janvier 05, 2010

Lagu Cinta Remaja asal Kanada: Comme des Enfants


Lagu lainnya yang, pada awalnya nggak terlalu membuat saya tertarik, tapi karena keseringan diputar, lama-lama menyita perhatian saya juga. Apalagi, lagu yang satu ini dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru asal Kanada yang masih muda banget. Namanya Béatrice Martin, dan usianya "baru" 19 tahun! Jadi, sekalian memperkenalkan pada pengunjung Parlez Français! dunia berbahasa Prancis dari salah satu kawasan frankofon lainnya, tepatnya dari Québec.

Kalau kalian simak dengan baik, logat bahasa Prancis yang diucapkan terdengar agak janggal dibandingkan bahasa Prancis yang biasa kalian dengar, mungkin di CCF atau di Prancis sendiri. Tapi, hal itu jadi keunikan lagu yang sangat meremaja ini, plus lirik lagu yang gampang dipahami. Lagu cinta, gitu...

Lagu berjudul "Comme des enfants" ini merupakan hits dari album perdana Béatrice Martin yang diberi titel Coeur de Pirate. Untuk mengetahui jauh lebih banyak tentang gadis yang sudah belajar piano sejak usia 3 tahun ini, dapat diklik di sini: Coeur de Pirate.

Di bawah ini saya tampilkan lagunya sekaligus lirik, kalau-kalau kalian agak kesulitan menangkap kata-katanya.





Alors tu vois, comme tout se mêle
Et du coeur à tes lèvres, je deviens un casse-tête
Ton rire me crie, de te lâcher
Avant de perdre prise, et d’abandonner
Car je ne t’en demanderai jamais autant
Déjà que tu me traites, comme un grand enfant
Nous n’avons plus rien à risquer
A part nos vies qu’on laisse de coté
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort

C’en est assez de ces dédoublements
C’est plus dure à faire, qu’autrement
Car sans rire c’est plus facile de rêver
A ce qu’on ne pourra, jamais plus toucher
On se prend la main, comme des enfants
Le bonheur aux lèvres, un peu naïvement
Et on marche ensemble, d’un pas décidé
Alors que nos têtes nous crient de tout arrêter

Il m’aime encore, et toi tu t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort

Encore, et moi je t’aime un peu plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime pas plus fort

Malgré ça il m’aime encore, et moi je t’aime un plus fort
Mais il m’aime encore, et moi je t’aime un peu plus fort

Lire la suite!

Manhattan-Kabul: Lagu Prancis tentang Konflik Rasisme dan Politik


Akhir-akhir ini ada beberapa lagu menarik yang sering diputar di radio lokal Prancis. Salah satunya yang langsung menyita perhatian saya adalah lagu terbaru Axelle Red, penyanyi bersuara unik, berjudul "Manhattan Kaboul". Memang sih tidak menyinggung-nyinggung tentang Prancis sama sekali, tetapi karena lagu ini dalam bahasa Prancis dan dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi top Prancis (selain Axelle ada Renaud), donc nggak ada salahnya 'kan lagunya saya tampilkan di sini ;).

Selain itu, lirik lagu ini sangat mudah ditangkap, dan ada beberapa kosakata pendek tapi "mengena" yang dapat kalian pelajari untuk menambah perbendaharaan kata. Simak saja deh videoklipnya yang sudah dibubuhi sous-titré alias syair di dalamnya.




Lagu ini sengaja dibuat untuk memperingati tragedi pemboman menara WTC di New York pada bulan September 2001. Ia mengisahkan tentang dua orang muda-mudi, satunya cowok asal Puerto Rico, tinggal di Manhattan, sebuah distrik super padat di New York yang memang dipenuhi para imigran--atau lebih tepatnya "pelarian", dari konflik-konflik yang melanda tanah air mereka. Satunya lagi cewek Afghanistan yang tinggal di Kabul.

Kedua muda-mudi ini berkeluh-kesah tentang peperangan yang tidak pernah berakhir, terutama perang fisik seperti yang terjadi di Afghanistan, bahkan "perang mendadak" yang menimpa New York, negeri yang dianggap tempat merealisasikan impian dan harapan perdamaian. Perang yang mengatasnamakan agama, negara, bangsa. Menurut saya pribadi, lagu ini juga mengandung banyak unsur sindiran terhadap Amerika Serikat ;).

