novembre 13, 2012
Pameran Pendidikan Tinggi Eropa 2012
Ternyata, meskipun saya tiba di sana pada pukul 4 sore dan hari itu adalah hari terakhir, serta hujan deras menyapu seluruh Jakarta, pameran yang berlangsung di Thamrin Nine Ballroom Plaza UOB itu tetap saja ramai! Negara Prancis sendiri memboyong delapan institusi pendidikan mulai dari universitas publik, grande école hingga lembaga pendidikan swasta bergengsi seperti Le Cordon Bleu.
Lazimnya sebuah pameran pendidikan, sebagian besar pengunjung stand CampusFrance-IFI menanyakan adanya kemungkinan beasiswa. Teman-teman dapat merujuk ke situs ini untuk informasi lebih lengkap mengenai beasiswa untuk studi ke Prancis: Beasiswa ke Prancis. Yang perlu dicatat, pemerintah Prancis tidak lagi membuka program Bourse de Gouvernement Français (BGF) untuk umum seperti pada tahun-tahun sebelumnya, melainkan melalui program kerjasama dengan pemerintah Indonesia melalui program Beasiswa Unggulan DIKNAS dan Beasiswa DIKTI.
Yang menarik--sebetulnya tidak begitu penting, sih :D, akhirnya saya dapat bertatap muka langsung dan berbicara dengan salah seorang perwakilan Université de La Rochelle, yaitu Bapak Philippe Grangé. Mengapa menarik, karena selama ini saya dengan beliau pernah beberapa kali berkirim e-mail baik itu mengenai rencana saya untuk lanjut S3 maupun urusan yang berkaitan dengan kantor saya terdahulu di sebuah konsultan pendidikan swasta. Universitas tempat beliau mengajar ini sudah banyak mengadakan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti UI, ITB, UNPAD, UNDIP, UGM, UNS. Universitas ini juga menyelenggarakan kajian Asia-Pasifik, dan membuka kelas pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur Prancis. Bapak Philippe Grangé sendiri sangat mahir berbahasa Indonesia, dan beliau pernah membuat penelitian tentang bahasa dan kebudayaan suku Bajo di Sulawesi. Bahkan brosur Universitas ini dibuat dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan pemberian informasi kepada para calon mahasiswa dari Indonesia.
Alors, bon courage, mes amis! Lire la suite!
at
15:35
0
comments
Labels: beasiswa, Eropa, étudier en France
Studi Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Sciences-Po
Beberapa waktu yang lalu, yaitu pada sekitar pertengahan bulan Oktober 2012, Bapak Alessandro Mariani--seperti nama Italia yah :D--perwakilan dari Sciences-Po memberikan presentasi di IFI (Institut Français d'Indonésie) cabang Wijaya. Kalau dilihat dari kualitas institusi ini, yang terbayang adalah seleksinya yang ketat dan masa kuliah yang harus dijalani tidak boleh main-main. Memang benar, sih, untuk dapat diterima program S1-nya saja, selain ada seleksi dokumen, juga ada tes tertulis dan wawancara yang dilakukan di beberapa kota yang dipilih oleh lembaga ini di seluruh dunia. Begitu pula untuk program S2-nya. Tetapi, sekalinya teman-teman lulus dengan memuaskan dari Sciences-Po, teman-teman tidak akan kembali lagi deh ke Indonesia :). Eh, maksudnya, langsung ditawari pekerjaan di mana pun di seluruh dunia. Mau di Prancis, di Inggris, di Amrik, waouh... c'est parfait!
Nah, bagaimana dengan biayanya? Seperti yang sudah saya katakan, karena Sciences-Po merupakan institusi pendidikan semi-swasta, maka biaya kuliahnya dapat mencapai 9000-an Euro pertahun. Tetapiiii... tentu saja ia menawarkan program beasiswa yang seleksinya lumayan kompetitif: Emile Boutmy scholarship untuk program S1 dan S2, dengan materi berupa wawancara 30 menit mengenai wawasan umum yang kita miliki dan analisis artikel ilmiah. Selain dari beasiswa yang ditawarkan institusi tersebut, teman-teman dapat juga mencari alternatif beasiswa melalui Eiffel scholarship program atau beasiswa Dikti dari Depdiknas.
