karena mendengar bahasa Prancis saya yang kacau. Akhirnya saya sampai juga di stasiun Gare du Nord. Dapat kenalan beberapa siswa dari Jepang untuk kekota sama yg ternyata senasib sama saya (bahasa Prancisnya engak ‘gablek’, begitu juga bahasa Inggris mereka). Barulah saya merasa bahwa terny
ata saya tidak sendiri, rasa PD mulai pun timbul,hehe.

Sesampainya saya di kota Vichy, saya dijemput bapak kos, namanya Gérard yang walaupun usianya sudah setengah abad tapi masih kuat. Kebingungan mulai terjadi karena kosakata saya sangat terbatas. Namun dalam hati tertanam, “Saya harus bisa.” Malam pertama di Vichy terlampaui dengan baik, bapak dan ibu kost sangat baik sekali, makan malam sangat nikmat rasanya. Paginya setelah sarapan saya
diantar Gérard ke sekolah bahasa. Tes penempatan, dapat di level 3, mulailah petualangan di mulai. Dengan umur yang sudah tidak muda lagi, saya berusaha keras untuk belajar bahasa. Kalau ada PR, bapak dan ibu kost selalu membantu (meskipun hasilnya tidak selalu benar). Saya kira tadinya ini hanya service awal dari mereka, ternyata selama 2 bulan saya tinggal dengan mereka saya merasa diperlakukan seperti anak mereka. Saya bebas untuk makan pagi dan malam sepuasnya, dan mereka membolehkan saya untuk mengambil makanan, bahkan es krim, sesuka saya. Yang lebih menyenangkan lagi, pakaian saya setiap seminggu sekali dicuci dan disetrika. Selang dua minggu di Vichy, bulan Ramadhan tiba. Françoise, ibu kos saya, selalu membuatkan penganan berbuka untuk saya .Begitu juga dengan sahur, saya tinggal memanaskan makanan yg ada di frigo.

Cara lain mempercepat pemahaman bahasa, hampir tiap malam di kampus ada "boîte de nuit", semacam pesta gitu deh. Di situ kita punya kesempatan berinteraksi dan sekaligus mempraktikkan bahasa Pra
ncis kita. Biasanya saya mendatangi acara tersebut setelah mengerjakan pe-er, sekitar jam 10-an Tidak ada rasa takut jalan sendiri malam-malam di negeri orang kecuali takut keinjak kotoran anjing yg bertebaran dimana-mana. Masa dua bulan terlampaui, saya transfer ke Clermont, juga diantar Gérard dan Françoise. Tidak lupa mereka membawakan saya bekal untuk makan malam hari pertama.

November 2003 - November 2004
Saya mulai ikut kuliah regular. Dua minggu pertama rasanya mau nangis di kelas karna gak bisa menangkap dengan baik penjelasan sang profesor (sangat berbeda dengan kelas bahasa). Hampir semua teman sekelas berasal dari negara-neg
ara Francophone dan mereka berlatar belakang ekonomi. Ada juga teman dari negara pecahan Rusia, Vietnam, Palestina dan Laos dan bahasa Prancis mereka juga lebih baik dari saya. Tapi semangat 45 masih menyala + teringat saran dari dosen UGM dan keluarga yg tinggal di Jakarta, saya mencoba memahami materi tersebut dengan buku teks perbandingan dlm bahasa Indonesia.

Mulanya saya gak gitu yakin, tapi setiap berdiskusi sama teman saya coba menjelaskan maksud bab tersebut, dan mereka bilang benar, maka proses selanjutnya saya selalu belajar dengan dua bahasa Prancis-Indonesia bahkan terkadang pake bahasa Inggris. Karena hanya saya sendiri yang bukan dari negara yg berbahasa Prancis, pihak kampus membolehkan saya membuat tugas-tugas maupun ujian dalam bahasa Inggris. Tapi, saya tetap mencoba menulis dalam bahasa Prancis (meskipun grammaire-nya saya yakin kacau), dan juga bahasa Inggris (ini kalau vocabnya sudah mentok). Cara lain yang saya lakukan dalam ujian adalah saya selalu menjawab ujian dengan menggunakan contoh kasus. Alhamdulillah, ternyata kalau kita mau mencoba dan bertany
a, tidak ada hal yang begitu susah, dan saya dapat menyelesaikan pendidikan itu sesuai jadwalnya awal Desember 2004. Selama di Clermont, ibu kos saya setiap tiga minggu sekali datang menjenguk dengan membawakan makanan kesukaan saya, duhhhhh Allah nikmat-Mu tiada terkira.