Simak deh terjemahan bebas yang saya buat dari lagu tersebut:

Aku cowok bertubuh kecil dari Puerto-Rico
Sudah menyatu dengan kultur orang New York
Aku tinggal di gedung dari beton dan baja
Aku bekerja, sambil minum coke, atau nongkrong di kafe

Aku si gadis kecil Afghanistan
Di tanah seberang lautan
Aku nggak pernah dengar tentang Manhattan
Keseharianku ya perang dan penderitaan

Dua orang asing di kedua belahan dunia yang berbeda
Orang biasa, bukan orang penting, namun sayang
Terhempas dalam debu di bawah altar pemujaan
Gara-gara konflik yang tak pernah usai

Pesawat 747
Meledak di jendela kerjaku
Langitku yang biru jernih jadi berkabut
Gara-gara bom menghancurkan kotaku

So long! Selamat tinggal mimpiku tentang Amerika
Aku tak lagi menjadi "budak" para jahannam
Yang memaksakan pemerintahan tirani Islam
Apa mereka ini nggak pernah baca Al-Qur'an?

Aku kembali jadi debu tak berarti
Aku takkan menjadi orang penting di sini
Apakah negeri yang sangat kucinta ini,
Akan menjadi ajang bertarung dan pamer besi?

Atas nama Tuhan, atas nama agama
Perang-perang peradaban
Senapan, bendera, tanah air, bangsa
Memanfaatkan kita bak daging dan meriam semata



Lire la suite!

Tentang Zombi dan Voodoo


Kali ini, topik bahasan Parlez Français! agak syerreemm... . Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memperkenalkan kepada kalian tentang salah satu karya sastra dari ranah Frankofon, tepatnya Haiti. Dari situ kalian nantinya akan mengetahui asal-muasal kata "zombi" dan ilmu hitam voodoo (dalam bahasa Prancis disebut le vaudou). Pengarang yang akan saya perkenalkan adalah René Depestre, yang menulis "Mât de Cocagne", atau dalam bahasa Indonesianya sama dengan "Perlombaan Panjat Pinang". Loh, kok?


Perlombaan Panjat Pinang
Hehehe... ternyata perlombaan panjat pinang sudah lumayan mendunia, loh. Buktinya, permainan yang merakyat ini, tidak hanya terdapat di Indonesia saja, tetapi ada pula di Haiti, di beberapa negara kepulauan tropis lainnya seperti Polinesia, Amerika Latin, bahkan merambah hingga ke Eropa, termasuk Prancis. Dan dengar-dengar, asal-muasal permainan panjat pinang itu ya dari Indonesia! Jadi, kita patut bangga toh ;).



Di dalam novelnya René Depestre, dikisahkan seorang mantan senator bernama Henri Postel yang berpartisipasi dalam perlombaan panjat pinang demi melawan kepemimpinan rezim yang tengah berkuasa di Haiti, yang dikomandoi oleh sang diktator Zoochrate Zacharie. Latar periode waktu yang dikisahkan dalam kisah ini adalah tahun 1950-an, yang merupakan gambaran yang sama persis dengan keadaan yang sebenarnya terjadi di Haiti pada tahun-tahun tersebut. Rakyat Haiti hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan, dan salah satu hiburan mereka untuk "melupakan" keadaan tersebut adalah perlombaan tahunan panjat pinang, yang sebenarnya merupakan siasat sang diktator untuk semakin menancapkan kukunya sebagai satu-satunya pemegang tampuk kekuasaan negeri. Perlombaan panjat pinang merupakan sebuah metafora--kiasan--untuk mewakili sebuah kekuasaan yang sulit untuk digulingkan, melalui batang pohon palem (atau pinang) yang dilumuri minyak sehingga membuat para peserta kesulitan untuk mencapai puncak dan berisiko jatuh atau terluka bahkan mungkin mati.