Oya, kelebihan Sciences-Po ini dia mempunyai tujuh kampus di tujuh kota yang tersebar di Prancis bagian utara dan tengah, sesuai peminatan penjurusan secara geografis. Jadi nih, misalnya teman-teman mau mempelajari kerjasama sosial-politik Eropa dengan Asia, maka teman-teman akan belajar di kampus Le Havre. Kalau teman-teman ingin belajar di kampusnya yang di Paris, maka teman-teman sebaiknya memilih peminatan hubungan internasional Eropa-Afrika. Selain kedua peminatan geografis di atas, ada juga peminatan studi Eropa-Amerika Latin di Poitiers, studi Eropa Timur dan Eropa Tengah di kampus Dijon, Eropa-Amerika Utara di Reims, Prancis-Jerman di Nancy, Timur Tengah-Mediterania di Menton.
Kalau teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang Sciences-Po, baik itu tentang persyaratannya, program studi yang ditawarkan, kemungkinan untuk magang di luar negeri bisa diklik pada tautan berikut: Sciences-Po. Lire la suite!
at
11:55
0
comments
Labels: beasiswa, Eropa, étudier en France
octobre 21, 2012
Kuliah di Eropa dengan Beasiswa Erasmus Mundus? Bisa!
Belajar di Eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus merupakan kesempatan untuk merasakan bagaimana hidup mandiri di Eropa, jalan-jalan dan bertemu teman-teman baru serta mengalami berbagai suka-duka sebagai pelajar perantauan di negeri asing. Di buku ini, tidak hanya mengenai proses bagaimana kami mendapatkan beasiswa yang bergengsi itu, melainkan kami juga akan membawa Anda menjelajahi cerita-cerita seru yang kami alami setiap harinya.
Mulai dari pengalaman bersosialisasi yang menyebalkan dengan sesama mahasiswa Indonesia sendiri, menghadapi sistem perkuliahan yang sangat konservatif di negerinya mendiang Mussolini, makan tiram hidup-hidup!, menyetir di kursi kemudi yang berbeda dengan di Indonesia, menyaksikan pertandingan bola di Milan dengan David Beckham sebagai bintangnya, melakukan ekspedisi a la Magellan, mencicipi Churros, hingga bertemu dengan mantan sekjen PBB.
Semua kisah itu bisa Anda nikmati dalam buku ini, senikmat melahap nasi komplit dengan lauk-pauknya. Buku ini akan menjadi inspirasi Anda!
Berminat? Pemesanan dilayani secara online pada tautan berikut: http://nulisbuku.com/books/view/beasiswa-erasmus-mundus-the-stories-behind Lire la suite!
at
17:29
0
comments
Labels: beasiswa, erasmus mundus, Eropa, étudier en France
octobre 07, 2012
Charlie Hebdo dan Tradisi Satire di Prancis
Membaca berita di VOA tentang penutupan berbagai instansi yang bernaung di bawah pemerintah Prancis pada bulan September yang lalu(baca di sini: Antisipasi Demo Terkait Karikatur), saya jadi teringat pada institusi tempat saya mengajar bahasa Prancis. Sama halnya dengan di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Muslim, perwakilan pemerintah Prancis di Indonesia pun secara mendadak menutup semua instansi, termasuk institusi tempat saya mengajar tersebut, selama 4 hari! Libur total, blas!!