Pengalaman unik lainnya yg saya dapat adalah waktu mengurus CAF, seperti KTP gitulah. Karena s
aya hanya punya satu nama (nom-prénom gak jelas) maka kartu CAF saya tertulis Mr. Zulazmi X. Dan pengurus bâtiment apartemen selalu memanggil saya dengan sebutan Mr. X.

Jadi, menurut saya, sekolah di Prancis, sangat menyenangkan, namun semuanya tergantung persiapan kita secra fisik dan mental dan doa yang tidak pernah henti.

Sekarang saya kerja di ujung barat Indonesia, kalau rasa kangen dengan bahasa perancis datang, maka salah satu cara menlepas kangen itu saya mengakses website parlezfrancais ini.

Zulazmi (alamat e-mail ada pada redaksi Parlez Français!)
* frigo: kulkas, lemari es
* CAF: Carte d'allocations familiales
* bâtiment: gedung
* nom-prénom: nama belakang-nama depan

Lire la suite!

avril 26, 2008

Pierre Larousse: ‘Bapak’ Kamus Prancis

Mempelajari suatu bahasa tentu tidak lepas dari menggunakan kamus, bahasa apa pun itu. Begitu pula bahasa Prancis. Selain Le Petit Robert, kamus bahasa Prancis lainnya yang banyak digunakan orang-orang di seluruh dunia adalah Le Petit Larousse. Maksudnya kamus Prancis-Prancis, ya. Saya sendiri juga pengguna setia kamus Larousse loh ;), serius..!

Larousse sendiri diambil dari nama pencipta kamus tersebut, yaitu Pierre Larousse. Kamus Le Petit Larousse banyak jenisnya dan hampir setiap tahun selalu diperbaharui. Selain Le Petit Larousse yang biasa, juga ada Le Petit Larousse illustré, Grand Dictionnaire universel,
Dictionnaire complet illustré, Nouveau Petit Larousse, Le Petit Larousse grand format, Le Petit Larousse compact
. Bapak yang satu ini memang berkeinginan untuk mengedukasi semua orang di seluruh dunia mengenai segala macam bidang, sesuai semboyannya, “instruire tout le monde et sur toute chose”, yang artinya mendidik semua orang dan tentang semua hal.


Peminat Berbagai Bidang Ilmu


Sejak kecil, Pierre Athanase Larousse atau dikenal dengan nama Pierre Larousse ‘haus’ mempelajari segala macam ilmu. Mengidolakan Diderot, seorang tokoh sastrawan Prancis pada abad ke-19 yang juga seorang pakar ensiklopedis, Larousse sudah mendapatkan beasiswa pada usianya yang baru 16 tahun untuk mengenyam pendidikan di univers
itas di Versailles! Lalu pada usia 20 tahun, Larousse yang lahir pada tahun 1817 itu kembali ke kampung halamannya di Toucy untuk menjadi pengajar sekolah dasar selama 3 tahun. Tidak lama setelah itu, ia mengikuti kuliah gratis di Sorbonne, mempelajari bahasa Latin, Yunani, ilmu linguistik, bahasa Sanskerta, Cina, kesusasteraan Prancis dan asing, sejarah, filsafat, bahkan ilmu mekanik hingga astronomi! Ck..ck..ck.. ! Selama 8 tahun mengikuti kuliah gratis itu Larousse juga belajar di Konservatorium Seni, Museum Sejarah Nasional dan Collège de France. Ia juga sering menghabiskan waktunya belajar di perpustakaan-perpustakaan besar. ‘Tukang’ belajar banget ya...