Zombi dan Voodoo


Haiti pada kurun waktu yang sama dipimpin oleh seorang diktator bernama François Duvalier yang memberlakukan proyek "zombifikasi" atau zombification. Artinya, orang-orang yang berusaha melawan rezim yang berkuasa akan ditangkap oleh milisi (tentara) rezim, dan lalu "dicekoki" ramuan yang akan mematikan metabolisme kerja tubuh, sementara raganya tetap hidup. Jadi, mereka menjadi manusia-manusia "robot" yang akan gampang dikontrol semaunya, karena pikiran mereka kosong. Jadi, zombi di sini bukan mayat yang bangkit dari kubur seperti videoklip "Thriller" Michael Jackson ya ;). Ngomong-ngomong tentang ramuan, hal ini berkaitan dengan praktik ilmu voodoo yang sudah menjadi bagian dari tradisi negeri itu. Ilmu voodoo awalnya ditujukan untuk pembersihan jiwa, yang berasal dari praktik ritual rakyat Afrika bercampur dengan ajaran agama Katolik. Para budak belian yang dikirim ke "benua baru" Amerika, banyak yang dibuang ke Kepulauan Domingue--yang kini menjadi Haiti--dan di sanalah mereka mulai menyebarkan ilmu voodoo tersebut. Dalam pelaksanaan ritualnya, ilmu voodoo dipimpin oleh seorang dukun--bisa pria maupun wanita--yang melantunkan sebuah do'a pendek, mirip pantun, dan pada saat yang bersamaan ia membawa berbagai macam pernik seperti ayam jago, daun-daunan, telor, ramuan, yang akan di-"semburkan" ke pasiennya. Sang dukun berfungsi sebagai perantara yang menghubungkan si pasien dengan arwah leluhur.

Tentang Rezim Duvalier dan René Depestre

Duvalier yang di dalam novel diwakili oleh Zoochrate Zacharie, sebelum memegang tampuk kekuasaan merupakan sahabat karib René Depestre dan seorang dokter yang disegani. Namun, karena perbedaan warna kulit: Duvalier berkulit hitam murni, sementara René berdarah campuran (disebut mulâtre), mereka pun menjadi dua kubu yang saling berseteru. Ouais, ternyata tidak hanya di Afrika saja politik rasisme pernah eksis. Tapi bedanya, di Haiti justru orang-orang yang berusaha "dibasmi" adalah yang berdarah campuran seperti René. Saya pikir apa ini merupakan sebuah "upaya balas dendam" terhadap penindasan yang dilakukan orang-orang berkulit putih di seberang benua, ya... . Seperti halnya René, tokoh Postel yang pernah menjadi saingan Zacharie dalam percaturan politik juga berdarah campuran dan keluarga serta para pendukungnya diserang habis-habisan oleh tentara milisi. Lalu, Postel pun "dibuang" ke sebuah kawasan terpencil di kota Port-au-Prince, ibukota Haiti, menjadi penjaga toko kelontong, dan diawasi selama bertahun-tahun.

Novel-novel René Depestre selalu bercerita tentang zombifikasi, penindasan orang-orang berdarah campuran, dan kekalutan politik yang melanda negerinya. Ia pun sempat melarikan diri ke berbagai negara, termasuk Kuba di bawah pemerintahan Fidel Castro. Akhirnya, René mendapat suaka di Prancis sejak tahun 1978 hingga kini bersama keluarganya, dan bekerja untuk UNESCO.

Saya pernah bertanya pada profesor saya, apakah praktik zombifikasi masih terus diterapkan di Haiti? Profesor pun balik bertanya, "ça dépend, tu y crois ou pas?" (tergantung, kamu percaya nggak sama adanya zombifikasi?).

Lire la suite!

janvier 04, 2010

Coco Chanel: Disainer Wanita Pertama di Dunia

Pertama kali saya mendengar nama Coco Chanel adalah sewaktu saya masih kursus bahasa Prancis di CCF Jakarta zaman akhir tahun 90-an. Dari artikel tentangnya yang saya baca, saya jadi ngeh ternyata Coco, panggilan akrab si Chanel, inilah yang pertama kali di dunia menciptakan pakaian two-pieces (atasan blus atau kemeja, dan bawahan celana panjang atau rok) untuk wanita, serta "membebaskan" wanita dari paksaan untuk memakai korset!!