Antara senang dan kaget--senang karena lumayan libur empat hari, kaget karena koq mendadak sekali keputusannya sehingga para kolega saya di kesekretariatan mendadak pontang-panting menelepon para murid satu-persatu untuk memberitahukan perihal libur tersebut--saya pun jadi bertanya-tanya. Apa yang membuat Prancis jadi begitu parno, a.k.a paranoid? Seingat saya, beberapa tahun yang lalu ketika peristiwa serupa--bahwa tokoh yang dianggap suci oleh umat Islam dijadikan bahan lelucon kartun dalam sebuah surat kabar di Swedia, kayaknya semua berjalan aman-aman saja. Entah ya, apa saya masih di Eropa pada waktu kejadian itu, saya sendiri sudah lupa. Yang jelas, dengan adanya peristiwa penutupan tersebut, membuat saya tergerak untuk mencari tahu tabloid macam apa sih si Charlie Hebdo ini. Saya sendiri selama tinggal di Prancis sayangnya tidak pernah menyentuh tabloid satire semacam itu, jadi sekarang saya berusaha mencoba mengulik sendiri dengan bantuan internet dan teman-teman di Prancis.
Charlie Hebdo, artinya surat kabar ini terbit secara mingguan (dalam bahasa Prancis hebdomadaire), sudah sering mengalami pasang-surut, jatuh-bangun
sejak pertama kali diterbitkan pada bulan Oktober tahun 1960. Mengapa jatuh-bangun? Surat kabar ini pernah mengalami kebangkrutan ekonomi karena manajemen yang carut-marut pda tahun 1980. Sebelumnya, surat kabar yang kini bertiras 150 ribu eksemplar diberi nama Hara-Kiri dan diterbitkan secara bulanan. Dari namanya saja yang kontroversial (ya, Hara-Kiri kan artinya bunuh diri dalam bahasa Jepang, tho?), surat kabar ini memang mengkhususkan pemberitaan yang bersifat menyindir (istilahnya dalam bahasa Prancis disebut 'satire'), terutama hal-hal yang berkaitan dengan politik, ideologi, agama. Hal-hal yang memang sensitif, artinya yah.. yang sangat mungkin dapat menggerakkan massa sebagai konsekuensinya.
Namun, tradisi satire terhadap politik dan agama bukanlah hal yang baru di Prancis. Selain karakter mereka yang doyan berdebat dalam hal-hal intelektualitas--makanya ada istilah la tête bien faite--sejak bersikap apatis terhadap pemerintahan monarki absolut yang diwariskan Louis XIV karena malahan membawa mereka kepada krisis ekonomi, kalangan intelektual Prancis yang rata-rata berasal dari golongan borjuis ataupun rakyat jelata mulai berani mempublikasikan selebaran-selebaran yang berisi cemoohan terhadap keluarga kerajaan. Golongan yang apatis ini dijuluki golongan 'kiri' yang mewakili para pendukung Revolusi Prancis. Golongan ini juga memperjuangkan pemisahan yang tegas antara Agama dan Negara, karena Agama yang waktu itu diwakili oleh para pendeta Katolik telah dicampuradukkan dengan kekuasaan. Nah, di zaman sekarang, Charlie Hebdo disebut-sebut sebagai perwakilan sayap kiri anti-konformis tersebut. Menurut sang editornya, Stéphane Charbonnier, surat kabar yang dipimpinnya itu memang menampilkan berbagai anekdot, lelucon, polemik dari sudut pandang kalangan pluralis termasuk para golput. Teman saya sendiri yang asli Prancis bilang, Charlie Hebdo memang merupakan surat kabar yang sangat radikal di Prancis. Selain itu, ada Minute dan Le Canard Enchaîné (yang kalau diartikan secara harfiah, bebek yang dirantai).