Selama aktifitasnya mengajar di sebuah sekolah dasar di kampung halamannya, Larousse merasa bosan dengan cara mengajar yang terlalu teknis sehingga ia menciptakan sebuah sistem pengajaran baru yang membangkitkan kreatifitas dan rasa keingintahuan murid-muridnya agar lebih bersemangat belajar dan membuat mereka berpikir kritis. Ia juga memb
uat manual atau pedoman pengajaran untuk anak-anak didiknya yang semakin meningkatkan prestasi karirnya. Oleh karena itu pada tahun 1848 pun Larousse diminta untuk mengajar di sebuah sekolah bergengsi bernama Institution Jauffret.


Mendirikan Librairie Larousse

Bersama Augustin Boyer, Pierre Larousse mendirikan sebuah toko buku ‘La Librairie Larousse et Boyer’ pada tahun 1850, yang berkembang pesat dan meraih sukses dalam waktu singkat. Dua tahun berikutnya ia mengikuti ujian khusus dari negara untuk meraih diploma (disebut brevet) sebagai editor penerbi
tan, dan ia pun berhasil. Larousse mengembangkan usahanya ke arah rumah penerbitan—yang dalam bahasa Prancis disebut maison d’édition—bertempat di rue Saint-André-des-Arts, Paris.

Pierre Larousse mempunyai misi untuk menguasai semua ilmu dalam berbagai bidang, dan menggagas penulisan serta penerbitan seri buku-buku pelajaran untuk sekolah dasar walaupun sempat terhenti pada tahun 1848 akibat Revolusi Prancis yang kedua kalinya. La Lexicologie des écoles primaires pun terbit pada tahun 1849, yang kemudian disusul dengan Grammaire élémentaire lexicologique pada tahun 1852. Lalu, pada tahun 1856, dengan dibantu oleh François Pillon, Larousse menerbitkan ‘kakek moyang’-nya kamus Le Petit Larousse, yaitu le Nouveau Dictionnaire de la langue française. Namun buku kamus buatannya itu ditentang oleh gereja dan masuk dalam daftar buku-buku yang dilarang terbit oleh gereja Roma.


Karya Terbesar Larousse

Di antara semua buku yang pernah diterbitkan Larousse, karyanya yang paling ‘besar’ dan fenomenal adalah kamus ensiklopedia universal yang berjudul Grand
Dictionnaire universel du XIXe siècle. Betapa tidak ‘besar’, karena tebalnya saja mencapai 22700 halaman!, dan ditulis dalam kurun waktu lama untuk jumlah halaman yang sebanyak itu hingga mencapai ajalnya. Ia menerbitkannya terlebih dahulu dalam 17 volume yang terpisah, dan lalu menyusunnya menjadi kamus mulai tahun 1866 hingga 1875.

Pierre Larousse meninggal pada tahun 1875 di Paris. Pada tahun yang sama ia tengah merintis pendirian perkumpulan société Larousse. Semangatnya yang tanpa henti untuk terus menyebarkan ilmu yang diserapnya kepada semua orang tercetus pada semboyan “Je sème à tout vent” yang tertulis di setiap kamus-kamus terbitannya. Kalau kamu amati dengan jeli gambar logo pada kamus Larousse ada seorang wanita yang tengah memetik bunga dengan serbuk sari yang bertebaran di sekelilingnya berupa titik-titik, itulah makna simbolis dari semboyannya itu. Merci à vous, Monsieur Larousse...

Lire la suite!

Kosakata 'Bahasa Gaul' Prancis (Verlan)

Kalau kamu ingin tahu beberapa kata dalam bahasa gaulnya anak-anak muda Prancis, berikut ini ada kata-kata yang bisa kamu pelajari untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari. Tenang saja, kata-kata yang saya berikan ini masih tergolong sopan, kok ;). Jadi, kamu belajar bahasa Prancis tidak hanya yang versi baku atau resminya saja, tapi juga versi gaulnya agar kamu lebih mengenal budaya dan kultur mereka.