Coco Yang Pantang Menyerah

Coco Chanel bernama asli Gabrielle Bonheur Chanel, dilahirkan di Saumur, Prancis, pada tahun 1883, dari seorang ayah pedagang merangkap tukang jahit serta seorang ibu yang meninggal dalam usia muda. Gabrielle dan adik-adiknya ditelantarkan oleh ayahnya pada usia 15 tahun di sebuah panti asuhan, karena sang ayah ingin mencari peruntungan di "benua baru" Amerika. Tapi Gabrielle tidak terus-terusan bersedih hati, justru sebaliknya ia belajar bahwa ia harus dapat bertahan hidup secara mandiri tanpa ketergantungan pada orang lain; sehingga ketika ia dipekerjakan oleh seorang ibu-ibu penjahit di Moulins, ia pun belajar mengembangkan keahliannya itu dengan sungguh-sungguh.

Selain bekerja sebagai karyawan penjahit di butik, ia juga sesekali menyanyi di sebuah kafe di Vichy yang memperkenalkannya pada dunia pertunjukan, dan seorang pria pengusaha bernama Etienne Balsan. Gabrielle pun diberi julukan "Coco" gara-gara sering menyanyikan lagu karya Baumaine dan Blondelet berjudul Qui a vu Coco dans le Trocadéro?. Sempat tinggal selama setahun di kastil pemuda pemilik peternakan kuda tersebut, ia belajar hidup dan bergaul di kalangan haute-société, namun Coco nyaris putus asa tidak bisa meneruskan hobi menjahit dan meraih cita-citanya karena Etienne tidak pernah terlalu menggubris keinginannya itu. Untungnya, seorang pemuda homme d'affaire alias businessman kaya raya dari Inggris bernama Arthur Capel, yang juga teman Etienne, "melihat" bakat dan impian terpendam Coco, dan lalu memberinya modal untuk membuka sebuah butik di Boulevard Malesherbes, sebuah kawasan elit di Paris. Karya pertamanya, topi-topi bundar berpita segera mencuri perhatian banyak wanita kelas atas, suatu hal yang tidak pernah disangka-sangka Etienne. Sayang banget, memang, karena Coco sudah terlanjur jatuh cinta pada si pemuda Inggris yang lebih sering dipanggil "Boy", Etienne yang sejak awal sudah menaruh hati pada Coco akhirnya harus bertepuk sebelah tangan. Makanya, cowok-cowok, jangan pernah meremehkan harapan dan impian seorang cewek ya untuk membuat dia tertarik pada kalian, hehe...


Butik dan Parfum "Chanel No 5"


Karir Coco pun melaju pesat. Butik demi butik terus dibuka dan Boy selalu mendukung dan memberinya kucuran dana untuk mengembangkan bisnis jahit-menjahitnya itu. Sejak tahun 1915, Coco sudah menciptakan berbagai model pakaian, di antaranya pakaian bergaya sport yang praktis,jersey lorek-lorek biru putih a la pelaut, veste atau rompi berbahan tweed, pakaian santai untuk ke pantai yang longgar dan ringan a la pyjama, gaun cocktail selutut untuk pesta, kemeja beraksen kantong-kantong kecil di kedua sisi (tailleur orné des poches), bahkan gaun malam berwarna hitam tanpa kerah berlengan 3/4. Parfumnya yang paling dikenal publik di seluruh dunia hingga kini, Chanel No.5, tercipta atas inspirasi dari hubungan cintanya dengan seorang bangsawan Rusia, dalam kemasan yang mirip botol vodka. Coco memang banyak menjalin hubungan asmara yang singkat sejak ditinggal mati kekasih sejatinya, Boy, dalam suatu kecelakaan mobil. Selain gandrung pada model-model baju praktis a la Coco, banyak wanita yang juga ingin menjadi kurus seperti dirinya, sampai-sampai muncul istilah "maigres comme Coco" yang artinya kerempeng seperti Coco. Yang jelas Coco bukan korban bulimia-anorexia loh :).

Film-Film Tentang Chanel
Pada dua tahun terakhir ini saya amati sudah ada tiga film yang dibuat mengenai kisah hidupnya. Dua film untuk konsumsi layar lebar yang mengisahkan perjalanan hidup Coco pada masa muda (Coco Avant Chanel, dibintangi Audrey Tautou), dan kisah cintanya dengan seorang pianis Rusia, Igor Stravinsky, tidak lama setelah ditinggal mati Boy (Coco et Igor); satu miniseri untuk konsumsi pemirsa televisi, berjudul Coco Chanel, yang dibuat serta dibintangi oleh sineas dan aktris-aktor Italia! Dari ketiga film itu dapat ditangkap kesan sosok seorang Chanel yang kuat, yang saya rasa dari situlah muncul istilah femme indépendante, alias wanita pede yang mandiri dan tegar yang selalu optimis menghadapi masa depan.