Tradisi 'sindir-menyindir' itulah yang sayangnya kebablasan. Meskipun Prancis menganut sistem kebebasan pers seperti di Amerika dan sekularisme yang dikenal dengan istilah laïcité, seharusnya negeri ini--paling tidak para pembuat kartun itu--perlu mempertimbangkan umat Islam di Prancis yang jumlahnya kedua terbesar di sana setelah Katolik. Menurut harian online LeFigaro, jumlahnya pada tahun 2011 adalah sebesar 7,5% dari jumlah total populasi Prancis atau 4,5 juta jiwa. Populasi ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 10% pada tahun 2030. (Baca ini: La Population musulmane en forte progression). Keberadaan mereka secara turun-temurun sejak tenaga mereka dibutuhkan oleh pemerintah Prancis untuk pembangunan kembali infrastruktur negeri itu yang sempat hancur pasca Perang Dunia Kedua juga tidak bisa disingkirkan begitu saja. Selama tinggal di sana, saya merasa nyaman dengan prinsip sekularisme karena mereka tidak mempedulikan urusan pribadi setiap individu dengan Tuhan. Yang saya sesalkan justru sikap 'la tête bien faite' segelintir orang-orangnya yang terkadang malah terkesan agak chauvinist, xenophobic, arogan, terutama terhadap orang-orang non-Prancis, non-bule, walaupun itu lebih ke sikap personal. Entahlah, mungkin karena saya berada di jurusan sastra yang dikenal sebagai lahirnya para pemikir dan kalangan intelektual yang kritis. Jacques Chirac yang pada waktu kasus polemik kartun pertama masih menjabat sebagai presiden dan mewakili kalangan demokrat, sempat memberikan peringatan bahwa siapa pun yang menyinggung keyakinan seseorang, terutama keyakinan agama, sepantasnya dihindari. Karena sikap semacam ini justru seperti menerobos batas prinsip laïcité itu sendiri.
Dalam menghadapi sikap semacam ini, sebaiknya umat Islam, atau siapa pun itu yang sempat disindir baik oleh Charlie Hebdo maupun disikapi secara arogan oleh para chauvinist dan xenophobic, menghadapinya juga dengan cara yang intelek. Seperti yang sudah kita ketahui bersama dari ulasan saya di atas, bahwa perilaku satire (dalam bahasa Prancis disebut 'satirique') sudah menjadi tradisi sejak zaman menjelang revolusi, maka sikap yang paling pantas dalam menghadapi hal demikian juga balik menyindir mereka. Tentunya dengan cara yang sama-sama intelek. Seperti yang dilakukan sebuah surat kabar di Mesir dengan judul "Fight Cartoons by Cartoons". Kita tunjukkan bahwa kita juga mempunyai 'la tête bien faite', kata lain untuk 'homme instruit' atau manusia yang berpendidikan.
Kendati pun telah mendapat kecaman dan reaksi keras di berbagai penjuru dunia, Charlie Hebdo dengan berani malahan membuat petisi yang mengklaim hak kebebasan berekspresi. Surat kabar itu, menurut pengakuannya, juga berhak menyindir Sri Paus, Yesus, Nabi Musa, Budha, bahkan bila perlu mertua kita yang menyebalkan. Petisinya bisa dilihat di sini: Petition for Supporting Charlie Hebdo.
Pastinya, libur mendadak selama empat hari pada bulan September yang lalu itu, bisa dianggap rejeki bagi yang merindukan liburan, tetapi juga kemalangan karena mereka yang mempunyai kelas pada hari-hari yang diliburkan itu pun 'terpaksa' tertunda dulu rejeki hariannya, alias gaji ;).
Sumber:
1. Charlie Hebdo www.charliehebdo.fr
2. Charlie Hebdo and its place in French journalism oleh Hugh Schofield, BBC News
3. Le Figaro: La population musulmane en forte progression
4. Al-Arabiya News: Egyptian newspaper uses cartoons to strike back on anti-Islam campaign
5. Wikipedia: Charlie Hebdo
at
18:34
0
comments
juin 27, 2012
Kursus Privat Bahasa Prancis dan Bahasa Asing Lainnya
DIS-MARS! Menawarkan guru-guru privat untuk kursus bahasa-bahasa asing berikut:
Prancis, Italia, Spanyol, Portugis, Jerman, Inggris
Program-program kursus yang ditawarkan ada kursus REGULAR, CONVERSATION, DELF / TOEFL Preparation.
Untuk informasi lebih jelas bisa di-cliquer di tautan berikut: DIS-MARS!
at
04:49
0
comments
Labels: cours de français, cours de langue