laisse béton -> laisser tomber -> lupakan

un skeud -> un disque -> CD

zarbi -> bizarre -> aneh

la sicmu -> la musique -> musik

le tromé -> le métro -> kereta bawah tanah

vénéré -> énervé -> tersinggung, marah

une cecla -> une classe -> kelas

le céfran ->le français -> orang Prancis, bahasa Prancis

jourbon -> bonjour -> selamat pagi

un féca -> un café -> kafe

looc -> cool (dari bahasa Inggris) -> keren

un sub -> un bus -> bus

une cinepi -> une piscine -> kolam renang

une zesgon -> une gonzesse -> cewek


* Ingin tahu lebih banyak kosakata verlan dan argot lainnya? Klik di sini: le verlan, l’argot

* French Slang Dictionary (kalau yang ini kosakatanya tergolong lumayan vulgar, jadi kamu harus sangat berhati-hati pada saat menggunakannya) lalu klik kanan ‘save as’ pada gambar no.3

Lire la suite!

avril 19, 2008

Bahasa 'Slang' Prancis

Kalau selama ini kita belajar bahasa Prancis yang 'resmi'-nya, kali ini kita akan mengenal sekaligus mempelajari bahasa 'gaul' Prancis. Seperti bahasa-bahasa lainnya di dunia, bahasa Prancis juga mempunyai versi bahasa gaulnya, loh! Kalau selama ini kamu belajar bahasa Prancis di perkuliahan atau mengikuti kursus bahasa Prancis di tempat les, maka bahasa Prancis yang kamu pelajari adalah jenis bahasa Prancis baku yang kamu temui dalam surat kabar, buku cerita, acara dialog atata di televisi.

Tetapi, kalau kamu pernah mendengar bahasa Prancis yang digunakan di jalanan di Prancis, oleh anak-anak muda Prancis, atau di film-film Prancis dengan setting kehidupan sehari-hari masa kini, atau yang kamu baca di komik, saya yakin kamu pasti heran atau nggak ngerti karena tidak pernah mendengar kata-kata itu di kelas! Sebut saja misalnya, ‘les beurs’ (orang-orang Prancis keturunan Arab), ‘les flics’ (polisi). Bahasa Prancis yang tidak baku seperti inilah yang disebut l’argot atau le verlan. Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah bahasa jenis ini hanya sesekali saja digunakan jadi kamu tidak perlu repot-repot mempelajarinya, atau sebaliknya, pentiiing banget?


u siaran beriBon... mau tidak mau, walaupun jenis bahasa argot dan verlan ini tidak baku, tetapi layaknya bahasa-bahasa gaul lainnya di dunia seperti bahasa slang-nya Inggris Amerika atau bahasa Indonesia gaul a la anak Jakarta, bahasa argot dan verlan sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari masyarakat Prancis. Maka, kalau kamu ingin tinggal atau kuliah di Prancis, otomatis kamu harus bisa dan ‘mengerti’ bahasa penduduknya, apa yang mereka ucapkan di pasar, di jalanan, saat mengobrol dengan kamu di kafe, dan kegiatan-kegiatan sehari-hari lainnya.

Perbedaan argot dan verlan
Tapi memang apa bedanya verlan dengan argot? Keduanya sama-sama merupakan istilah untuk ‘bahasa gaul’, namun menurut kamus Larousse, argot adalah kosakata khusus yang digunakan oleh kalangan tertentu berdasarkan profesi atau kelas sosial. Argot bisa juga berarti bahasa yang digunakan oleh para pelaku tindak kriminal dan pengguna obat-obatan terlarang agar mereka bisa berkomunikasi secara bebas tanpa dipahami oleh orang-orang di luar kelompok mereka. Supaya bisa main rahasia-rahasiaan, begitulah kira-kira . Kalau verlan adalah bahasa argot yang digunakan dengan cara membolak-balik suku katanya. Misalnya, un mec yang merupakan b
ahasa argot (atau bahasa gaul, bahasa tidak baku) untuk kata un ami (teman) menjadi un keum. Contoh lainnya, une bagnole (mobil) yang merupakan bahasa gaul untuk kata une voiture menjadi une gnolba. Hehe, bingung ya?