Hingga akhir hidupnya, Coco yang tetap melajang (orang-orang memanggilnya "Mademoiselle Chanel") sudah menghasilkan ratusan jenis dan model pakaian untuk berbagai butiknya yang tersebar di Paris. Ia sempat agak kecewa dengan trend hippie yang melanda dunia pada akhir tahun 1960-an karena menurutnya membuat dunia mode kehilangan prestise dan keanggunannya. Ia meninggal dunia pada usia 87 tahun, dan dikuburkan di Lausanne, Swis.

* foto tailleur en tweed: elle.fr

Lire la suite!

novembre 23, 2009

Master Erasmus Mundus bidang Sastra Eropa (bagian 2)

Banyak yang bertanya pada saya tentang persyaratan untuk mendaftar program Master Erasmus Mundus CLE (Cultures Littéraires Européennes) serta gambaran mengenai mata kuliahnya. Memang, program yang satu ini "agak" berbeda dengan program-program Master Erasmus Mundus lain pada umumnya, namun saya rasa bukan satu-satunya. Selain bidang sastra, program Master Erasmus Mundus di bidang ilmu-ilmu sosial juga memberikan beasiswa untuk bidang filsafat, sastra Jerman, dan kajian feminisme. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ketiga program yang saya sebut terakhir ini, bisa dicek di situs resmi Erasmus Mundus dan klik bagian "Erasmus Mundus Master Courses". Di sini saya jabarkan secara singkat mengenai program Master CLE:


1. Khusus untuk program Master CLE ini, lebih dipentingkan kemampuan bahasa PRANCIS dan (atau) bahasa ITALIA, karena hampir semua mata kuliah diberikan dalam kedua bahasa itu. Buku-buku (roman atau novel) yang harus dibaca pun aslinya dalam kedua bahasa itu, kecuali kalau memang sudah ada beberapa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, misalnya untuk karya para pengarang yang sudah terkenal secara mendunia seperti Victor Hugo, Homer, Dante; namun itu sekedar untuk membantu pemahaman dari bahasa aslinya. Saya rasa kemampuan bahasa Inggris hanya sekedar formalitas, meskipun ada segelintir mata kuliah yang diberikan dalam bahasa Inggris namun tidak untuk semua mahasiswa dan tergantung negara penempatan (seperti Yunani dan Italia yang memberikan mata kuliah Sastra Inggris). Untuk penempatan di negara Yunani, diperlukan setidaknya kemampuan dasar bahasa Yunani Modern (dan untuk itu diberikan mata kuliah tambahan bahasa Yunani selama 2 semester untuk para mahasiswa yang tahun sebelumnya memilih Prancis; sedangkan di Italia para mahasiswa diberikan alamat di mana mereka dapat mendaftar kursus bahasa Yunani karena Università di Bologna tidak menyelenggarakan mata kuliah tambahan bahasa Yunani). Selain itu, meskipun nantinya diberikan mata kuliah khusus bahasa untuk memperdalam kemampuan berbahasa, namun disarankan untuk sudah mempunyai kemampuan berbahasa yang cukup baik bahasa Prancis maupun Italia, agar tidak terlalu kesulitan dan ketinggalan dalam mengikuti perkuliahan lainnya.

2. Tidak diperlukan korespondensi terlebih dahulu dengan profesor atau dosen di negara konsorsium untuk mendapatkan surat rekomendasi (program ini tidak seperti program beasiswa pemerintah Prancis-BGF, yang menyarankan untuk berkomunikasi dengan calon dosen/profesor pembimbing). Surat rekomendasi yang diperlukan adalah surat yang ditulis oleh profesor atau dosen dari program S1.

3. Sistem penilaian yang diberikan tergantung negara setempat. Untuk Prancis, ada ujian secara tertulis dan (atau) lisan serta presentasi paper secara lisan di depan kelas. Untuk Italia, hampir semua mata kuliah mewajibkan ujian secara lisan; kalaupun a
da ujian tertulis semata-mata untuk membantu 'menaikkan' nilai apabila hasil ujian lisan tidak dianggap memuaskan, namun harap diingat tidak semua dosen mau memberikan ujian tertulis. Selain itu di Italia juga tidak ada pemberian tugas-tugas menulis paper di luar ujian tertulis.