Jadi begini polanya: kita ambil contoh dari kata l’envers yang artinya terbalik. Sekarang ‘pecahkan’ dulu susunan kata l’envers menjadi beberapa suku kata. (Untuk kata l’envers ini ada dua suku kata yaitu l’en- dan –vers). Lalu, kita ucapkan kedua suku kata ini secara perlahan dan coba balikkan:


l'envers... l'en vers... vers l'en... versl'en... verslen... verlen... verlan

Huruf terakhir yaitu ‘s’ dihilangkan, dan kata baru yang terbentuk memiliki huruf akhir berupa konsonan agar pelafalannya menjadi ‘enak’ didengar. Memang sih, tidak ada aturan baku untuk membuat kata-kata bahasa Prancis gaul seperti ini. Sama juga ‘kan dengan kata-kata gaul bahasa Indonesia, apa kita pernah tahu bagaimana cara membentuknya?

Coba kita polakan lagi contoh kata lainnya, misalnya ‘femme’. Kata ini terdiri dari dua suku kata juga, yaitu fa- dan –meu (perhatikan, maksud saya adalah suku kata saat diucapkan secara perlahan, bukan saat ditulis). Lalu, ucapkan keduanya pelan-pelan sambil dibalik:


Femme... fa meu... meu fa... meufa... meuf


Jadi, bahasa gaul untuk kata ‘femme’ adalah meuf.


Sekarang, kamu s
udah tahu bahasa gaul untuk menyebut ‘les arabes’ atau orang-orang Prancis keturunan Arab adalah beur. Tetapi, kini ia mengalami pembentukan kata baru lagi menjadi rebeu dan reub.

Beur... beu re... re beu.. rebeu .. reub


Argot dan Verlan dalam Konteks Sosial


Yang menarik, bahasa argot yang disebut-sebut sebagai langue djeunz (de djeunz, yang berarti “jeunes” atau anak-anak muda) lebih sering dan intens digunakan oleh orang-orang yang tinggal di kawasan-kawasan pinggiran kota-kota besar di Prancis. Kemunculan bahasa argot pada tahun 1970-an seiring ditandai dengan dibangunnya kawasan atau permukiman-permukiman khusus bagi para imigran yang bekerja sebagai buruh atau karyawan di perusahaan-perusahaan besar di Prancis. Bahasa argot ini terus berkembang dan berevolusi terlebih saat teknologi telepon genggam diperkenalkan sehingga juga menjadi bahasa yang digunakan untuk ber-SMS-an ria.


Selain itu, karena sebagian besar para imigran yang tinggal di Prancis adalah mereka yang datang dari negara-negara Arab, maka dalam penggunaannya bahasa argot banyak mengalami percampuran dengan bahasa Arab. Misalnya saja kalimat berikut:


Misquina, elle fait tièp.


Misquina berasal dari kata ‘misquine’, yaitu kata bahasa Arab yang berarti ‘orang miskin’; sedangkan tièp merupakan kebalikan dari kata ‘pitié’. Jadi, maksud kalimat di atas adalah: La pauvre, elle fait pitié.


Walaupun begitu, bahasa argot juga mengalami banyak percampuran dengan bahasa Inggris yang bagaimana pun pengertiannya terkadang menjadi agak berbeda dengan makna asal kata bahasa Inggris itu sendiri. Misalnya pada kalimat berikut:


Je suis speed, maksudnya: Je suis pressé (saya terburu-buru).

Atau, kamu pernah mendengar kalimat: “On y go” ? Nah, kalau kalimat yang itu maknanya sama saja dengan “On y va”.


Layaknya bahasa Jawa di Indonesia, bahasa gaul Prancis juga mempunyai beberapa level atau tingkatan. Level pertama yaitu bahasa gaul akrab (familier) yang masih tergolong sopan dan bisa digunakan antarteman, keluarga, atau orang-orang yang sepantaran dengan kamu. Namun tetap saja bahasa ini tidak bisa digunakan dalam lingkungan resmi seperti di kantor atau di kampus dengan dosenmu. Misalnya fiston untuk fils (anak laki-laki), moche untuk laid (jelek), bouffe untuk nourriture (makanan). Level kedua disebut les mots grossiers yang digunakan untuk mengolok-olok atau mengumpat seseorang/sesuatu. Misalnya putain atau pute untuk mengatakan ‘sialan’ atau bisa juga ‘perek’, con yang berarti ‘goblok’ atau ‘dungu’. Tentunya kata-kata seperti ini tidak boleh dilontarkan kepada orangtua kamu atau orang-orang yang jauh lebih tua dari kamu. Level ketiga yaitu bahasa verlan yang dikombinasikan dengan bahasa gaulnya kalangan anak-anak muda ‘ghetto’ (Ghetto: kalangan tertentu yang memiliki persamaan latar belakang budaya atau tingkatan sosial). Misalnya, rebeu, keuf, meuf (artinya sudah saya jelaskan di atas). * * *


Lire la suite!

Belajar Bahasa Prancis dengan E-Book

E-Book Français Facile

Kalau kamu ingin belajar bahasa Prancis dalam waktu singkat untuk keperluan perjalanan, berlibur, atau tugas dinas, maka e-book ini bisa dijadikan salah satu pedoman untuk kamu. E-book ini dapat membantumu memahami beberapa percakapan sederhana dan bahkan melakukan percakapan sederhana dengan penutur bahasa Prancis lainnya. Berikut adalah beberapa dari daftar yang akan kamu temukan dalam e-book tersebut:





o Kalimat Percakapan Dasar seperti Apa Kabar?, Nama Saya…, Siapa Nama Anda?, Selamat Tinggal, Terima Kasih, Saya tidak mengerti, dan masih banyak lagi.

o Tabel Pelafalan untuk huruf-huruf vokal, konsonan, dan diftong


o Belajar menyebutkan kata-kata tertentu yang khusus seperti: Warna, Menjelaskan Waktu/Jam, Hari, Bulan, menghitung angka dan nomor.

o Belajar kalimat-k
alimat sederhana untuk bepergian seperti: bagaimana memanggil taksi, bagaimana mengajukan pertanyaan untuk naik bis dan kereta, dan arah jalan.

Harga e-book Français Facile adalah 5 USD apabila kamu membelinya melalui PayPal, atau Rp 45.000,00 dengan transfer antarbank. Bagi kamu yang tidak mempunyai rekening di PayPal, bisa menghubungi saya di: admin@parlezfrancais.net untuk keterangan cara pembayaran.

Penjelasan lebih lanjut tentang e-book ini bisa diklik di sini: French Language Phrases E-Book


E-Book Belajar Bahasa Prancis Komplit

E-book yang terdiri dari 3 sub e-book ini adalah salah satu pedoman untuk kamu yang ingin belajar bahasa Prancis secara menyeluruh dan komprehensif. E-book ini akan membantumu memahami penggunaan tata bahasa untuk menulis, berbicara dan mendengarkan dalam bahasa Prancis. Di dalamnya juga dilengkapi dengan daftar konjugasi verba bahasa Prancis. Di bawah ini adalah beberapa dari daftar penjelasan yang akan kamu temukan dalam e-book tersebut:
* Mengenal cuaca, waktu/jam, hari, bulan
* Kata
tanya
* Negara dan Kebangsaan
* Perbedaan penggunaan “C’est” dan “Il est”
* Kalimat negatif
* Verba Pronomina
* Ajektif atau kata sifat
* Kalimat bersyarat
* Kala kini, lampau dan masa depan
* Bahasa Prancis Kanada
dan lain-lain.
Harga e-book Learn French! adalah 9 USD apabila kamu membelinya melalui PayPal, atau Rp 85.000,00 dengan transfer antarbank. Bagi kamu yang tidak mempunyai rekening di PayPal, bisa menghubungi saya di: admin@parlezfrancais.net untuk keterangan cara pembayaran.

Penjelasan lebih lanjut tentang e-book ini bisa diklik di sini: Learn French

Catatan! Untuk saat ini, penjelasan dalam kedua e-book di atas menggunakan bahasa Inggris.

Lire la suite!

avril 08, 2008

Le Scaphandre et Le Papillon

Kamu mungkin belum pernah mendengar Le Scaphandre et Le Papillon (dalam bahasa Inggris: The Diving Bell and The Butterfly) sering disebut-sebut dalam industri perfilman komersil seperti Hollywood. Tetapi kamu perlu tahu, bahwa film yang diangkat dari kisah nyata seorang penderita stroke ini menyabet penghargaan sutradara terbaik dalam Festival Film Cannes tahun 2007 yang lalu. Inilah salah satu film yang akan diputar pada pekan Festival Sinema Prancis 2008 di Indonesia.