Oke, saya rasa itu dulu. Jangan lupa, batas akhir pendaftaran untuk seleksi tahun ajaran 2010/2012 adalah sebelum 20 Desember 2009 (untuk pengiriman dokumen via e-mail) dan sebelum 10 Januari 2010 (untuk pengiriman dokumen melalui pos). Dua cara pengiriman ini wajib dilakukan, baik melalui e-mail dan pos, d'accord? Selamat mendaftar, semoga sukses!

Salam dari Strasbourg!

PS: Untuk pertanyaan mohon langsung diklik bagian "Comments" supaya yang lainnya juga dapat turut membacanya. Merci!

Lire la suite!

octobre 23, 2009

Kuliah Master (S2) Sastra Eropa Erasmus Mundus

Pastinya banyak teman-teman yang bertanya ke mana saya pergi selama ini, tiba-tiba kok blog Parlez Français! nggak aktif selama lebih dari satu tahun. Kalau ada di antara kalian yang mengira saya sedang sibuk "menggali ilmu", itu memang betul. Ouais, sejak September 2008 saya menempuh pendidikan S2 atau setingkat Master dalam bidang kultur "nyastra"-nya masyarakat Eropa. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis menjadi Cultures Littéraires Européennes (jadi bukan budaya literasi ya, bedakan antara 'literasi' dengan 'literer'). Literasi bermakna baca-tulis, sedangkan literer artinya ya sastra. Memang nggak mudah mengelola blog secara individual, artinya tanpa bantuan baik teknis maupun naskah dari orang lain, tetapi itu yang ingin saya pertahankan sejak awal, menjaga ciri khas nuansa Prancis dalam bahasa yang mudah dimengerti pembaca Indonesia, supaya teman-teman yang tertarik dengan Prancis--dalam apapun bentuknya--akan menemukan bahwa belajar bahasa dan budaya Prancis itu 'nggak sulit dijangkau', nggak eksklusif, bisa dilakukan oleh siapa pun. Mungkin jika suatu hari nanti saya menemukan orang yang dapat memahami maksud saya itu, boleh-boleh saja membantu saya mengelola blog ini ;).



Master en Cultures Littéraires Européennes


Saya akan sedikit bercerita tentang kuliah yang sedang saya jalankan saat ini. Program Master en Cultures Littéraires Européennes (selanjutnya saya singkat menjadi Master CLE) sebenarnya dikoordinir oleh Universitas Bologna yang berlokasi di kota Bologna, Italia. Nah loh, programnya berbau-bau Prancis tapi penyelenggaranya Italia? Pasti pertanyaan itu akan terlintas di pikiran teman-teman :). Mais c'est vrai! Bernaung di bawah Jurusan Departemen Bahasa dan Susastra Asing Modern, program Master CLE sendiri sudah ada sejak lama; namun ia baru membuka kesempatan bagi para calon mahasiswa asing non-Uni Eropa sejak tahun 2008 (yaitu sejak angkatan saya!) dengan nama Master Erasmus Mundus CLE (saya singkat jadi Master EM CLE). Bedanya antara Master CLE dengan Master EM CLE adalah pada program perkuliahan dan programme de mobilité, alias pindah-pindah negara. Para mahasiswa Master EM CLE dapat melakukan mobilitas ke dua hingga tiga negara di kawasan Uni Eropa, yaitu Italia, Prancis dan Yunani. Di Prancis sendiri ada dua universitas yang diikutsertakan dalam program mobilitas Master EM CLE ini, yaitu Université de Haute-Alsace yang terletak di kota Mulhouse, dan Université de Strasbourg yang berlokasi di kota Strasbourg.


Program kuliahnya sendiri, yang jelas didominasi oleh mata kuliah-mata kuliah yang "berbau-bau" sastra. Tapi.... belajar sastra juga nggak lepas dari belajar sejarah dan filsafat, loh. Ketiga hal yang--mungkin di Indonesia sendiri--dianggap kurang penting, namun di sini sudah menjadi "akar" dari cara hidup dan cara berpikir mereka sehari-hari. Donc, selain mata kuliah sastra itu sendiri, yang dibagi lagi ke dalam beberapa cabang mata kuliah sastra menurut rentang zaman atau periode--misalnya sastra Abad Pertengahan, sastra Abad Renaissans, sastra Kontemporer; dan dibagi menurut negara--sewaktu di Italia saya belajar Sastra Italia dan Sastra Jerman; ada juga mata-mata kuliah lainnya yang "wajib" diikuti, seperti Sejarah Eropa Modern (Eropa Modern yang dimaksud bukan Eropa abad ke-20 ya, tetapi abad di mana Eropa mengalami kebangkitan dari periode kegelapan dari Abad Pertengahan atau Moyen-Âge hingga Eropa terbagi ke dalam beberapa negara besar seperti yang ada sekarang ini), dan kuliah bahasa. Dalam kuliah sastra itu sendiri kita juga sebaiknya mengetahui konteks filosofis, historis dan novel-novel yang terkait pada masa itu, karena nggak jarang sang penulis menyebut-nyebut tentang émigration, misalnya, yang bukan sembarang emigrasi melainkan periode "bedol desa"-nya keluarga raja dan bangsawan Prancis keluar Prancis setelah Revolusi Prancis tahun 1789; atau beckettien, contoh lain, untuk menyebut gaya penulisan khas Samuel Beckett, sastrawan awal abad ke-20 asal Irlandia yang bermukim di Prancis dan terkenal dengan salah satu karya teaternya berjudul En Attendant Godot--Menunggu Godot. Nah.. moga-moga nggak pusing duluan ya membaca gambaran dari saya :).


Bahasa ajar yang digunakan dalam perkuliahan program Master EM CLE mengikuti negara setempat. Jadi kalau Universitas Bologna yang dipilih, ya bahasa ajarnya menggunakan bahasa Italia, dan sebaliknya di Prancis atau di Yunani. Bagaimana pun, untuk mata kuliah yang ada "embel-embel" Prancis atau Italia, bahasa ajarnya menggunakan bahasa "embel-embel" tersebut. Jadi sewaktu saya berada di Bologna, ada mata kuliah letteratura francese namun materi dan bahasa yang digunakan di kelas dalam bahasa Prancis. Untungnya (atau sayangnya?), untuk mata kuliah Sastra Jerman di mana kami membahas tentang Faust-nya Goethe menggunakan bahasa Italia! Yah, soalnya saya nggak bisa bahasa Jerman, tapi bahasa Italia saya juga masih setengah-setengah pada saat itu.



Erasmus Mundus


Mengenai beasiswa Erasmus Mundus--saya singkat menjadi EM--sendiri, saya nggak akan bercerita banyak karena ada blog salah satu penerima beasiswa EM asal Indonesia yang membahas lebih lengkap mengenai program tersebut (silahkan berkunjung ke sini: Erasmus Mundus Indonesia). Beasiswa Erasmus Mundus ini merupakan salah satu dari sekian banyak program dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga Uni Eropa yang pada periode pertama ditujukan khusus untuk para calon mahasiswa dari negara non-Uni Eropa. Oya, informasi komplit tentang beasiswa Erasmus Mundus juga dapat kalian baca di situs resminya sini: Erasmus Mundus 2009-2013.


Kalau penasaran dengan istilah Erasmus Mundus, sebenarnya kata itu diambil dari bahasa Latin. Erasmus sendiri adalah tokoh intelektual humanis asal Belanda, bernama lengkap Desiderius Erasmus de Rotterdam yang eksis pada sekitar abad ke-16, yaitu masa dimulainya periode Renaissans (dalam bahasa Prancis disebut Renaissance). Sedangkan Mundus bermakna "dunia"). Entah kenapa istilah itu yang diambil, mungkin dengan misi ingin membangkitkan kembali periode humanisme Eropa di mana manusia haus akan ilmu pengetahuan dan berkembang menjadi pribadi-pribadi intelek, tapi kali ini manusia dalam ambiance mondiale, alias dari seluruh dunia.


Bon, d'accord, c'est tout pour aujourd'hui. J'espère que ces informations vous seront utiles. A très bientôt!



Lire la suite!

Revenante!

Après plus d'une année d'absence

Après une longue période d'invisibilité
Me voilà de retour!
Commençons donc une nouvelle histoire!
Setelah satu tahun absen
Setelah lama menghilang
Saya kembali lagi
Mari kita mulai lembaran cerita baru!

Lire la suite!