Peran untuk tokoh utama film ini, Jean-Dominique Bauby, yang didiagnosa menderita sindroma ‘locked-in’ karena penyakit stroke, awalnya disodorkan kepada Johnny Depp. Namun karena pada waktu itu ia masih sibuk dengan syuting sekuel ketiga film Pirates of The Carribean, maka aktor Prancis Mathieu Amalric-lah yang menjadi penggantinya. Film berdurasi 114 menit ini disutradarai oleh Julian Schnabel, yang juga pernah membesut film-film bertema serupa—tokoh yang cacat dan menderita tekanan batin karena tidak dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya—seperti Basquiat (1997) dan Before Night Falls (2000).

Inti cerita film ini adalah perjuangan seorang mantan editor majalah Elle bernama Bauby dalam melawan penyakit stroke setelah otaknya mengalami pendarahan hebat dan terserang koma selama berbulan-bulan. Bauby hanya bisa bereaksi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya dengan mengedipkan kelopak mata kirinya. Walaupun nyaris tidak ada satu pun organ motoriknya yang berfungsi, Bauby tetap dapat mendengar, menangkap ucapan orang-orang, dan mengingat, karena otaknya sendiri masih bisa berfungsi dengan normal. Selain itu, Bauby memiliki dua hal berharga lainnya yang membuatnya tetap bersemangat untuk hidup: daya imajinasi dan daya ingatnya yang kuat.



Mengapa film ini dinamakan Le Scaphandre et Le Papillon (pakaian selam dan kupu-kupu)? Katanya sih Le Scaphandre atau the Diving Bell menggambarkan keadaan Bauby yang ‘hanya bisa’ terpekur di atas tempat tidurnya dengan bantuan alat pernapasan seperti orang sedang menyelam, dan Le Papillon atau the Butterfly mewakili jiwa, imajinasi dan angan-angannya yang terbang bebas dan lincah bak seekor kupu-kupu walaupun tubuhnya terpasung di dalam kamar rumah sakit angkatan laut di Prancis utara. Selain penokohan yang dipusatkan pada sang tokoh utama sendiri yaitu Bauby yang terbaring kaku di ranjang rumah sakit, Janusz Kaminski, sang sinematografer film ini—sebelumya bekerjasama dengan Steven Spielberg untuk pengambilan gambar film Schindler’s List dan Munich—dengan apiknya menggambarkan gerak-gerik Bauby melalui gerakan kelopak matanya dalam melihat ‘dunia luar’ yaitu sang dokter, keluarga dan teman-teman yang menjenguknya, sehingga seolah-olah kita yang sedang menonton adalah Bauby sendiri. Maka pantaslah film yang diproduksi oleh perusahaan film terkenal asal Prancis, Pathé, ini menyabet penghargaan paling bergengsi dari Festival Film Cannes: Palme d’Or atau Palem Emas, untuk kategori film-film dunia yang diperlombakan.



Selain Cannes, film Le Scaphandre dan Le Papillon yang diangkat dari buku catatan harian berjudul sama ini juga banyak mendapat penghargaan dan nominasi di festival film internasional lainnya, mulai dari Golden Globe untuk kategori film berbahasa asing terbaik; Academy Awards atau piala Oscar untuk nominasi sutradara, sinematografi, dan naskah adaptasi terbaik; Los Angeles Film Critics Association, Boston Society of Film Critics, dan banyak lagi. Padahal, awalnya film ini hendak dibuat dalam bahasa Inggris, namun karena film yang diangkat dari buku karangan Bauby sendiri ditulis dalam bahasa Prancis dengan kosakata yang kaya, maka Schnabel merasa film ini juga harus ditulis dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Prancis.

Jean-Dominique Bauby dirawat selama 14 bulan di rumah sakit Berck Maritime hingga ia mampu menulis dan berbicara kembali, dan menerbitkan catatan hariannya itu pada tahun 1997. Tidak lama setelah tulisannya diluncurkan ke pasaran, Bauby meninggal dunia pada usia 45 tahun.

Lire la suite!